Alia Noor Anoviar : Berdayakan Masyarakat Miskin Metropolitan Lewat Bisnis Sosial

Alia Noor Anoviar, Founder Dreamdelion Community Empowerment (DCE) (Foto: Fahrul Anwar/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Kota metropolitan seperti Jakarta menyimpan dua sisi kehidupan yang berlawanan. Di satu sisi gemerlap layaknya kota besar dunia dengan gedung pencakar langit, mobil hilir mudik lengkap dengan kaum pekerja dan intelektual. Di sisi lain, masih ada masyarakat terpinggirkan, anak-anak putus sekolah dan pengangguran.

Kedua sisi yang saling bertolak belakang ini menggugah sejumlah pihak. Mereka tergerak untuk berbuat sesuatu yang dapat menjembatani dua sisi ini. Paling tidak kesenjangan sosial bisa sedikit berkurang Salah satunya adalah Alia Noor Anoviar. Gadis manis ini melakukan gerakan pemberdayaan masyarakat lewat bisnis sosial yang dirikannya: Dreamdelion Community Empowerment (DCE).

“Melihat kondisi ketimpangan ibu kota Indonesia, saya tergerak melakukan perubahan. Di sini saya coba menginisiasi gerakan pemberdayaan masyarakat bernama Dreamdelion Community Empowerment. Keberadaannya dilatarbelakangi oleh permasalahan sosial dengan kondisi masyarakat yang memiliki keterbatasan akses pekerjaan, kesehatan, dan pendidikan,” ungkap Alia kepada Youngsters.id.

Dengan suara yang terdengar bersemangat ia menceritakan, gerakan yang disebutnya komunitas bisnis sosial.  Gerakan yang didirikan pada 18 Juli 2012 bermula dari program mahasiswa untuk memberdayakan masyarakat yang tinggal di kawasan pemukiman kumuh, bantaran kali Manggarai.

Kini, gerakan itu telah berhasil memberdayakan ibu-ibu rumah tangga untuk membuat kerajinan tangan dan merchandise Dreamdelion. Selain mengembangkan bisnis sosial, DEC juga membentuk tiga komunitas pemberdayaan yaitu Dreamdelion Cerdas, Dreamdelion Sehat, dan Dreamdelion Kreatif. Dreamdelion Cerdas menyasar anak-anak usia sekolah. Sedangkan, program Dreamdelion Sehat bertujuan menekan permasalahan di bidang kesehatan dan lingkungan. Sementara itu, Dreamdelion Kreatif tujuan utamanya adalah meningkatkan keahlian masyarakat binaan untuk mencapai kemandirian.

“Saya memiliki tekad dan niat untuk mengembangkan anak-anak dan masyarakat yang tinggal di daerah marginal agar bisa berubah lebih terampil dan lebih terdidik,” kata wanita kelahiran 13 Agustus 1991.

Kini DCE tak lagi hanya bergerak di Jakarta, tetapi juga mulai memberdayakan masyarakat di Yogyakarta, Ngawi, dan Garut. Sanggar Belajar Dreamdelion Cerdas telah hadir di dua kota yaitu, Jakarta dan Yogyakarta. Di Jakarta sanggar ini membimbing sekitar 60 siswa dan di Yogyakarta 25 siswa.

Atas kontribusinya memberdayakan masyarakat, Alia mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Termasuk  Kartini Next Generation bidang Sosial Kemasyarakatan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika RI.

 

Penolakan

Ide bisnis sosial ini berawal ketika Alia sebelumnya ikut program pertukaran mahasiswa selama empat bulan di Mahidol University International College Thailand. Dalam program ini, alumni FEUI 2009 memahami tentang skema bisnis yang mempunyai kepedulian terhadap kondisi sosial masyarakat. Bisnis yang tidak sekadar menghasilkan uang, tapi juga punya kepedulian terhadap orang-orang yang kurang beruntung yang tinggal di sekitarnya. Dari situlah terbetik ide Alia untuk menerapkan konsep tersebut di Indonesia.

Sepulang dari Thailand, Alia mengajak sejumlah rekan mahasiswa untuk mulai menginisiasi gerakan DCE. “Awalnya sanggar ini adalah proyek untuk lomba Pekan Kreativitas Mahasiswa kategori Pengabdian Masyarakat yang ternyata dapat berjalan secara kontinyu,” ungkapnya.

Nama Dreamdelion dipilih dengan filosofi agar kegiatan ini dapat mengembangkan komunitas masyarakat lokal, dan kemudian menyebar bak bunga Delion yang tertiup angin.

Modal Alia adalah komitmen, dan kenekatan. Tapi, itu saja tidak cukup. Karena, tidak akan ada orang yang mau mendanai orang yang berusaha dengan modal kenekatan dan komitmen. Namun, Alia punya tujuan lain yaitu, dengan usaha yang ia tawarkan ada solusi untuk mengurangi sampah, dan memberdayakan masyarakat.

Dan kawasan Manggarai menjadi sasarannya. Pasalnya, kawasan bantaran kali Ciliwung ini terkenal sekali dengan tawuran. Namun dengan pemberdayaan masyarakat diharapkan tak ada lagi tawuran, melainkan mewujudkan Manggarai yang lebih berkarakter melalui peningkatan produktivitas warga. Tetapi niat baik tak selalu mudah dilakukan. Kegiatan ini tak mendapat sambutan hangat dari warga.

“Awalnya saya mencoba door to door, dan sempat mengalami penolakan dari masyarakat. Mereka memiliki semacam resistensi kepada mahasiswa. Pasalnya, banyak mahasiswa yang datang menawarkan program yang serupa, tapi mereka pergi. Jadi programnya tidak dilaksanakan. Mereka seolah diberi harapan palsu kepada ibu-ibu yang di sana,” kisah Alia.

Penolakan itu tidak membuat dia mundur. Setelah melalui pendekatan ke berbagai pihak, Alia dan teman-temannya berhasil mendapatkan jalan. Mereka melakukan pendekatan kepada Ketua RW setempat dan menjabarkan program yang akan mereka lakukan di Manggarai tersebut. Mereka menjelaskan bahwa mereka akan mengajak ibu-ibu untuk bekerja sama membuat merchandise dan kemudian menjualnya. Hasilnya sebagian akan masuk ke dana operasi Dreamdelion dan sebagian lagi untuk ibu-ibu yang membantu proses pembuatan merchandise atau kerajinan tangan Dreamdelion.

Mulanya, hanya 7 orang yang tertarik untuk diberdayakan. “Dari situ, Alhamdulillah ada 15 orang lagi yang bergabung. Yang jelas hambatan terbesar dalam memberdayakan masyarakat adalah mengubah pola pikir. Menurut saya tidak mudah mengubah pola pikir masyarakat yang tadinya tidak bekerja jadi memiliki kemauan bekerja,” ungkap perempuan yang bekerja di sebuah bank swasta itu.

Setelah melakukan pendekatan kepada pengurus RW ditambah sosialisasi ulang tentang apa saja manfaat yang bakal didapat oleh masyarakat, baru ibu-ibu tersebut mau menerima. Peserta yang ikut juga terus meningkat seiring dengan bukti yang diberikan oleh Dreamdelion bahwa mereka tidak hanya memberi janji. Ketika ibu-ibu yang bergabung sudah mendapatkan manfaat pemasukan uang tambahan, ibu-ibu lain yang awalnya meragukan akhirnya ikut bergabung dengan program ini.

Apalagi manfaat yang ditawarkan Dreamdelion tidak sebatas pemasukan tambahan bagi ibu-ibu yang membantu. Anak-anak mereka juga bisa mendapatkan pendidikan tambahan gratis dari Dreamdelion. Kerjasama yang saling menguntungkan inilah yang kemudian membuat Dreamdelion bisa diterima masyarakat.

 

Salah satu kegiatan pembelajaran di Sanggar Belajar Dreamdelion Cerdas (Foto: Fahrul Anwar/Youngsters.id)
Salah satu kegiatan pembelajaran di Sanggar Belajar Dreamdelion Cerdas (Foto: Fahrul Anwar/Youngsters.id)

 

Hambatan

Namanya usaha bisnis, tentu ada perhitungan untung rugi, meskipun ini lebih berat ke kegiatan sosial. Alia tentu berharap, agar masyarakat bisalebih banyak lagi menghasilkan keuntungan, meski hal yang dilakukan ini bernilai sosial. Karena dengan demikian kegiatan ini akan dapat dikembangkan ke daerah-daerah lain.

Hal itu ternyata tidak mudah. Menurut Alia, DCE sempat mengalami kesulitan saat memasarkan produk hasil karya mereka. “Ketika kami punya produk bagus tapi tidak dikemas secara bagus pula, itu juga merupakan kendala. Hal itu terjadi saat kita mendapatkan pesanan bros. Meski brosnya bagus, tapi karena packaging-nya kurang, produk itu dikembalikan, dan diganti sampai tiga kali. Karena konsumen tidak mau tahu soal itu. Kita pun harus profesional, dan berani menggaransi produk yang kita jual, terutama jika ada yang rusak,” ungkap Alia.

Ia kemudian menemukan solusi. Dalam program ini ia mengelompokkan para ibu-ibu dalam beberapa kelompok sesuai dengan kemampuan masing-masing. Ini untuk mempermudah penerapan program, dan mengetahui kemampuan masing-masing.

“Pengelompokkan itu berdasarkan level-level, mulai level 1 hingga level 4. Level 1 itu, kita masih memberikan semua materi, mulai dari bahan baku, pola dan model. Namun, saat ini sudah ada yang di level 3, yaitu mereka sudah mulai belanja bahan baku dan pola sendiri, sementara untuk level 4, mereka sudah bisa berjualan sendiri produk mereka,” jelas Alia.

Langkah ini berhasil. Produk dari Dreamdelion , buah tangan ibu-ibu bantaran kali Manggarai itu sudah diserap oleh Hotel Hilton Bandung, Indolicius Cafe dan UKM Center FE Universitas Indonesia.

“Motivasi untuk memproduksi lebih akan menghasilkan keuntungan yang lebih juga. Program ini pun bukan murni sosial, ada profit juga. Dan satu hal lagi, agar branding kita diakui dan dapat bertahan, kita harus berikan pelayanan terbaik dengan produk yang baik. Untuk pemasaran, kita bisa gunakan media sosial sebagai media promo produk dan image,” papar Alia.

Tak hanya membuat kerajinan, DCE juga mengadakan program sosial lain semisal pengobatan gratis dan sanggar belajar anak-anak. “Ini adalah upaya untuk memberdayakan masyarakat agar bisa menjadi lebih sehat secara fisik dan ekonomi,” ujarnya.

Dari Jakarta, lajang penggemar traveling ini juga membidik kota-kota lain yang masih terdapat anak-anak dan masyarakat marginal. Antara lain di Ngawi, Yogya, dan Garut. Alia mengaku tak ingat lagi berapa banyak masyarakat yang telah diberdayakan oleh Dreamdelion. Program yang dilakukan sama dengan yang di Manggarai. Tujuannya pun sama, untuk memberdayakan masyarakat agar lebih sejahtera.

Perkembangan ini juga membuat tim DCE berkembang pesat. Banyak anak muda tertarik dan terlibat dalam program ini. Sekarang tim inti Dreamdelion sudah mencapai 33 orang dan ada 150 volunteer yang tersebar dari berbagai perguruan tinggi seperti Universitas Indonesia, Bina Nusantara, Paramadina, dan beberapa universitas lainnya.

Dreamdelion masih mempunyai mimpi besar, yaitu mengembangkan bisnis sosial ini ke berbagai daerah lainnya. Agar daerah lain juga memiliki kesempatan untuk meningkatkan kualitas wawasan mereka. Dan niat baik tersebut lagi-lagi mendapat pertolongan, karena Dreamdelion sudah membuka cabang di daerah Dayeuhkolot. Mereka mendapatkan dukungan dari instansi pemerintah dan pihak swasta dalam pembukaan cabang kedua ini.

“Kami lagi mengubah community model, ke depannya akan lebih berfokus ke community development. Jadi sampai akhir tahun mau mempersiapkan hal tersebut,” pungkasnya.

 

=================================

Alia Noor Anoviar

Tempat Tanggal Lahir     : Surabaya, 13 Agustus 1991

Pendidikan  : FEUI Angkatan 2009

Pekerjaan   :

  • HR Profesional di sebuah bank
  • Founder Dreamdelion Community Empowerment (DCE)

Tentang Dreamdelion Community Empowerment (DCE) :

  • Merupakan sebuah komunitas pemberdayaan masyarakat miskin.
  • Didirikan pada 18 Juli 2012. DEC memiliki tiga komunitas pemberdayaan yaitu Dreamdelion Cerdas, Dreamdelion Sehat, dan Dreamdelion Kreatif.
  • Selain di Manggarai Jakarta, kegiatan DCE juga dilakukan di Ngawi, Yogya, dan Garut.
  • Saat ini DCE memiliki 33 tenaga inti dan 150 relawan.
  • Produk kerajinan Dreamdelion sudah diserap oleh: Hotel Hilton Bandung, Indolicius Cafe dan UKM Center FE Universitas Indonesia, dsb.

Prestasi  :

  1. Kartini Next Generation bidang Sosial Kemasyarakatan – Kemenkominfo
  2. Danamon Social Entrepreneur Award – Bank Danamon
  3. The Best Leadership in Socent – Sinergi Indonesia

=====================================

 

FAHRUL ANWAR

Editor : Stevy Widia

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY