Azka Asfari Silmi : Pembuat Mesin Pencari Sosial

Azka Asfari Silmi, Founder & CEO Geevv.com (Foto: Stevy Widia/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Perkembangan internet telah melahirkan mesin pencari (search engine). Dengan program ini maka kita seolah mendapat “pintu ke mana saja”, berbagai informasi dari seluruh dunia ada di sana. Namun, tahukah Anda jika mesin pencari juga bisa menjadi sarana untuk menyalurkan donasi bagi kegiatan sosial?

Selama ini orang mungkin hanya tahu mesin pencari seperti Google, Bing, Yahoo!, Baidu ataupun MSN. Sejatinya, ada banyak pengembang aplikasi yang menawarkan layanan serupa. Di Indonesia juga ada mesin pencari: cangkok.com (www.cangkok.com), findtoyou.com (www.findtoyou.com), tukangcari.com (www.tukangcari.com) dan Geevv.com (www.geevv.com). Nah, yang terakhir ini berbeda dengan mesin pencari lainnya, Geevv menawarkan layanan lain berupa kesempatan untuk berdonasi bagi penggunanya.

“Geevv adalah search engine berbasis sosial yang bertujuan untuk memberikan dampak positif kepada masyarakat dunia. Kami berkomitmen untuk mendonasikan 80% pendapatan iklan untuk program sosial dan 20% lainnya untuk meningkatkan kualitas layanan dan situs Geevv,” ungkap Azka Asfari Silmi, CEO Geevv kepada Youngsters.id.

Perempuan muda yang masih duduk di bangku kuliah ini menerangkan program Geevv ini resmi diluncurkan pada 26 September 2016. Secara teknis, Azka mengakui cara kerjanya tak jauh berbeda seperti yang orang sering lihat dari Google. Namun secara prinsip, startup yang ini adalah social search engine.

Sejatinya, konsep mesin pencari sosial ini bukanlah yang pertama di dunia. Misalnya, sudah ada Benelab—search engine yang didukung oleh Bing yang mengumpulkan donasi untuk kegiatan sosial. Ada juga GoodSearch yang mendonasikan 50% dari penghasilan untuk sekolah-sekolah. Atau, Sleedo yang mendonasikan uang untuk World Food Programme. Dan, mereka menjadikan kegiatan browsing untuk mengumpulkan donasi. Langkah ini juga yang ditempuh oleh Geevv.

“Kegiatan browsing sudah jadi keseharian. Bahkan, bisa dibilang sudah jadi bagian dari gaya hidup, termasuk di Indonesia. Peluang ini yang kami lihat untuk menghadirkan social search engine di sini,” kata Azka.

Perempuan kelahiran Bandung, 26 maret 1995 ini  menjelaskan tiap satu pencarian yang berhasil dilakukan melalui situs Geevv.com, pengguna menghasilkan Rp10 di saldo donasi mereka. Angka itu akan terus berlipat seiring jumlah pencarian yang dibuat. Sederhananya, makin sering digunakan, berlipat pula donasi yang dihasilkan.

Uang donasi yang yang dihasilkan pengguna dapat terlihat langsung di pojok kanan atas situs pencarian. Azka menjelaskan bahwa jumlah uang donasi itu berasal dari pendapatan iklan yang masuk. Setelah mengambil 20% untuk profit perusahaan, sisa pendapatan sebesar 80% ditujukan untuk donasi.

“Cara penghitungannya adalah jumlah rata-rata iklan yang muncul dibagi banyaknya hasil pencarian,” terang Azka.

Hingga saat ini tercatat sekitar 550 ribu pengguna yang telah memanfaatkan Geevv untuk melakukan pencarian di belantara internet, sekaligus melakukan donasi. Dan pada 26 Februari 2017 di laman Geevv tercantum jumlah donasi yang sudah terkumpul berkisar Rp 62 juta lebih.

 

Titik Balik

Sesungguhnya, Azka bukanlah seorang programmer. Dia adalah mahasiswa semeseter IX Program Studi Ilmu Administrasi Fiskal, Universitas Indonesia. Ketika sedang sibuk menyelesaikan studi, tiba-tiba dia terjangkit sebuah penyakit yang mengharuskannya bergantung pada obat. Ini menjadi titik balik Azka untuk menjadi sosiopreneur.

“Di awal tahun lalu saya terkena penyakit yang mengharuskan saya bergantung pada rutinitas pengobatan. Di situlah titik balik saya, saya jadi berpikir apabila saya sudah tidak ada lagi di dunia ini apa yang telah saya berikan untuk kebaikan hidup orang lain,” kisah Azka.

Dari keinginan untuk memberi dampak kepada lingkungan sekitar, Azka mulai rajin mengikuti kegiatan sosial. Bahkan, dia ikut rela menjaga Ciliwung selama nyaris 24 jam dari kerusakan. Hingga akhirnya dia mengikuti serangkaian workshop yang berisi pelatihan tentang social startup. “Dari sanalah saya mendapatkan banyak ide dari kawan-kawan yang saya temui untuk membuat social search engine,” ujarnya.

Dengan tekad itulah, gadis berkerudung ini membangun Geevv. Dia menggandeng rekannya Andika Deni Prasetya yang juga masih duduk di bangku kuliah pada Program Studi Psikologi. Keduanya meminta bantuan rekan-rekan lain yang punya semangat sama.

“Dengan modal nekat, dan nodong teman-teman, Geevv berhasil dibuat dan mendapat respon yang sangat positif dari masyarakat. Hingga kemudian ada investor yang ingin menanamkan modalnya pada Geevv karena percaya pada nilai yang hendak disampaikan melalui Geevv,” ungkap Azka.

Dia mengakui awalnya Geevv hanya memanfaatkan teknologi sendiri. “Awalnya kami mengembangkan sistem sendiri, tapi karena terlalu berat, akhirnya kami memanfaatkan Bing dari Microsoft,” tutur Azka.

Apalagi, Geevv mendapat dukungan lewat program BizSpark dari Microsoft. BizSpark merupakan salah satu inisiatif Microsoft untuk menyediakan layanan dan dukungan bagi startup selama 3 tahun secara gratis, meliputi software, layanan, dukungan teknis, serta layanan komputasi awan Azure Cloud.

Geevv saat ini juga menggandeng pihak ketiga untuk menyalurkan dana donasi. “Sebelumnya kami memang menyalurkan donasi sendiri, tapi untuk bantuan di Aceh dan Bima kami menyalurkannya melalui Aksi Cepat Tanggap (ACT),” ujarnya. Dengan menggandeng pihak ketiga, maka ia dapat membantu meyakinkan orang lain mengenai informasi donasi yang disalurkan.

Tak heran jika dalam waktu cukup singkat, Geevv bisa menyalurkan donasi sebesar Rp 26 juta. Menurut Azka, pencarian donasi itu dibagi atas dua kegiatan. Pertama donasi yang terkumpul lewat kampanye Hari Guru yang dilaksanakan pada bulan November.

“Lewat kampanye itu kami berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp 4.000.000 untuk TK Bang Jack. Angka tersebut dicapai berkat jasa teman-teman yang melakukan pencarian di Geevv.com. Donasi ini kemudian akan dipergunakan untuk keperluan kejar paket C dua orang guru di TK tersebut, yaitu Bu Indah dan Bu Sukaeni,” papar Azka.

Kemudian Geevv menjalin kerja sama dengan ACT untuk menjaring donasi bagi korban bencana gempat di Pidie Jaya dan banjr bandang di Kota Bima. Jumlah pencarian secara keseluruhan mencapai angka 2.200.000 pada bulan Desember hingga Januari. “Dari pencarian tersebut, telah terkumpul donasi sejumlah Rp22 juta. Dana ini kemudian disalurkan untuk korban bencana Aceh dan Bima dengan jumlah masing-masing Rp11.000.000. Penyaluran dana ditujukan untuk memenuhi kebutuhan trauma healing dan perbaikan berbagai fasilitas umum,” jelas Azka lagi.

Di sisi lain, penyaluran donasi Geevv dipertanggungjawab secara transparan. “Sebagai bentuk tanggung jawab dan transparansi, Geevv secara berkala mempublikasikan laporan penyerahan donasi ke situs Geevv,” ucap Azka.

 

Salah satu donasi yang diberikan Geevv.com kepada TK Bang Jack (Foto: Dok. Geevv.com/Youngsters.id)

 

Target

Toh, Azka mengaku sempat merasa tidak percaya diri menjalankan bisnis ini. Apalagi Geevv sempat berganti-ganti formasi. “Namun melihat antusiasme para donator, user dan tim saya sendiri, saya kembali menemukan alasan untuk terus menekuni Geevv,” ujarnya.

Azka juga mengaku terbebani dengan tingginya angka kemiskinan di Indonesia. Menurut World Bank masih ada 26 juta orang Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan. Di antaranya ada 2,3 juta anak yang berusia 7-15 tahun yang tidak dapat mengakses pendidikan.

Oleh karena itu, Azka menganggap potensi dari mesin pencari yang dapat dikembangkan masih sedemikian luas, dan ia ingin potensi tersebut dapat menyalurkan minatnya terhadap isu sosial.

Kini, pada platform Geevv tersedia lebih dari 5,53 miliar pencarian setiap harinya. Itu artinya lebih dari 166 miliar pencarian dilakukan setiap bulan. “Bayangkan jika penghasilan dari setiap pencarian dikonversikan menjadi donasi untuk mengatasi masalah sosial di Indonesia. Kita dapat membantu 9.960.000 anak Indonesia untuk mengakses pendidikan tinggi setiap bulannya. Atau bahkan membangun 4.256 rumah sakit di seluruh Indonesia setiap bulan,” kata Azka antusias.

Dia membadingkan, di Indonesia jumlah pengguna Google terbilang cukup fantastis. Berdasarkan survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) per Oktober 2016, ada 81,8 juta pengguna internet Indonesia memakai Google Chrome sebagai browser utama.

Jika Geevv bisa  mendapat 2% saja dari market share mesin pencarian di Indonesia, maka akan dapat lebih berdampak lagi bagi kegiatan sosial.

“Setidaknya 2% dari market share yang ada sekarang, itu sudah besar lho kalau kita lihat dari potensi yang ada. Sedangkan dalam waktu lima tahun ke depan target kita 5%,” tutur Azka.

Gadis yang tengah menyusun skripsi ini mengakui Geevv tak akan mudah mencapai target itu. Apalagi mengingat sejarah mesin pencari lokal beberapa tahun belakangan tumbang satu per satu digilas oleh kecanggihan algoritma Google.

“Saya tak ingin muluk bermimpi menyaingi Google, setidaknya dengan sumber daya yang masih sangat terbatas. Ini adalah social search engine, bukan local search engine. Angka yang kecil dapat menjadi besar jika kita lakukan bersama, dan menjadi berdampak jika kita buktikan dengan langkah nyata,” pungkas Azka.

 

==============================================

Azka Astari Silmi

  • Tempat Tanggal Lahir             : Bandung, 26 maret 1995
  • Pendidikan                              :  Semester IX Program Studi Ilmu Administrasi Fiskal, Universitas Indonesia
  • Bisnis                                      : Geevv (search engine)
  • Mulai usaha                             : 26 September 2016
  • User                                         : 550 ribu
  • Donasi terkumpul                    : per Februari +/- Rp 62 juta

==========================================

 

STEVY WIDIA