David Christian : Berinovasi Sembari Turut Menyelamatkan Lingkungan

David Christian, founder & CEO Evoware (Foto: Fahrul Anwar/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Anda bakal tertarik dengan produk gelas yang satu ini. Pasalnya, produk berbentuk gelas berwarna-warni ini terbilang unik. Sepintas terlihat sama dengan gelas yang biasa dipakai untuk minum sehari-hari. Namun gelas yang menjadi wadah es krim, buah dan minuman lainnya ini bisa sekaligus dimakan. Ini bukan aksi sulap atau aksi sihir loh.

Pasalnya, ini adalah edible cups, yakni gelas yang bias dimakan. Jika gelas yang kita biasa gunakan sehari-hari berbahan baku plastik, kaca atau styrofoam yang tidak ramah lingkungan. Gelas ini terbuat dari bahan rumput laut yang alami tanpa pemanis buatan, tanpa gelatin dan gluten free. Dengan begitu, selain sehat karena tanpa bahan pengawet dan pewarna buatan, produk gelas ini bisa langsung dimakan dan mengenyangkan. Dan yang pasti wadah ini tidak menjadi timbunan sampah.

Gelas ini adalah produk pertama dari Evoware, sebuah startup yang dibangun oleh David Christian. Pemuda kelahiran Bandung yang sempat berdomisili di Canada ini mengaku terinpirasi dari keadaan lingkungan sekitar yang banyak menggunakan plastik.

“Evoware itu salah satu produk inovasi. Sebenarnya saya ambil dari kata evolution ware. Intinya apa yang kami lakukan di sini adalah ingin mengurangi penggunaan plastik. Kita tahu palstik itu terurainya lama dan bisa merusak lingkungan. Dari sinilah lahir ide untuk menciptakan Evoware,” ungkap David kepada Youngsters.id.

Persoalan sampah memang sudah meresahkan. Berdasarkan data Jambeck (2015), Indonesia berada di peringkat kedua dunia penghasil sampah plastik ke laut yang mencapai sebesar 187,2 juta ton, setelah Cina yang mencapai 262,9 juta ton

Sementara data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa plastik hasil dari 100 toko atau anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) dalam waktu satu tahun saja, sudah mencapai 10,95 juta lembar. Jumlah itu ternyata setara dengan luasan 65,7 hektare kantong plastik atau sekitar 60 kali luas lapangan sepak bola. Untuk itu KLHK menargetkan pengurangan sampah plastik lebih dari 1,9 juta ton hingga 2019

Dalam hal ini produk Evoware ingin turut ambil bagian pengurangan sampah plastik lewat usaha produki kemasan makanan yang ramah lingkungan. Pemuda kelahiran 26 September 1992 ini mengutip moto dari Steve Job, “Think different and change the world”. Dengan keyakinan itu, dia yakin produk inovasi yang dibuatnya dapat memberi dampak pada lingkungan sekitar. “Kami belum berharap mendapatkan keuntungan atau profit. Tetapi kami berharap dengan produk Evoware masyarakat dapat mulai mengurangi penggunaan plastik di lingkungan sekitar kita,” ujar David.

 

Ide Beda

David, terlihat bersemangat, lugas dan antusias mengenai bisnis rintisannya yang dibangun sejak November 2015.  Dia mengaku sesungguhnya ide untuk produk Evoware ini terinspirasi dari makanan Jepang berbentuk gelas yang ditontonnya di televisi dan internet. David yang ketika itu tinggal di Kanada mengaku sangat tertarik dengan konsep tersebut.

“Pulang dari Canada waktu itu, aku kepikiran ingin membuat sesuatu (produk) yang belum pernah ada dan bermanfaat. Apalagi di Jakarta ini melihat lingkungan di Jakarta itu jauh lebih kotor dari Canada. Aku terpikir untuk membuat produk wadah makanan seperti gelas yang bisa dimakan, seperti di Jepang itu,” kisahnya.

Namun, ternyata ide itu tidak mudah tertuang. Setelah mencari informasi, ternyata produk wadah makanan itu berbahan baku cumi. David tidak memiliki latar belakang pendidikan untuk membuat produk tersebut mengaku sempat kesulitan mewujudkan idenya itu.

