Ganjar Setyawan Cahyoaji : Mendaur Ulang Sampah Plastik Jadi Bernilai Seni

Ganjar Setyawan Cahyoaji, Pelukis sampah plastik, Founder Ganj Art (Foto: Dok. Pribadi/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Sampah adalah masalah sosial di banyak negara. Selain menimbulkan pemandangan tidak sedap, timbunan sampah dapat mengakibatkan banyak kerugian. Mulai dari penyakit hingga banjir. Namun di balik semua itu, ada sejumlah orang yang menghasilkan keuntugan dari sampah. Bahkan bisa melahirkan karya seni yang bernilai tinggi.

Menurut situs Bappeda DKI Jakarta, jumlah penduduk Jakarta yang menembus angka 10.075.30 jiwa turut andil menghasilkan sampah di DKI Jakarta. Volume sampah Jakarta diperkirakan mencapai 6000 ton per hari, dan sekitar 13% dari jumlah tersebut merupakan sampah plastik.

Banyaknya sampah yang memiliki material yang sulit seperti plastik hampir tidak bisa terurai oleh tanah. Jika terurai pun, membutuhkan waktu 1000 tahun agar plastik dapat terurai oleh tanah dengan sempurna. Tak heran jika sampah menjadi masalah utama dan sulit diatasi hingga saat ini.

Namun, di tangan seorang pemuda bernama Ganjar Setyawan Cahyoaji, sampah plastik itu dapat menjadi karya lukis bernilai tinggi.

“Lukisan (dari plastik) ini berawal dari keterbatasan dana untuk melukis. Saya butuh cat dan kanvas namun tidak bisa membelinya. Dari keterbatasan itu saya melihat potensi. Di rumah saya banyak sampah karena saya suka mengumpulkan barang bekas dan sampah. Lalu saya gabungkan kedua hobi saya yaitu melukis dan mengumpulkan sampah. Jadilah saya melukis dari bahan sampah. Sederhananya, sumber daya saya adalah sumber daya yang dibuang orang,” ungkap Ganjar kepada Youngsters.id.

Lewat buah tangan Ganjar, sampah plastik seperti bungkus permen, kopi, deterjen dan sampah plastik lainnya diolah menjadi karya lukisan yang unik dan menarik.

Kini  lukisan yang dikenal dengan GANJ ART Save Our Earth With Art juga telah menjadi koleksi di berbagai kalangan. Di antaranya, Menteri P3A Yohana Susana Yembise, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, pengusaha Mooryati Soedibyo, hingga kalangan selebriti seperti Deddy Cobuzier dan Irfan Hakim. Selain itu, lukisan GANJ ART juga beredar bukan hanya di Indonesia, namun juga sudah diekspor ke beberapa negara seperti, Jepang, Australia, USA, Macau dan Irlandia.

Sesungguhnya proses Ganjar untuk menjadi pelukis dengan karya yang dihargai ini berjalan cukup panjang. Pemuda ramah kelahiran Kebumen, 9 Mei 1991 ini mulai merintis usaha lukisan limbah plastik ini pada tahun 2013. Jatuh bangun dia rasakan, namun dia tak pernah berputus asa. “Saya pernah diremehkan orang. Saya pernah juga tidak dibayar penuh. Lalu pernah dimaki dan tidak dibayar lukisannya. Semua saya terima saja. Namun sukanya, saya bisa kenal banyak orang. Saya bisa menceritakan hal positif dari lukisan saya. Saya bisa mencari rezeki dari sampah yang dibuang orang,” ungkapnya.

 

Dari Hobi

Seniman yang tinggal di Bekasi ini mengaku melukis sejak SD. Awalnya dia menekuni itu sebagai hobi. Namun keadaan ekonomi dari keluarganya yang kurang tercukupi, memacu Ganjar untuk mencari uang sendiri agar bisa membiayai sekolah dan kuliahnya.

“Di kelas 3 SMA (16 tahun) saya membuat gantungan kunci batik untuk dijual sebagai uang jajan dan tambahan uang makan. Hidup saya dan keluarga prihatin saat itu. Lalu saya kuliah, mendapat beasiswa. Tapi saya tetap harus cari rejeki untuk makan dan biaya hidup,” ungkap alumni Universitas Gunadarma itu.

Saat kuliah, meski memedam malu, ia berjualan gorengan di kampus. Dia mengembangkan usaha dengan berjualan uduk, permen dan makanan ringan lain. “Saya pernah menjadi kurir deterjen cair. Saya juga pernah jual pembalut wanita, jadi debt collector hingga saya lulus kuliah,” kisah Ganjar.

Kendati begitu, hobinya melukis dan menggambar tetap dia lakukan. Di kampus dia kerap menggambar karikatur. Selepas kuliah, dia sempat bekerja di suatu perusahaan. Namun pendapatan yang dia peroleh jauh dari mencukupi. Bahkan untuk membeli kanvas dan cat saja ia tidak bisa.

Akhirnya sarjana Teknik Sipil ini memutuskan untuk berhenti bekerja dan memutar otak untuk mulai usaha. Kali ini dia ingin fokus menyalurkan hobi melukisnya menjadi karya bernilai. “Di rumah saya banyak sampah karena saya suka mengumpulkan barang bekas dan sampah. Lalu saya gabungkan dua hobi yaitu melukis dan mengumpulkan sampah. Melukis dari bahan sampah,” kata Ganjar.

Caranya terbilang unik. Setelah sampah plastiknya terkumpul banyak, ia membuat pola di atas sebuah kanvas atau kertas yang berukuran besar dengan menggunakan alat tulis. Setelah itu ia gunting sampah plastiknya satu per satu sesuai pola lalu ia tempelkan pada kertas atau kanvas yang sudah diberi pola sesuai yang ia inginkan. Ia pun mengombinasikan antara sampah dengan satu warna dengan warna lain agar terlihat menarik dan tidak membosankan.

Alat yang digunakan juga tidak terlalu rumit untuk ditemukan “Bahan yang mudah ditemukan dan harga terjangkau. Lem, penggaris, pulpen, gunting, cutter dan sampah (yang melimpah di sana sini). Hanya bingkainya dibuat exclusive agar menarik,” ucap Ganjar.

Hasil karya Ganjar dalam berbagai bentuk seperti lukisan pre wedding, lukisan keluarga, kado ulang tahun, anniversary, souvenir, dan lukisan mini. Berkat karyanya yang unik Ganjar pun kerap didapuk menggelar workshop tentang permberdayaan limbah, dan kegiatan peduli lingkungan hidup.

 

Ganjar Setyawan Cahyoaji, Mendaur Ulang Sampah Plastik Jadi Bernilai Seni (Foto: Dok. Pribadi/Youngsters.id)
Ganjar Setyawan Cahyoaji, Mendaur Ulang Sampah Plastik Jadi Bernilai Seni (Foto: Dok. Pribadi/Youngsters.id)

 

Aliran Baru

Di usianya yang masih muda sudah menghasilkan keuntungan hingga jutaan rupiah. Harga lukisan yang ia buat mulai dari Rp 200 ribu hingga puluhan juta rupiah. Tergantung dari ukuran yang di minta oleh pelanggan dan tingkat kesulitan yang ada. Hampir berbagai macam lukisan dapat dibuat olehnya. Mulai dari siluet, wajah orang yang ingin dilukis, modern, nature dan masih banyak lagi.

“Awalnya berat memasarkan lukisan ini. Sulit menawarkan pada orang lain dan membuatnya percaya bahwa sampah dapat menjadi berharga. Karena banyak yang menganggap rendah, remeh. Pernah dibayar tidak sesuai. Pernah tidak dibayar malah dimaki. Tapi alhamdulillah sekarang lebih baik,” kenang Ganjar.

Tanggapan masyarakat pun sangat mendukung kiprahnya di dunia seni lukis sampah ini. Bahkan tidak tanggung-tanggung dukungan itu datang dari berbagai kota. Beberapa kota di Indonesia seperti Sulawesi dan Semarang sudah memesan hasil karyanya untuk hadiah, pre wedding, dan sebagainya.

Namun dia tetap rendah hati. “Saya berpikir, saya tidak bisa lebih hebat dari senior di bidang seni. Lalu, bagaimana caranya saya bisa mendapatkan pasar? Ya saya buat aliran baru dalam melukis yaitu dengan sampah. Dan mendapatkan nilai tambah dari sampah tersebut,” kata Ganjar lagi.

Meski ada saja beberapa orang yang menganggap karyanya hanya sebuah sampah. Ganjar tidak pernah patah semangat. Ia tetap berhasil meraih berbagai prestasi, salah satunya adalah penghargaan Honorable Mentions di International Art Contest yang diselenggarakan oleh Asian Pacific Children Convention, Fukuoka, Jepang pada Januari 2014 lalu.

Ia mengaku dahulunya hanya ingin mendapat penghasilan sendiri untuk kebutuhan hidup. Kini mimpinya lebih tinggi lai. Dia berharap bisa menggelar pameran nasional dan internasional, memberikan workshop pelatihan melukis dari sampah dan menginspirasi tentang pentingnya menjaga lingkungan. Punya galeri untuk pendidikan seni semua umur dan membuat museum karya GANJ ART.

“Motivasinya dulu adalah menyelamatkan hidup, saya harus lebih baik dan mengubah keadaan keluarga. Kini saya berharap ini juga menjadi sarana saya untuk mengutarakan banyak pandangan pemikiran saya kepada orang banyak. Karena seni menurut saya adalah suatu kepedulian. Ketika orang bisa menghargai karya saya, ia pun akan berbuat baik kepada manusia, hewan, tumbuhan dan lingkungan,” pungkasnya.

 

=======================================

Ganjar Setyawan Cahyoaji

  • Tempat Tanggal Lahir : Kebumen 9 Mei 1991
  • Pendidikan Terakhir: Universitas Gunadarma jurusan Tehnik Sipil
  • Nama Brand : GANJ ART
  • Omzet : Rp 12 juta per bulan

Prestasi atau penghargaan yang pernah didapat  :

  • “Honorable Mentions” APCC International Art Contest 2014, Fukuoka, Japan
  • Idolanesia Award 2015 “The Best Inspiring Volunteer”
  • Idolanesia Award 2016 “Inspiring Caregiving Award:Professional Support”
  • Lembaga Prestasi Dunia Indonesia : “Lukisan sampah terbesar (180x200cm) bertema Kebudayaan Indonesia dan bendera Indonesia”
  • “First Annual SDS Award”
  • Lomba Desain Batik Nasional 2011

Beberapa Tokoh dan Selebritas yang mengoleksi lukisan sampah GanjArt :

  • Basuki Tjahaja Purnama (Gubernur DKI Jakarta)
  • Idza Priyanti (Bupati Brebes)
  • Susana Yohana Yembise (Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI)
  • Mooryati Soedibyo (Presiden Direktur Mustika Ratu)
  • Yusuf Mansyur
  • Irfan Hakim
  • Deddy Corbuzier
  • Becky Tumewu
  • Mohamad Burhan (Pencipta Arumba)
  • Tung Desem Waringin (Pakar Marketing Revolution)
  • Harjanto Prabowo (Rektor Binus)
  • Ita Sembiring
  • Donny de Keizer, dan masih banyak lagi

====================================

 

FAHRUL ANWAR

Editor : Stevy Widia

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY