Gibran El-Farizy : Melalui e-Fishery Ingin Memberi Manfaat Kepada Peternak Ikan

Gibran Chuzaefah Amsi El Farizy, founder dan CEO e-Fishery (Foto: Stevy Wiidia/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Memberi makan ikan melalui SMS? Terdengar aneh, tapi nyata. Itu berkat perangkat berbasis software bernama e-Fishery. Alat ini dapat memberi pakan untuk ikan dan udang yang dikontrol via ponsel. Berkat perangkat ini para petani iklan kini dapat mengefisiensikan pemberian pakan hingga 20%. Aplikasi e-Fishery ini digagas dan dikembangkan oleh Gibran Chuzaefah Amsi El Farizy.

Sepintas penampilan Gibran terkesan sederhana, dan jauh dari kesan glamor. Bahkan ketika didampuk berbicara di depan khalayak ramai, dia terkesan low profile dan tak banyak bicara.

Sesungguhnya di tangan Gibran, e-Fishery telah menjadi startup di bidang teknologi pemberi pakan ikan dan udang yang sukses. Bahkan, perangkat yang diluncurkan tahun 2013 ini telah berhasil meraih omzet hingga Rp 1 miliar. Dalam dua tahun terakhir ini, startup yang berpusat di Bandung ini telah memasarkan ratusan unit pemberi pakan ikan.

Tak hanya  itu, penemuan di bidang teknologi pangan dan perikanan telah membuat Gibran meraih banyak penghargaan bergengsi yang berujung pada perolehan modal ventura. Misalnya, ketika dia memenangkan Mandiri Young Technopreneur 2012, Gibran mendapatkan modal usaha sebesar Rp 1,5 miliar.

Dan, di tahun 2016 e-Fishery berhasil mendapatkan pendanaan investasi dari Belanda, Aqua Spark dan VC Indonesia, Ideosource. Bahkan Gibran juga terpilih menjadi Endeavor Entrepreneur 2016, gerakan kewirausahaan dunia yang fokus pada pengembangan high impact entrepreneurship.

Yah, Gibran telah berhasil menyatukan teknologi dan aquakultur menjadi bisnis yang menjanjikan. “Teknologi yang sudah ada di (industri) perikanan sangat rendah. Tidak ada teknologi baru yang membuat perikanan semakin akuntabel, prediktabel dan convenience. Itulah alasan saya mengembangkan e-Fishery,” ungkap Gibran kepada Youngsters.id.

e-Fishery merupakan alat pemberi pakan ikan dan udang secara otomatis untuk segala jenis ikan dan udang. Alat ini tidak hanya mengotomatisasi pemberian pakan secara terjadwal dengan dosis yang tepat tetapi juga mencatat setiap pemberian pakan secara real-time. Dan semua itu dioperasikan melalui ponsel atau tablet yang terhubung dengan koneksi internet.

Menurut Gibran, penggunaan aplikasi e-Fishery dapat menghemat biaya peternak ikan dan udang hingga 21%, atau sekitar Rp 8 – 12 juta setiap bulannya. Dengan meningkatkan efisiensi pemberian pakan ikan, peternak ikan dapat menghindari terjadinya pemberian pakan terlalu banyak (overfeeding), pemberian pakan tidak teratur, menghindari adanya sisa-sisa pakan yang menjadi polutan dan amonia di air sehingga mengurangi resiko ikan mati, menjaga kualitas air, dan mencegah pencurian pakan.

“Saya ingin teknologi bukan hanya sekadar menjadi sebuah industri, tetapi juga memiliki nilai yang dapat mengubah industri itu sendiri, dalam hal akuakultur,” ujar Gibran.

 

Mahasiswa Kere

Pemuda kelahiran Jakarta, 31 Desember 1989 ini memulai semua itu ketika masih jadi mahasiswa jurusan biologi, Institut Teknologi Bandung angkatan 2007. “Ya bisa dibilang kurang lebihnya dulu saya mahasiswa kere sebelum jadi entrepreneur,” ujarnya sambil tertawa.

Ya, di semester 4 Gibran memutuskan untuk tidak lagi meminta uang saku pada orang tua. Dia mengaku saat itu merasa sudah saatnya berdikari. Alih-alih bekerja dengan orang lain, Gibran memutuskan untuk membuka bisnis sendiri. Mulai dari jadi peternak lele, makelar sayur, bisnis kuliner sampai budidaya cacing dijajalnya. Jatuh bangun dirasakan. Bahkan, dia pernah diusir dari kontrakan karena dikira menyimpan mayat.

“Saya sempat ngontrak rumah di dekat kampus untuk tempat produksi cacing. Satu hari, saya dihubungi pemilik kontrakan dengan nada marah-marah, diminta datang ke kontrakan itu. Pas saya di depan kontrakan, ternyata warga sekitar udah kumpul di depan, dan  mereka marah-marah. Ternyata  saya dituduh nyimpen mayat di kontrakan, soalnya bau busuk kecium dari jauh. Pas ditelusuri lebih lanjut, ternyata sampah buat makanan cacing saya pada busuk dimakan belatung karena karyawan saya udah 2 minggu kabur. Besoknya, saya diusir dari kontrakan itu,” kisah Gibran sambil tertawa mengenang awal usahanya.

Ide e-Fishery bermula dari kolam ikan lele yang dikelola Gibran. Di sana dia mendapati masalah mahalnya pakan ikan yang menghabiskan 50%-80% biaya operasional peternak ikan. Pasalnya, metode pemberian pakan ikan juga tergolong rumit. Apabila diberikan terlalu banyak, maka akan berdampak negatif pada lingkungan dan menyebabkan banyak pakan terbuang percuma. Bagitu pun apabila pemberian pakan kurang, ikan tidak akan bisa bertahan hidup.

Dari situlah tercetus ide untuk menciptakan alat yang dapat memberi pakan secara otomatis. Setamat kuliah pada 2012 Gibran pun mulai membuat prototype alat pemberi pakan ikan. Modalnya dari saku sendiri sebesar Rp 8 juta. Awalnya ia memakai kaleng susu sapi sebagai wadah pakan ikan. Sebagai pelontar pakannya, ia memakai cakram padat (CD). Perintah pemberian pakannya memakai pesan pendek (short message service atau SMS) via telepon seluler sebagai pemberi komando ke alat.

Masalahnya, prototype itu masih punya kelemahan. Jika kolamnya mencapai 30–100 buah, peternak kerepotan memberi perintah satu per satu. Gibran lalu menggandeng Chrisna Aditya (26 tahun) lulusan teknik elektro ITB yang memiliki rumah software dan Muhammad Ihsan Akhirulsyah (26 tahun) sarjana manajemen yang memiliki usaha real estate. Mereka menyatukan ide, pikiran dan modal untuk membangun startup e-Fishery.

“Masalah yang kami coba pecahkan ialah tidak efisiennya kegiatan pemberian pakan di bisnis peternakan ikan lewat inovasi teknologi. Di sisi lain peluang usahanya besar,” jelas Gibran.

 

alat e-Fishery (Foto: Stevy Widia/Youngsters.id)
alat e-Fishery (Foto: Stevy Widia/Youngsters.id)

Potensi Bisnis dan Manfaatnya

Mereka melanjutkan riset. Dua programmer direkrut untuk mengubah sistem perintah dan laporan pemberian pakan menjadi data yang disimpan di cloud. Alhasil, e-Fishery hadir menyediakan solusi teknologi Internet of Things (IoT) dalam bentuk alat pemberi pakan otomatis menggunakan sensor untuk mengukur nafsu makan ikan, dan memberi makan otomatis sesuai dosis yang dibutuhkan.

Singkatnya, lanjut Gibran, dengan e-Fishery ada tiga manfaat yang diperoleh pengelola tambak ikan dan udang. Pertama, efisiensi pemberian pakan, karena bisa menurunkan feeding cost sebesar 20%. Kedua, kualitas air akan lebih terjaga karena tidak terjadi kelebihan pakan. Ketiga, survival rate ikan dan udang pun lebih tinggi. “Dengan adanya e-Fishery ini budidaya ikan air tawar di Indonesia akan menjadi lebih produktif, prospektif, dan profitable,” ujar Gibran.

Ide cemerlang, kepercayaan diri, dan tekad pantang menyerah membawa e-Fishery meraih berbagai juara dan penghargaan di sejumlah kompetisi startup. Antara lain menjadi juara I kompetisi Mandiri Young Technopreneur 2012 untuk kategori pangan dan pertanian. Lalu menjadi pemenang Global Winner the Olympics for StarUp pada Get in the Ring Champion 2012, lalu juara Indonesia ICT Award 2013, dan juara kedua GIST Demo Day 2014.

Selanjutnya, dengan e-Fishery Gibran berhasil meraih juara pertama olimpiade startup di Belanda, Get in the Ring (GITR) dan Seedstars World yang memenangkan investasi sebesar US $ 500.000 (atau sekitar Rp 6 miliar).

Dana yang diperoleh itu oleh Gibran dan kawan-kawan menjadi modal untuk pengembangan e-Fishery. Termasuk mengembangkan produksi alat dan melakukan sosialisasi kepada para peternak ikan dan udang. Dengan begitu, pada Maret 2014 mereka dapat meluncurkan perangkat e-Fishery untuk umum.

Peluang bisnis e-Fishery sangatlah potensial. Alat itu bisa dipakai untuk semua kolam asal aquaculture dengan ikan, misalnya kolam koi. Bisa dipakai di air laut, air payau, dan air tawar.  Sementara itu berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan, bisnis akuakultur di Indonesia mencapai lebih dari 1 juta petani ikan dan udang. Jika satu petani rata-rata punya 100 kolam/tambak misalnya, berarti potensi pasar bagi perangkat e-Fishery mencapai 100 juta kolam. Artinya, potensi market size-nya bisa mencapai triliunan rupiah. Salah satu pemain besar di Indonesia punya 10 ribu tambak udang, plus sejumlah kolam ikan.

“Di Indonesia belum ada yang membuat produk seperti ini. Yang ada di pasar adalah produk dari Taiwan dan Thailand, yang interface untuk setting alatnya susah karena memakai bahasa mereka. Sedangkan kami memakai bahasa Indonesia dan user-friendly,” kata Gibran optimis.

 

Rencana

Ke depan, Gibran tak mau berencana muluk-muluk. Startup- yang saat ini dijalankan oleh 22 pegawai ini lebih fokus menyelesaikan masalah yang ada di depan mata terlebih dahulu. Saat ini e-Fishery menghadapi tantangan untuk membuat bisnisnya scalable dan edukasi masyarakat. Karena teknologi e-Fishery ini dapat dikatakan merupakan hal yang sangat baru bagi masyarakat. “eFishery merupakan konsep baru yang masih perlu membuktikan diri apakah bisa sukses di pasar umum,” ungkapnya.

Terlepas dari itu, Gibran menargetkan pendapatan e-Fishery mencapai USD 8 juta (atau sekitar Rp 96,5 miliar) di tahun kedua, dari penjualan dan penyewaan produk e-Fishery. Selain itu, jika di awal memulai usaha e-Fishery beroperasi secara bootstrapping dan belum memiliki investor. Namun di tahun 2016, Gibran mengakui sudah membuka diri untuk venture capital.

“Kami mau jaga standar, karena kami mau besar. Suatu hari nanti kami mau jadi public company. Jadi, dari awal kita sudah rapih manajemen dan bangun produser dan transparansi yang jelas. Kita mau bangun ini bukan hanya sebagai dokumen saja tetapi sebagai budaya perusahaan,” ucapnya.

Kini, perangkat e-Fishery sudah menjangkau hingga ke sekitar Danau Toba, Banyuwangi, Yogyakarta, Bali Barat, juga peternak ikan di Subang, Jawa Barat. Tak hanya itu kini ada 17.000 peternakan ikan dan udang dari Thailand, Singapura, China hingga Brazil yang berminat menggunakan e-Fishery.

Semua keberhasilan itu ditanggapi Gibran dengan rendah hati. Dia mengaku satu hal yang membuat dia takut adalah ketika mengejar hal yang salah. “Misalnya, ketika saya hanya fokus mengejar kekayaan saja, padahal tujuan saya mendirikan bisnis adalah menebar manfaat bagi banyak orang. Kehilangan visi dan jati diri adalah hal yang lebih menakutkan dari sekadar gagal dan rugi.Lebih parah lagi bila saat itu saya sadar, sudah terlambat untuk memperbaikinya,” paparnya.

Prestasi yang diraih oleh Gibran sangat menginspirasi anak muda Indonesia untuk terus menghasilkan inovasi yang bermanfaat, mampu menjadi solusi bagi permasalahan yang ada di masyarakat. Dan Gibran menekankan dalam berusaha, terutama entrepreneur yang terpenting adalah jangan mudah putus asa. “Saat menemui hambatan atau rintangan jadikan semua hal itu sebagai tantangan untuk dilakukan. Kita harus memulai dari 0 ke 1. Kita membuat sesuatu yang tadinya belum ada menjadi ada. Jika kita tidak bisa, itu artinya kita belum cukup memperhatikan sekeliling kita dengan seksama dan melihat apa yang dibutuhkan namun belum tersedia padahal dapat berguna bagi banyak orang,” kata Gibran lagi.

 

====================================

Gibran Chuzaefah Amsi El Farizy

Tempat Tanggal Lahir : Jakarta, 31 Desember 1989

Pendidikan : Biologi ITB

Nama Perusahaan : eFishery, Pte. Ltd

Prestasi :

  • Endeavor Entrepreneur 2016
  • Spark the Fire Champion 2015
  • GIST Demo Day 2014
  • Global Winner the Olympics for Start Up (Get in the Ring Champion 2014)
  • Indonesia ICT Award 2013
  • Best Young Entrepreneur 2013
  • Juara I Mandiri Young Technopreneur 2012

=======================================

 

STEVY WIDIA