Nayoko Wicaksono : “Mak Comblang” Penyedia dan Pemberi Jasa

Nayoko Wicaksono, founder dan CEO Seekmi (Foto: Stevy Widia/Youngsters.ID)

YOUNGSTERS.id - Penampilannya terkesan ramah. Wajahnya kerap mengubar senyum. Tak heran jika “usaha perjodohan” yang dikelolanya bisa berjalan lancar dan berhasil. Hanya saja perjodohan yang diatur olehnya bukan antara manusia, tetapi antara pengguna jasa dan vendor.

Sang “mak comblang” adalah Nayoko Wicaksono. Pria kelahiran Jakarta, 29 November 1984 ini adalah CEO Seekmi, platform online yang menjadi solusi koneksi antar-penyedia jasa. Bisnis rintisan digital ini merupakan layanan tempat pemasaran jasa dengan sistem pencocokan yang memastikan bahwa pelanggan mendapatkan penyedia layanan jasa yang relevan dengan kebutuhannya, dan sebaliknya.

“Kami mengerti sulitnya menemukan orang yang tepat untuk kita pekerjakan, daripada membuang waktu untuk mencari sana sini, beritahu kami saja kebutuhan Anda. Kami akan mempertemukan Anda dengan beberapa kandidat asli yang siap merespon permintaan Anda hanya dalam hitungan 1-2 jam,” kata Nayoko kepada Youngsters.id.

Seekmi bisa dibilang baru berdiri pada April 2015. Namun Nayoko berani mengklaim bahwa pengguna yang sudah bergabung dengan Seekmi berjumlah lebih dari 10.000 dengan anggota aktif hingga 5000 members. Dan biasanya satu anggota bisa melakukan 3-4 transaksi dalam sebulan di Seekmi. “Ide utamanya adalah menjadi connector massal,” ucap Nayoko.

Menurut Nayoko, sebagai penyedia jasa profesional dia melihat adanya masalah keterbatasan sumber daya manusia hingga pengetahuan soal pemasaran digital. “Dari sisi penyedia jasa, Seekmi membantu para penyedia jasa mengembangkan bisnisnya melalui pemasaran digital, dengan mempertemukan mereka kepada klien-klien yang mencari jasa mereka. Dalam hal ini, Seekmi membantu para penyedia jasa seperti Usaha Kecil Menengah (UKM) untuk menuju digital,” paparnya.

Disebutkan Nayoko, bisnis Seekmi sebagai matchmaking. Dia berani menjamin hal itu karena Seekmi memiliki matchamaking engine yang dapat menghubungkan penyedia jasa dan pencari jasa, sesuai dengan kata kunci jasa yang dipilih. Ketika konsumen memilih jasa tertentu secara otomatis, Seekmi akan memberikan rekomendasi sesuai dengan job request yang diminta.

 

Kegemaran
Sejatinya, “perjodohan” ala Seekmi ini berawal dari kegemaran Nayoko menghubungkan teman-temannya yang memerlukan sesuatu. “Saya suka menghubungkan orang. Lalu, saya berpikir apakah ada cara untuk melakukan ini dengan skala besar,” kata putra bungsu pasangan Hans Wicaksono dan Joan itu.

Sebelumnya, lulusan dari University of British Columbia di Vancouver jurusan ekonomi dan keuangan ini pernah bekerja di Zalora. Pada tahun 2011 – 2012 dia termasuk tim awal yang membangun Zalora. Setelah itu, Nayoko sempat menjajal Liputan6.com, lalu ke Lakupon.com, kemudian ke KMK online. Ia juga pernah bekerja di Flipbuku Creative.

Namun keinginannya untuk memiliki bisnis sendiri terus dibangun. Dan impian itu terwujud ketika dia menemukan masalah dalam mendapatkan layanan jasa yang tepat. “Saya melihat banyak problem jasa di Indonesia. Saya dulu sering mencari jasa, namun belum tentu mendapat penyedia jasa yang tepat. Dari sana terpikir, kenapa tidak ada penyedia jasa yang lebih baik dengan standarisasi yang lebih baik lagi,” kisahnya.

Nayoko mengaku terinpirasi Thumbtack, sebuah startup di Amerika Serikat yang mampu menghubungkan pengguna dengan penyedia jasa profesional. Bahkan, laman Thumbtack mendapat investasi dari Google dan Sequoia Capital sebesar US$ 130 juta, dan menjadi tulang punggung banyak penyedia jasa di Amerika. Dan, Nayoko menangkap peluang itu di Indonesia. “Saya akhirnya memutuskan untuk membuat bisnis saya sendiri. Bisnis yang dapat membawa dampak dan perubahan yang lebih baik bagi masyarakat luas,” ucap penggemar fotografi itu.

Nayoko bertemu dengan Clarissa Leung, sekarang Head of Product Seekmi. Awalnya bersama gadis lulusan Computer Engineering di University of British Columbia itu mereka menerapkan model bisnis on demand service. Namun model ini kalah dalam persaingan dan terkendala transportasi.

“Lalu kami coba bermain dari mengenalkan saja. Kami menyaring vendor-vendor yang sudah mendaftar dan memastikan vendor yang ada di Seekmi adalah vendor yang terbaik. Selanjutnya transaksi dilakukan antara vendor dan penguna,” kisahnya.

Ternyata langkah perubahan itu tepat. Dalam waktu dua bulan Seekmi berkembang. Bahkan kini sudah ada 500 penyedia jasa yang bergabung dengan 30 kategori layanan. Menurut Nayoko, Seekmi mendapatkan keuntungan dari biaya perkenalan yang dikenakan kepada vendor. Tarifnya pun bervariasi bergantung kepada jenis layanan yang ditawarkan vendor. Sedangkan konsumen tidak dikenakan biaya sama sekali. Bahkan soal jaminan keamanan tim Seekmi akan memverifikasi dan meminta sertifikat yang dimilki. Jika tidak ada sertifikat, vendor dapat memberikan Surat Keterangan Catatan Kepolisian.

 

Nayoko Wicaksono, founder dan CEO Seekmi (Foto: Stevy Widia/Youngsters.ID)
Nayoko Wicaksono, founder dan CEO Seekmi )Foto: Stevy Widia/Youngsters.ID_

 

Edukasi

Aksi Seekmi ternyata menarik perhatian dari Emtek Group, partner Y Combinator dan mantan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu. “Sebelumnya saya pernah bekerja di Emtek Group, Setelah saya mempresentasikan bisnis modelnya, mereka tertarik untuk menjadi investor,” ungkap Nayoko.

Selain itu, Justin Kan dari Y Combinator dan Andrew Darwis yang merupakan pendiri Kaskus, bertindak sebagai penasehat dan mentor. Tiga orang yang mementori Seekmi adalah Chairman of Indonesia China Chamber of Commerce, Liky Sutiko, Chairman of AMCHAM dan mantan Managing Director Blackberry Indonesia, Andy Cobham, dan pendiri Match.com yang sekaligus merupakan angel investor Peng T. Ong.

Meski berkembang pesat, Seekmi mengalami kendala terutama dalam hal edukasi pasar. “Orang masih punya pemikiran, kenapa harus online untuk ke penyedia jasa, kan bisa langsung ke tempat penyedia jasa? Untuk mengatasi itu kami harus bisa memberikan benefit langsung dari jasa kami kepada mereka,” tutur Nayoko yang kini memiliki lima orang karyawan.

Oleh karena itu Nayoko langsung mengambil kesempatan untuk mengikuti program bootcamp Google Launchpad Accelerator 2015. Program itu menawarkan peluang fundingnon-ekuitas sebesar $50.000 dan akses khusus dalam menggunakan produk premium dari Google. Selain itu, setelah fase bootcamp yang berlangsung selama dua minggu, masih ada mentoring dan monitoring selama enam bulan ke depan.

Seekmi berangkat mengikuti program bootcamp GLA ini dengan tiga orang anggotanya. Dari sekian banyak mentor yang ditemui, Nayoko banyak memetik pelajaran dari mentor asal India dan Israel terkait dengan pengembangan engineering. Sedangkan dari sisi bisnis, Nayoko menyebutkan bahwa ia banyak mendapat masukan terkait dengan product market fit.

Dia mengakui masalah di Indonesia itu sekarang adalah engineering. Bagaimana develop skillset untuk pengembangan software atau kemampuan programing lebih tinggi lagi. “Saya banyak bertanya kepada mentor mengenai pelatihan apa saja yang diperlukan untuk pengembangan skill tim engineering, project management-nya seperti apa, dan apakah ada support dari Google terkait engineering. Ternyata, mereka mau provide itu.”

Menurut Nayoko, program GLA itu dia juga bertemu dengan Sander Daniels, sosok di balik Thumbtack. Selain itu, Nayoko juga menyempatkan diri untuk bertemu Kevin Hale dan Justin Kan dari Y Combinator untuk bertukar pikiran.

“Kami bertukar pikiran dan mereka bercerita di awal penting untuk fokus dengan kualitas vendor. Itu penting karena jasa layanan online di Indonesia itu masih early,” kisah Nayoko. “Kami juga bertanya rencana Thumbtack ke depannya apa, dan Sander bilang dia akan lebih fokus ke recording behavior orang-orang [pengguna] dan bagaimana caranya agar servis vendor dapat memberikan penawaran lebih akurat lagi dari data-data dia. Jadi kami ke depannya juga jalannya akan ke sana, mengimplementasikan big data,” tambahnya.

Ke depan, Nayoko merencanakan Seekmi dapat mengimplementasikan teknologi big data. Namun, dalam waktu dekat Seekmi berencana untuk meluncurkan aplikasi mobile yang dapat berjalan pada perangkat Android dan iOS. Melalui aplikasi tersebut, pengguna dijanjikan untuk dapat melakukan transaksi lebih cepat dan mudah.

“Tercatat di tahun 2014 ada 72 juta pengguna internet di Indonesia, dengan 62 juta di antaranya aktif menggunakan mobile internet melalui ponsel mereka. Total market sizeindustri lokal di Indonesia ada sekitar 4-5 miliar dolar Amerika. Berdasarkan hal tersebut Seekmi optimistis dapat terus tumbuh,” tutup Nayoko.

 
=====================================

Nayoko Maytri Wicaksono

  • Tempat Tanggal Lahir : Jakarta, 29 November 1984
  • Pendidikan : S1jurusan Ekonomi dan Ecomers di University of British Columbia. Kanada
  • Nama Perusahaan : PT Seekmi Global Services
  • Nama Brand : Seekmi
  • Tanggal Berdiri : 25 April 2015
  • Bisnis : Memiliki 30 kategori layanan, dan sudah ada 500 penyedia jasa yang bergabung.

==========================================

 

 

ANGGIE ADJIE SAPUTRA
Editor : Stevy Widia

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY