Alexander Rusli : Indonesia Membutuhkan Banyak Developer Lokal

Alexander Rusli, Presiden Direktur & CEO Indosat Ooredoo (Foto: Fahrul Anwar/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Masyarakat digital Indonesia terus bertumbuh. Hal itu dibuktikan dengan lahirnya para inovator muda berbakat di bidang aplikasi mobile. Tentunya, diperlukan komitmen dari berbagai pihak untuk mendukungnya.

Salah satunya seperti yang dilakukan PT Indosat Ooredoo, yang memiliki program Indosat Ooredoo Wireless Innovation (IWIC). Ini adalah ajang kompetisi inovasi teknologi di bidang mobile/wireless yang diselenggarakan oleh Indosat Ooredoo bagi seluruh generasi muda Indonesia secara nasional.

Hebatnya, sebagai bagian dari program corporate social responsibility (CSR), kegiatan IWIC ini telah memasuki usia ke-10. Kompetisi IWIC telah dihelat jauh sebelum tren mobile apps dan startup muncul di Indonesia.

Peserta IWIC pun terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Sebagai perbandingan pada tahun 2013 ajang ini hanya diikuti 667 proposal ide, kemudian pada tahun 2014 menjadi 1.738. Lalu, pada tahun 2015 IWIC menerima 3.173 proposal. Dan tahun 2016 masuk 3.592 proposal. Total proposal ide yang telah diterima IWIC selama 10 tahun mencapai 10.703. Peningkatan ini menunjukkan pesatnya pertumbuhan developer muda di Indonesia.

Bahkan, pada penyelenggaraan yang ke-10 ini, Indosat Ooredoo telah membawa kompetisi IWIC ke pentas global. Bertema #changetheworld, Indosat mengajak para generasi muda Indonesia berkompetisi dengan developer di tingkat global. Selain dari Indonesia, IWIC 10 juga diikuti oleh peserta dari sejumlah negara, seperti Jepang, Filipina, dan Myanmar.

Bagaimana perkembangan IWIC ini, dan bagaimana kelanjutannya ke depan? Wartawan Youngsters.id Stevy Widia dan Fahrul Anwar, berkesempatan mewawancarai Presiden Direktur & CEO Indosat Ooredoo Alexander Rusli mengenai program IWIC, dan upaya operator ini untuk mewujudkan program pemerintah menjadikan Indonesia sebagai pemain ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara pada 2020. Berikut petikan wawancaranya :

IWIC sudah berlangsung selama 10 tahun. Apa yang ingin dicapai pada penyelenggaran ke-10 ini?

IWIC merupakan salah satu program penting kami sebagai bagian dari komitmen membangun ekosistem digital Indonesia. Lahirnya para developer muda dengan karya aplikasi mobile lokal yang baru, spektakuler dan bernilai manfaat tinggi akan memperkaya dunia digital Indonesia.

Ini murni program CSR, tetapi program yang dikerjakan di Indonesia ini menjadi program yang berkelanjutan. Karena kami percaya kalau program baru setahun atau dua tahun orang belum sempat dengar.

Tahun 2006 dulu belum kebayang kita akan menjadi dunia digital seperti sekarang. Pencapaian yang paling kongkrit terlihat adalah orang-orang jebolan IWIC itu bekerja di all the top company yang ada di Indonesia. Kelihatan yang ikut di tahun 2006/2007 sekarang menjadi “barang” jadi semua. Ya kami Alhamdullilah ikut berkontribusi membentuk mereka, membentuk ekosistem. Setiap kita bikin acara, mereka diundang menjadi pembicara, mereka juga senang. Yang mendengar juga wow ingin jadi seperti dia. Contohnya Ahmad Zaki, founder Bukalapak, dulu adalah pemenang IWIC 2006.

Apa tujuan dari program IWIC ini?

Indonesia membutuhkan developer lokal. Kita tidak bisa selamanya mengandalkan aplikasi dari luar. Sebab developer lokal yang lebih mengerti masalah orang Indonesia dan bisa membuat aplikasi solusi untuk menyelesaikannya. Kami yakin IWIC akan mampu menjadi salah satu langkah awal bagi generasi muda dalam pengembangan ide-ide terkait dunia digital agar mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

Mengapa pengkategorian IWIC selalu berubah setiap tahun?

Pengkategorian selalu berubah itu untuk mencari celah mana yang masih kosong untuk diisi. Itu tugas kita setiap tahun untuk mencari celah yang perlu diajak. Tahun lalu ada kategori perempuan, tetapi kita merasa masih belum banyak pesertanya, makanya diadakan lagi tahun ini.

Mengapa IWIC membuat kategori khusus untuk wanita?

Salah satu pilar dari program-program CSR kami adalah mampu meningkatkan jumlah wanita yang terhubung dengan internet dan tahun ini kami mendapatkan peningkatan angka peserta wanita yang cukup signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya

Intinya kami ingin mendorong peranan perempuan dalam program ini. Karena setiap orang kami percaya membawa latar belakang sendiri. Buktinya banyak developer perempuan yang ikut di program IWIC memberikan pemecahan masalah seputar rumah tangga seperti masalah gardening, masalah pembantu, masalah cuci. Masalah dalam kehidupan kita setiap hari itu, dari A sampai Z. Ada masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh laki-laki. Butuh semua pihak untuk memberi kontribusi masing-masing.

Nantinya mereka bisa berkolaborasi. Misalnya perempaun yang bawa ide, developer-nya laki-laki. Yang penting semua terekspose solusi untuk masalah sehari-hari. Memang tidak semua menjadi super besar, ada juga yang mungkin sedang tapi profitable. Contoh UKM, mereka tidak menjadi billion company, tetapi untung dalam sebulan Rp 100 – 200 juta. It’s good for a lot of people. Staf hanya lima orang, make money Rp 200 juta. Itu margin yang besar.

Pada penyelenggaran ke-10, kompetisi ini melibatkan para developer tingkat global?

Harapan kami dapat meningkatkan daya saing talenta lokal agar mampu bersaing di tingkat global. Ini merupakan kesempatan bagi generasi muda untuk menunjukkan kemampuan mereka di pentas global, sekaligus menciptakan aplikasi berkualitas buat bangsa dan masyarakat Indonesia.

Kita juga butuh ada benchmark. Misalnya, peserta dari Jepang menempati juara dua. Yang nomor satu, bangga dia bisa mengalahkan peserta dari luar. Jadi apa yang dikerjakan, seperti aplikasi, tidak kalah dengan buatan orang luar. Dengan begitu dia jadi bisa confidence.

Ke depan, akan lebih banyak lagi peserta luar yang ikut. Tujuannya memang untuk pengembangan aplikasi di sini, tapi jangan sampai mereka merasa jago di Indonesia saja. Itu bahaya. Dengan adanya kompetisi dari luar, maka mereka merasa bisa lebih baik.

Apa hal yang menjadi tantangan program ini?

Tantangan besar sebenarnya sudah lewat, karena sekarang sudah banyak program serupa. Sebenarnya ini program bersama. Program sudah bergulir dengan semua pihak bekerja. Ada satu perempuan yang ikut ajang serupa dari Bekraf di Surabaya dan ikut lagi IWICsekarang, dan menang. Ajang-ajang seperti ini membuat mereka jadi lebih bagus lagi, lebih jago lagi. Itu tujuan kami. Kalau mereka buat aplikasi itu hidupnya di atas jaringan kita juga. Itu harapan kami.

 

Alexander Rusli: Indonesia Membutuhkan Banyak Developer Lokal (Foto: Fahrul Anwar/Youngsters.id)
Alexander Rusli: Indonesia Membutuhkan Banyak Developer Lokal (Foto: Fahrul Anwar/Youngsters.id)

 

Apa ada langkah lanjutan bagi para pemenang di ajang IWIC ini?

Untuk IWIC memang tahapannya hanya sampai di sini saja, karena ini murni CSR. Menang ya sudah dapat Rp 25 juta. Untuk program ini memang yang dicari tahapan anak-anak sekolah, dengan tambahan kategori developer women dan disable.

Tetapi kami juga memiliki program inkubator hingga mendapatkan dana. Jadi dimulai dari tahap seperti sekarang ini: ide. Selanjutnya ide itu dibuat lebih matang lagi, menjadi bisnis yang berkembang. Dan tahap ketiga, beroleh funding untuk jadi besar.

Belum tentu pemenang IWIC kerja sama dengan kami, karena opsi sudah banyak. Di sini memang terbuka, mereka jadi ya Alhamdulillah.

Apakah semua pemenang IWIC akan dibawa ke tahap pengembangan ide dan bisnis?

Kita tidak memaksa mereka. Ada yang siap dibawa ke langkah selanjutnya, yaitu program Ideabox. Di sini mereka ikut dalam program di tempat kami selama 3-6 bulan. Mendapatkan pelatihan, coaching, sampai itu menjadi bisnis dibantu dibuat menjadi perusahaan. Mereka mendaftar sendiri dan diseleksi.

Di sini, kami mau apa yang mereka kerjakan itu sukses. Indosat bisa menjadi tempat mereka untuk market yang pertama. Kita punya 80 juta lebih pelanggan, mereka bisa tes ide di sini.  Easiest testing ekosistem.

Sebetulnya Ideabox itu terbatas. Satu batch cuma 6 tim. Saya terlibat di situ. Waktu tidak banyak, tetapi kita mau semua yang masuk itu sukses dan lahir menjadi perusahaan. Contohnya Dealoka.

Apa keuntungan bagi peserta program inkubator dan funding?

Program inkubator ini baru berjalan tiga tahun terakhir ini. Di Ideabox kami melihat mana yang benar-benar bisa jadi bisnis. Mereka akan dengan mudah menawarkan sesuatu ke pelanggan Indosat. Kami berharap mereka hidup sebagai apps company. Dan di tahap berikut fund kami berharap sudah make money. Itupun kami hanya mengambil saham tak lebih dari 1% – 1,5%.

Apakah program ini akan terus berlanjut di masa yang akan datang?

Kami beharap IWIC akan terus berkembang demi mewujudkan program pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai pemain Ekonomi Digital terbesar di Asia Tenggara pada tahun 2020. Kami yakin IWIC akan mampu menjadi salah satu langkah awal bagi generasi muda dalam pengembangan ide-ide terkait dunia digital agar mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY