Andhika Mahardika : Dedikasikan Hidupnya Untuk Pertanian

Andhika Mahardika, Founder dan CEO Argadaya (Foto: Raden Dibi Irnawan/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Apakah kita sudah benar-benar merdeka? Pertanyaan yang belakangan santer dilemparkan oleh netizen di berbagai forum media sosial. Pertanyaan tersebut timbul karena masyarakat merasa bahwa kemerdekaan sekarang ini tidak dirasakan oleh semua orang, merdeka tetapi banyak yang masih tidak sejahtera hidupnya. Termasuk kaum petani Indonesia.

Miris, mengingat betapa signifikan peran pertanian bagi negeri ini. Pemikiran tersebut yang mendorong Andhika Mahardika, seorang sarjana teknik mesin untuk ikut turun ke dunia pertanian: meningkatkan kualitas hidup petani.

Pada tahun 2013, bersama dengan tiga orang kawannya, Ella Nurlaila Tuttaqwa, Nurrachma Asri Saraswati, dan Veawati mendirikan Argadaya. Sesuai filosofinya, Argadaya ini bermakna usaha yang maksimal di bidang pertanian. Melalui Argadaya ini Andhika ingin mendedikasikan hidupnya untuk membantu para petani dan dunia pertanian.

“Saat itu saya merasa sayang sekali jika hidup ini saya habiskan sendiri, tidak berbagi dengan orang lain. Sepertinya hidup saya tidak bermakna jika seperti itu. Hidup yang sebentar ini harus memiliki arti,” ungkapnya kepada Youngsters.id.

Untuk itu, selama tiga tahun dia berjuang lewat Argadaya melakukan pendampingan kepada para petani dan kaum perempuan di beberapa desa di pinggiran Yogyakarta.

“Sayang sekali, Indonesia negara agraris tapi generasi mudanya kurang peduli pada pertanian. Padahal pertanian memiliki potensi yang besar untuk kemajuan negara ini. Selama ini banyak wacana memajukan pertanian Indonesia, termasuk tentang ketahanan pangan, namun kenapa hal itu tidak masuk dalam pendidikan,” ujar Andhika. “Cara bertani selama ini hanya diceritakan turun temurun dari orang tua, jadi cara bertaninya itu-itu saja dari dulu, tidak ada inovasi. Menurut saya penting pengenalan pertanian sejak dini pada generasi muda kita,” tambahnya.

Agradaya, menurut Andhika, melakukan intervensi dalam pola-pola pertanian dan proses produksi pangan, sehingga apa yang petani jual memiliki nilai tambah. Sebagai contoh, Agradaya membangun instalasi khusus untuk mengeringkan hasil bahan pangan. Bahan pangan, misalnya rempah, yang sudah dikeringkan lantas diolah menjadi berbentuk bubuk dan dijual dalam bentuk kemasan.

Sekarang Agradaya sudah dipercaya oleh komunitas di desa tersebut dan telah berhasil memberdayakan tidak hanya petani, namun juga ibu-ibu rumah tangga. Tercatat sudah ada 20 ibu rumah tangga lokal yang mengikuti kegiatan pembuatan kombucha Agradaya. Saat ini Agradaya sudah menaungi 3 kelompok tani di Minggir dan Kulonprogo dengan total kurang-lebih 130 petani.

 

Kegelisahan Untuk Lingkungan

Sesungguhnya Andhika dan teman-temannya sempat mengecap pekerjaan dengan posisi dan penghasilkan yang menggiurkan. Namun kegelisahan mereka akan lingkungan sosial di sekitar membuat mereka ingin berbuat hal yang lain.

Menurut Andhika, dia dan teman-temannya memiliki visi untuk mengembangkan sumber daya lokal. Pertanian menjadi pilihannya karena melihat kondisi para petani yang memprihatinkan. “Petani kita cenderung susah menerima tekonologi baru, mereka tidak mau mengambil resiko dengan mencoba hal baru. Jadi teknik yang telah lama mereka lakukan dan biasanya diwarisi secara turun temurun dari orang tuanya itulah yang dilakukan. Jadi teknik bertaninya itu-itu saja”, tambah lelaki lulusan Teknik Mesin Universitas Diponegoro itu.

Oleh karena itu, mereka mencari daerah yang benar-benar baru. Lelaki kelahiran tahun 1988 tersebut pun memutuskan pindah ke Desa Sendangrejo, Minggir, Sleman. “Selama kurang lebih 3 bulan di sana, kami mengamati bahwa banyak permasalahan yang berkaitan dengan pertanian. Maka dari itu kami memutuskan untuk fokus pada masalah pertanian dan turunan-turunannya,” ungkap Andhika.

Dalam usahanya memberdayakan petani, Agradaya bekerja sama dengan berbagai pihak, terutama kelompok-kelompok yang mengerti berbagai hal yang spesifik tentang pertanian. Hasil dari kerjasama itu meliputi cara tanam baru yang lebih efektif bagi petani. Sayangnya, karena cara tanam baru tersebut berbeda dengan apa yang biasa dilakukan oleh petani di desa itu, petani enggan menggunakannya.

“Kami pun mencoba menjadi contoh dengan cara menggarap lahan sendiri menggunakan cara tanam yang kami sarankan tersebut. Setelah petani melihat bahwa apa yang kami lakukan bisa memberikan keuntungan dan bahkan lebih baik dibangdingkan cara yang biasa mereka lakukan, barulah para petani percaya pada apa yang kami lakukan untuk mereka,” ungkap Andhika.

Karena sukses mempelopori penanaman beras merah sebagai komoditas tani di Desa Sendangrejo, petani lain pun akhirnya berani menanam beras merah di sawah mereka. Panen beras merah menguntungkan bagi petani karena nilai jualnya yang jauh lebih tinggi dibandingkan jenis beras yang dulu umum ditanam di desa tersebut, beras IR 42.

Selain pendampingan pada petani, Agradaya juga melakukan pendampingan pada perempuan di Desa Sendangrejo. Mereka mendampingi ibu-ibu rumah tangga untuk membuat emping melinjo. Bahan baku mereka sediakan, begitu juga bantuan pada alat yang dibutuhkan untuk membuat emping. Jasa membuat emping mereka hargai Rp 7000/kg. Awalnya yang terlibat hanya satu orang ibu rumah tangga, kini telah menjangkau sekitar 11-12 orang. Emping hasil perempuan desa itu kini sudah menembus pasar ekspor. Permintaan tak tanggung tanggung, mencapai satu ton/bulan.

 

Andhika Mahardika saat menjadi salah satu narasumber pada acara peluncuran hack-a-farm di @america, Jakarta (Foto: Raden Dibi Irnawan/Youngsters.id)
Andhika Mahardika saat menjadi salah satu narasumber pada acara peluncuran hack-a-farm di @america, Jakarta (Foto: Raden Dibi Irnawan/Youngsters.id)

 

Pengembangan Komunitas

Tentu saja, keberhasilan itu tak datang begitu saja. Andhika sempat ikut kegiatan Indonesia Mengajar dan menjadi guru bantu di SD 06 Payabakong, Kabupaten Aceh Utara (2012-2013). Saat itu dia mengaku belum memiliki pikiran untuk menjadi sociopreneur.

Menurut Andhika, pilihannya itu sempat membuat kedua orang tuanya terkejut. “Saat saya selesai mengajar dan berniat membangun Agradaya, orang tua kaget. Tapi intinya orang tua memang butuh diyakinkan. Apalagi saat Agradaya sudah berjalan, mereka senang karena tidak hanya menghasilkan keuntungan, namun pekerjaan ini juga bermanfaat bagi orang lain,” tutur lelaki yang murah senyum itu.

Andhika mengaku bahwa tantangan paling berat yang dirasakannya selama bergelut di bidang ini adalah mendamaikan diri. Maksudnya adalah menjaga diri agar selalu ingat akan motivasi di balik pilihan hidupnya sebagai sociopreneur dan tidak tergoda untuk mementingkan kepentingan diri sendiri.

“Saat kita sudah bisa berdamai dan sinkron antara hati dan pikiran, semuanya akan terasa lebih mudah,” jelasnya.

Menurut Andhika, jika dibandingkan dengan pilihan karir lain atau yang murni sebagai entrepreneur, sociopreneur bisa dibilang memang lebih menantang. Pasalnya, tidak hanya memikirkan profit, namun seorang sociopreneur juga memikirkan bagaimana caranya hal yang dilakukan bisa tetap memberi dampak bagi komunitas.

Sejak awal keuntungan moneter tidak pernah menjadi tujuan utama lelaki ini. Dia menerangkan bahwa semangat Agradaya adalah pengembangan dan pemberdayaan komunitas.

“Dari kami berempat tidak ada background bisnis maupun pertanian. Jadi kami belajar bisnis dan pertanian sambil berjalannya Agradaya saja. Ibaratnya sambil berlayar membangun kapal,” tutur lelaki asli Pemalang tersebut.

Agradaya yang pada tahun pertamanya bernama Agrarice, sempat mengalami bongkar pasang formasi. Andhika menjelaskan bahwa dari keempat pendiri awalnya, kini hanya ada dua orang yang masih bertahan di sana.

Tidak hanya itu, dia juga mengaku sempat kesulitan menjaga Agradaya tetap berjalan karena masalah finansial. “Sempat kami hampir menyerah karena aliran keuangan yang belum lancar. Kami menggunakan tabungan pribadi untuk mendanai Agradaya. Pada akhirnya kami melihat apa yang sudah kami keluarkan itu sebagai biaya pembelajaran,” kenang Andhika.

Berkat sikap yang positif dan lini usaha Agradaya yang berjalan baik, dia berhasil melancarkan aliran dana yang sebelumnya menjadi momok.

“Ketika kita bekerja untuk diri sendiri maka kita akan bahagia, tapi jika kita bekerja untuk kebahagiaan orang lain maka itu adalah tujuan kebahagiaan yang tertinggi,” prinsip tersebut yang dipegang teguh oleh Andhika hingga kini.

 

==================================

  • Andhika Mahardika
  • Tempat Tanggal Lahir : Pemalang, 13 Desember 1988
  • Pendidikan Terakhir : Teknik Mesin Universitas Diponegoro
  • Nama Perusahaan : Agradaya
  • Mulai Usaha : Tahun 2013
  • Pencapaian : Saat ini Argadaya menaungi 3 kelompok tani di Minggir dan Kulonprogo dengan total kurang-lebih 130 petani. Juga, memberdayakan 20 ibu rumah tangga untuk memproduksi emping

==================================

 

RADEN DIBI IRNAWAN

Editor : Stevy Widia

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY