Romy Fauzan Fauzi : Rebut Pasar Lokal Dengan Kearifan Lokal

Romy Fauzan Fauzi, Founder & CEO Milkish Game Studio (Foto: Fahrul Anwar/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Belakangan ini perkembangan industri game di Indonesia terus meningkat. Tentunya, hal ini sangat berpengaruh terhadap para game developer maupun game publisher. Mereka pun berlomba merebut pasar.

Pasar game di Indonesia memang sangat besar. Google App Usage Studi 2016 menyatakan, aplikasi game merupakan aplikasi yang paling banyak diunduh dan dicanggokkan ke dalam perangkat bergerak (mobile) pengguna. Jumlahnya secara persentase melampaui kebutuhan aplikasi jejaring sosial, komunikasi dan pengiriman pesan, transportasi, pendidikan, belanja, keuangan, gaya hidup, hiburan hingga produktivitas kerja.

Tren ini yang membuat para pengembang game memproduksi game pada perangkat mobile. Mereka juga mencoba meraih pasar lokal dengan beragam cara. Antara lain dengan memasukkan unsur kearifan lokal ke dalam game. Mulai dari bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia hingga bahasa daerah tertentu.

Ada juga dengan menggunakan kuliner khas Indonesia, seperti yang dilakukan Romy Fauzan Fauzi dengan game “Bubur Ayam Rush”. Bubur ayam merupakan salah satu makanan yang popular di Indonesia. Oleh Romy, Anda bisa ikut berjualan bubur ayam tapi dalam bentuk game. Game model permainan time management ini menghadirkan pengalaman menjadi penjual bubur ayam yang seru dan menyenangkan. Dengan tempo permainan yang cepat, anda harus mengasah reflek dengan baik agar bisa menyajikan berbagai menu yang diminta oleh pengguna secara tepat dan cepat

Total ada sebanyak 200 level di dalam game yang bisa Anda tuntaskan untuk menjadi tukang bubur yang andal. Bubur Ayam Rush dilengkapi dengan berbagai fitur menarik, terutama dari sisi layanan Google Play Service. Terdapat fitur cloud loud untuk menyimpan dan mengembalikan progres permainan Anda dengan cepat dan mudah. Terdapat juga fitur achievement untuk membandingkan progres permainan Anda dengan pemain lainnya.

Rupanya, unsur lokal dan fitur yang menarik itulah yang mampu mendongkrak popularitas game Bubur Ayam Rush ini. Terbukti, dalam waktu singkat game ini mencuri perhatian masyarakat pecinta game di Indonesia. Bahkan, game ini masuk dalam 15 besar Google Play Game Contest Indonesia 2017.

Romy selaku pengembang game ini mengaku, tak pernah menyangka bisa sukses meraih hati para penikmat game di Tanah Air. Pasalnya, cukup lama dia menekuni dunia pengembangan game mobile, namun baru kali berhasil merebut hati para pemain game.

“Awalnya nggak menyangka, karena melihat pengalaman terdahulu nggak sukses,” ungkap Romy, saat ditemui Youngsters.id di acara Google Play Game Contest Indonesia 2017 belum lama ini.

Romy memang telah lama berkecimpung di dunia pengembangan game. Namun sebagai artis 3D dan dosen broadcasting. Tetapi baru di bawah bendera studio game Milkish, dia serius menggarap game.

“Bubur Ayam Rush ini adalah game kedua ciptaanku, sebelumnya aku pernah bikin namanya Milkish cuma nggak sukses. Dan alhamdulillah game inilah yang banyak di-download orang akhirnya dan masuk finalis di ajang Google Play Game Contest Indonesia 2017 kali ini,” ujarnya bangga.

 

Game Yang Tidak Provokatif

Romy mengaku, sedari kecil ia sudah tertarik membuat game. Namun di awal karier dia lebih banyak bekerja di bidang broadcasting sebagai artis 3D. Lulusan Next Academy ini baru mulai menekuni pengembangan game di tahun 2015.

“Aku mulai dari nol, dari hal yang nggak aku mengerti. Semua aku pelajari sendiri. Jadi modalnya waktu itu tidak besar. Misalnya, beli domain cuma Rp 200 ribu setahun dan untuk Google Play-nya aku cukup membayar US$ 25, tapi sekali saja seumur hidup. Pertama jadi member dan aku bisa taruh game di Playstore,” ungkapnya.

Dia mengaku modal pengalaman jadi animator dan animasi 3D membuat dia percaya diri untuk mendirikan Milkish Studio Game. “Pengalaman 10 tahun di industri animasi membuat aku banyak belajar,” ujarnya.

Menariknya, sejak awal Romy berkomitmen untuk membuat game dengan konten edukasi. Selain itu, ia selalu berusaha menciptakan game dengan pesan moral yang kental. Bahkan, yang jauh sifatnya dari rasa provokatif maupun kekerasan.

“Kalau aku maunya bikin game yang aman untuk anak-anak. Jadi nggak deh yang ke arah provokatif maupun kekerasan atau yang sadis, aku nggak mau. Aku bikin agar bisa dimainkan semua umur. Kalau pesan moral yang spesifik memang nggak ada. Mungkin pesannya mengangkat budaya local, yaitu Indonesia. Banyak banget kuliner Indonesia sampai cerita rakyat yang bisa dijadikan konten, karena aku mau mengangkat hal itu,” paparnya.

Sempat membuat beberapa game, namun game Bubur Ayam Rush inilah yang membawa Romy ke ranah game mobile.

Menurut Romy, butuh waktu setahun untuk menyelesaikan game ini. Semua dikerjakan sendiri, termasuk desain dan coding. Sedangkan istrinya turut membantu dalam pengisian suara.

“Proses pengerjaannya butuh waktu setahun. Sebenarnya project ini sudah aku kerjakan sejak tahun 2015 lalu. Kenapa lama, karena aku sendiri yang mengerjakannya. Mulai dari desain dan coding aku melakukannya sendiri, makanya lama. Sebetulnya aku ini bukan programer, cuma pengin belajar dan hobi mendesain. Kebetulan aku juga bekerja di bidang lain. Karena mau belajar dan berani mencoba akhirnya hadirlah game ini,” kisahnya.

Rommy menjelaskan game Bubur Ayam Rush ini memiliki tipe layaknya game Diner Dash. Hanya saja, game ciptaan kedua kalinya ini sangat kental dengan syarat konten lokal.

“Game ini cerita penggunanya mempraktekan bagimana melayani pelanggan yang ingin membeli bubur, dan di game ini ada customer-nya. Di situ, customer bisa memesan, nah di situ kita harus bisa melayani pelanggan dengan baik. Jadi tipe-tipe gamenya seperti Diner Dash gitu tapi kontennya Indonesia. Jadi sejak September 2016 game ini dirilis kalau sekarang sudah lebih dari 17. 000 penngunduh yang memainkan game ini,” ungkapnya.

 

Untuk menggarap pasar lokal, Romy Fauzan mengandalkan game yang memiliki konten kearifan lokal (Foto : Fahrul Anwar/Youngsters.id)

 

Kompetisi Memotivasi

Sejatinya, lelaki kelahiran Jakarta, 3 Desember 1983 ini merupakan pendatang baru di dunia game. Oleh karena itu, dia sangat senang dapat mengikuti kompetisi, termasuk  Google Play Game Contest Indonesia seperti ini.

“Kompetisi pastinya akan lebih memberi motivasi para game developer lokal untuk terus berkarya. Karena adanya kompetisi semacam ini, akan bisa menghidupkan kembali khsususnya industri game di Tanah Air. Kompetisi ini sangat berarti sekali. Aku bersyukur bisa masuk 15 besar dan menjadi finalis di ajang bergengsi ini. Itu bias memacu semangat aku lagi untuk berkarya dengan konten lokal yang lebih fresh lagi,” ucapnya.

Bagi Romy, dalam perjalanannya menekuni profesi sebagai game developer hambatan bukan saja sesekali ditemuinya. Termasuk hambatan dari keluarga. Namun dia menjadikan itu sebagai  inspirasi  dan energi baru.

“Aku ini kan sudah berkeluarga. Jadi kalau ada hambatan ingetnya sama keluarga aja, itu yang membuat aku tetap semangat dan memecahkan hambatan dan rintangan ketika menekuni kegiatan ku sekarang ini. Apalagi senangnya, ketika game yang aku buat ini dirasa cukup banyak memberi manfaat bagi orang lain, sungguh didalam hati ini akan merasa senang dan rasanya kendala itu semakin tidak ada,” ungkapnya.

Berkat game Bubur Ayam Rush, setiap bulan pundi-pundi Romy selalu terisi. “Alhamdulillah, hampir setiap bulan angkanya sekitar Rp 5,” ujarnya.

Meski terus bermunculan game developer baru, Romy menilai bahwa persaingan di industri game bukan masalah.

“Persaingan bukan masalah juga buat aku. Karena persaingan itu akan tetap ada di manapun. Malah enaknya di industri ini dengan teman-teman lain aku bisa bertukar ide, nggak pelit. Dan mereka cerita mengenai kendala termasuk juga aku, dan kalau ada tips aku juga bisa sharing. Jadi komunitas ini benar-benar membantu banget dan aku sangat bersyukur ketika terjun ke bidang ini, karena sekarang industrinya semakin berkembang,” jelasnya.

Romy juga meyakini bidang game developer akan terus meningkat seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di masa mendatang.

“Aku yakin industri game nggak akan pernah habis ya, dan malah terus berkembang. Orang butuh hiburan, jadi bagaimana kita melihat kebutuhan pasar saja. Kalau melihat tren pasar kita bisa ikut dan adaptasi. Iya, insyaallah akan survive ke depannya. Harapan aku, akan ada lebih banyak lagi konten lokal yang bisa diciptakan game developer lokal nantinya agar bisa membawa industri ini ke kancah internasional nantinya dan supaya game Indonesia bisa bersaing dengan game developer asing lainnya, “ tutupnya.

 

=========================================

Romy Fauzan Fauzi

  • Tempat Tanggal Lahir             : Jakarta 3 Desember 1983
  • Pendidikan                              : Next Academy, Diploma, Broadcasting
  • Pekerjaan                                 : 3D Artist, Game Developer, Dosen Lasca College, Sahid
  • Jabatan                                    : Founder Milkish Game Studio/Game Bubur Ayam Rush
  • Mulai Usaha                            : November 2014
  • Modal                                      :  Perangkat Komputer & Internet
  • Omset Per bulan                      : Rp 5 Juta
  • Jumlah Pendownload Game   : 17 ribu lebih
  • Prestasi                                    : Finalis Google Play Game Contest Indonesia 2017

========================================

 

FAHRUL ANWAR

Editor : Stevy Widia