Oscar Darmawan : Berawal Dari Skeptis

Oscar Darmawan, Founder & CEO Bitcoin Indonesia (Foto: Stevy Widia/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Boleh dibilang, Oscar Darmawan merupakan orang yang punya andil memopulerkan Bitcoin di Indonesia. Mata uang digital ini sempat menghebohkan otoritas moneter dan dunia maya. Kini Bitcoin telah banyak digunakan, bahkan turut serta meningkatkan pendapat sejumlah UKM di Bali. Sesungguhnya Oscar memulai semua ini dengan sikap skeptis.

”Saya memulai bisnis ini dengan skeptis, tidak  percaya dan ragu-ragu. Kok ada bisnis berjalan tanpa perantara, atau tanpa bank. Selain itu tidak ada komisi atau biaya administrasi untuk tiap transaksi,” ungkap Oscar saat ditemui Youngsters.id usai menjadi pembicara di kampus Politeknik Negeri Jakarta.

Yang menarik Bitcoin dapat ditukar dalam segala mata uang, atau digunakan untuk membeli berbagai jenis barang dari ponsel hingga mobil mewah, dari membeli pizza hingga biaya memasang website dan masih banyak lagi.

Atas dorongan sababatnya William Sutanto, ia membeli uang digital bernama Bitcoin seharga US$ 8 pada Juli 2012. Dengan nilai 1 Bitcoin senilai Rp 40 ribu waktu itu. Berselang beberapa bulan fluktuasi harga mata uang Bitcoin ini menjadi berlipat kali ganda hingga US$ 100 per 1 Bitcoin. “Atas dasar inilah kami mencari peluang untuk membuka bisnis perdagangan atau jual beli Bitcoin di Indonesia,” kata Oscar.

Pemilik Pondok Media ini akhirnya menginisiasi pendirian Bitcoin Indonesia. Ini merupakan perusahaan yang pertama melayani penjualan Bitcoin online (BTConline) melalui situs www.bitcoin.co.id. Kini, Bitcoin Indonesia telah memiliki 120 ribu members dengan transaksi bisa mencapai Rp 1 milyar per hari

“Bitcoin dinilai sebagai transaksi yang sederhana dan murah, karena pembayaran tidak terikat pada negara tertentu dan tanpa regulasi. Pelaku usaha mikro sangat menyukai transaksi seperti ini karena tidak ada biaya kartu kredit,” tambah Oscar.

Bila bagi banyak orang bisnis ini beresiko, bagi pria kelahiran Semarang, 5 Desember 1985 resiko adalah mainan. Sejak kecil dia sudah berusaha mandiri dalam hal keuangan. Jatuh bangun dirasakan dalam berusaha, bahkan bisnis awalnya tidak mendapat dukungan keluarga. Namun semua itu tidak menjatuhkan mental Oscar. “Bagi saya tidak ada bisnis di dunia yang benar-benar tidak ada resiko. Dan itu yang membuat bisnis bisa berkembang,” ucapnya yakin.

 

Berkantor Di Warnet

“Sedari kecil saya memang sudah gemar berbisnis. Bisnis apa saja, yang penting bisa menghasilkan uang,” ujar Oscar. Menurut dia, keadaan ekonomi keluarganya waktu itu kurang baik telah menempa dirinya untuk bisa mencari uang sendiri agar dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan.

Anak nomor 2 dari 5 bersaudara itu ingat waktu SD dia pernah jual mainan kepada teman-temannya. Uang yang diperoleh dia pakai untuk membeli keperluan sekolah. Begitu juga ketika dia duduk di bangku SMP, dia menjual peralatan sekolah untuk bisa dapat uang jajan lebih. Kegiatan itu baru berhenti karena Oscar diminta orang tuanya untuk fokus sekolah agar bisa melanjutkan pendidikan di luar negeri.

Oscar kembali bisa menghasilkan uang sendiri ketika kuliah di Singapura. Namun kali ini bisnisnya adalah lewat perdagangan Forex dan e-money. “Saya orangnya suka mencoba berbagai usaha baru. Karena itu begitu saya mengenal e-money dan e-good saya langsung ikutan, sampai sempat jadi salah satu korban,” kisahnya sambil tersenyum.

Belajar dari kesalahan itu, lulusan Bachelor Information Technology and System Monas University 2006 ini mulai berhati-hati dalam berbisnis. Selepas kuliah dia bekerja di sebuah perusahaan bidang internet teknologi security.  Namun keinginan untuk punya usaha sendiri terlalu kuat, sehingga dia memutuskan untuk kembali ke pulang ke Semarang. “Saya ingin punya usaha sendiri, dimana saya bisa bertanggujawab dan membuat keputusan sendiri,” ungkap Oscar.

Pemuda yang ketika itu berusia 20 tahun melihat peluang dari bisnis internet techonogi. Ternyata niat itu ditentang keluarganya. “Mereka berharap saya bekerja sebagai pegawai saja. Apalagi pendapatan saya waktu itu sudah baik. Tapi saya percaya bisnis lebih baik dilakukan di usia muda daripada di usia senja, Karena resiko ketika gagal berbisnis di usia muda masih bisa mulai lagi dari nol, sedangkan kalau sudah usia di atas 45 tahun, kalau gagal sudah sulit dan jadi beban berat,” papar pemegang sertifikat internet security dari EC-Council USA.

Meski tidak mendapat dukungan moril dan finansial, Oscar nekad. Dia memulai bisnis impian dengan modal hanya Rp 5 juta. Dari modal itu Rp 1 juta dibelanjakan untuk pasang iklan, sedang sisanya dia mengotrak 4 komputer di sebuah warnet untuk menjadi kantor di Semarang. Menariknya usaha yang bernama Pondok Media (kini PT Bumi Inter Media) bisa berdiri di awal tahun 2007 dengan merekrut 5 orang  karyawan. “Saya percaya kalau usaha ini bisa besar,” tegasnya.

Tak lama usaha di bidang web development, internet marketing dan hosting provider itu dalam waktu singkat bisa menghasilkan keuntungan. Bahkan Pondok Media bisa memiliki kantor sendiri di Semarang dan kemudian Jakarta. Menurut Oscar, usaha itu kini sudah memiliki tim kerja lebih dari 35 orang dengan pasar meliputi wilayah Jakarta, Semarang dan Singapura.

 

Oscar Darmawan, Berawal dari Skeptis (Foto: Stevy Widia/Youngsters.id)
Oscar Darmawan, Berawal dari Skeptis (Foto: Stevy Widia/Youngsters.id)

 

Patner Yang Tepat

Setelah sukses dengan Pondok Media, Oscar mengaku dirinya semakin dewasa dalam berbinis. “Saya percaya bisnis itu tidak bisa dikelola sendiri. Harus ada mitra yang tepat, mitra sehidup semati,” ungkapnya.

Menurut dia soulmate bisnisnya yang pertama adalah Wiliam Sutanto seorang programmer, internet marketer, dan finance auditor. Setelah membangun Pondok Media, bersama William Oscar juga menginiasi dibentuknya ads-id.com, forum bisnis internet di Indonesia pada tahu 2012.

Kemudian bersama mereka menjajal bisnis Bitcoin. Menurut Oscar, Wiliam yang pertama kali mengenalkan Bitcoin kepadanya.”Jika saya bagian skeptis, Wiliamlah yang paling optimis,” ujarnya.

Bisnis Bitcoin Indonesia dimulai tahun 2014 dengan modal awal Rp 100 juta. Kini Bitcoin Indonesia memiliki 120 ribu members dengan transaksi bisa mencapai Rp 1 milyar per hari. Pengguna terbanyak ada di Bali, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan DKI Jakarta.

Oscar tak berhenti sampai di sana. Dia terus membuka usaha baru. Kali ini bermitra dengan istrinya, Yenni membuka bisnis online hobihouse.com yang menawarkan produk peralatan bayi hand made. Lalu Oscar juga mempelopori berdirinnya situs doktersehat.com.

“Saya memang gemar berbisnis terutama terkait dengan teknologi dan yang bisa memberi manfaat bagi orang banyak,” katanya.

Menurut Oscar sejumlah usaha kecil menengah (UKM) di Bali sudah menggunakan Bitcoin. Bahkan, kantor Bitcoin Indonesia yang berada di Seminyak sekarang menjadi bagian tujuan wisata sejumlah turis yang ingin bertransaksi dengan Bitcoin.

Kini Oscar tak ingin sukses sendiri. Pengetahuan tentang Bitcoin ini dia tebar ke berbagai kalangan, termasuk menulis buku berjudul Bitcoin Mata Uang Dunia. “Saya ini sudah mulai berbisnis sejak usia muda. Bisa dibilang saya ini engine investor, jadi saya membangun bisnis dan kemudian saya persiapkan untuk take off,” ungkapnya.

 

===========================

Oscar Darmawan

  • Tempat Tanggal Lahir : Semarang, 15 Desember 1985
  • Nama Istri : Jenny
  • Nama Perusahaan : PT Bitcoin Indonesia, berdiri 2014
  • Produk : Bitcoin
  • Modal Awal : Rp 100 juta
  • Anggota dan Omzet : Bitcoin Indonesia memiliki lebih dari 120 ribu members. Pengguna terbanyak ada di Bali, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan DKI Jakarta. Nilai transaksi mencapai Rp 1 milyar per hari.

===========================

 

STEVY WIDIA