Lulusan Diploma Canadian Collage ini lalu mengajak beberapa orang yang tertarik dengan ide itu untuk menentukan bahan-bahan apa saja yang bisa dipakai untuk membuat produk wadah yang bisa dimakan. Mereka melakukan riset untuk menentukan bahan baku, membuat desain cetakan hingga menentukan ukuran dan tebal gelas. Semua dilakukannya berulang kali, hingga akhirnya menemukan hasil yang paling sesuai dengan harapan. “Kata Thomas Alpha Edison, riset tidak mungkin hanya sekali tetapi berulang-ulang untuk mencapai hasil maksimal,” ujar David.

Akhirnya, David memilih bahan baku rumput laut sebagai bahan dasar produk tersebut. Menurutnya, rumput laut itu mirip jelly gelatin yang mudah dibentuk. Selain itu jika gelatin biasanya terbuat dari tulang hewan, terutama babi, dengan rumput laut produknya terjamin halal. “Rumput laut juga bermanfaat bagi tubuh dan mudah terurai,” jelas David.

Formula produk Evoware juga tanpa menggunakan pemanis buatan, memiliki kadar gula yang rendan dan gluten free. Dengan begitu, gelas Evoware aman untuk dimakan. Selain itu, jika tidak habis dimakan produk ini dapat terurai dalam 1-2 bulan dan menjadi humus bagi tanaman.

“Memang dalam proses pembuatannya ada proses kimia, tapi kami berusaha untuk sealami mungkin,” tegas David.

 

David Christian, melakukan inovasi dengan memproduksi Evoware, sekaligus turut membantu menyelamatkan lingkungan (Foto: Fahrul Anwar/Youngsters.id)
David Christian, melakukan inovasi dengan memproduksi Evoware, sekaligus turut membantu menyelamatkan lingkungan (Foto: Fahrul Anwar/Youngsters.id)

 

Beri Dampak

Setelah melewati proses ujicoba, akhirnya pada April 2016, David mulai memperkenalkan produk Evoware ini ke masyarakat luas. “Proses pemasaran memang agak lama, karena saya lakukan sendiri,” ujarnya.

Sedang untuk produksi, David baru memiliki dua orang karyawan. Menurut dia tenaga kerja itu cukup untuk memenuhi produksi. Bahkan, di akhir tahun 2016 dia mendapat pesanan 1.000 pieces untuk sejumlah kafe, restoran dan event. “Produk ini cukup mudah untuk dibuat,” ujarnya.

Bahkan David tengah mengembangkan produk wadah makanan yang lain dengan bahan yang sama. Dia berharap nanti produk Evoware akan dapat hadir di sejumlah kota. “Banyak masukan positif dari masyarakat setelah mereka tahu produk Evoware ini bisa mengurangi penggunaan plastik. Semoga bisa berkembang di kota-kota yang lain,” harap David.

Sesungguhnya pesanan Evoware mulai berdatangan dari sejumlah daerah, seperti Bandung, Surabaya, bahkan Papua. Namun David mengaku masih memilih untuk memperkuat pasar Jakarta. “Kami kendala dalam pengiriman. Produk gelas rumput laut ini saat pengiriman harus berada di suhu dingin. Makanya sekarang kami masih improve bagaimana mengatasi hal itu sehingga produknya tetap bagus,” ungkap putra kedua dari pasangan Sutrisna dan Enny Handayani itu.

Yang menarik, David mengaku belum memikirkan target profit. “Bagi aku jadi pengusaha itu harus punya value. Oleh karena itu, aku ingin beri impact dulu. Kalau profit itu merupakan hasil akhir dari apa yang kami lakukan. Aku berusaha untuk beri impact dulu, baru nanti profit,” tegasnya.

David berharap lewat produk-produk Evoware masyarakat dapat terinpirasi untuk mengurangi penggunaan plastik. Dan lebih peduli pada lingkungan sekitar. “Evoware akan terus berinovasi menciptakan produk yang dapat mengurangi dampak global warming dan kerusakan lingkungan. Sehingga suatu hari nanti kita dapat membuat bumi kita terutama negara kita menjadi jauh lebih baik lagi,” pungkasnya penuh harap.

 

============================================

David Christian

  • Tempat Tanggal Lahir : Bandung 26 September 1992
  • Pendidikan Terakhir: Diploma Canadian Collage – Business
  • Jabatan : Founder & CEO Evoware
  • Mulai Usaha : November 2015
  • Produk : Evoware
  • Harga jual : Rp 20 ribu/buah
  • Produksi : sekitar 1000 buah/bulan

==============================================

 

FAHRUL ANWAR

Editor : Stevy Widia

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY