Wirausaha Kecil Perlu Perangkat Penangkal Serangan Cyber Crime

Ilustrasi server rack . (Foto : Photothek/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Vendor pengamanan IT global Fortinet menghadirkan layanan terbarunya yaitu FortiGate 60 E. Perangkat ini diklaim dapat meningkatkan keamanan jaringan wirausaha kecil dari tingginya serangan siber terhadap sektor UKM.

Belakangan ini ini penjahat siber yang mengembangkan malware berjenis ransomware untuk melakukan pemerasan terhadap korbannya. Mereka menargetkan perusahaan kecil dan menengah (UKM) sebagai sasaran utamanya. Hal itu karena, sektor usaha kecil memiliki keterbatasan dalam solusi keamanan jaringan.
Untuk itu, para wirausaha kecil ini membutuhkan sistem keamanan yang canggih untuk mengantisipasi ancaman siber yang berkembang agar tidak mengganggu UKM dalam menjalankan bisnisnya.

“Keterbatasan solusi keamanan tradisional seringkali mengharuskan UKM untuk melakukan kompromi terhadap kinerja jaringan,” kata Michael Xie, Chief Technology Officer Fortinet dalam keterangan resminya, Senin (8/8/2016).

Berdasarkan laporan IT Security Risks 2016 dari Kaspersky Lab dan B2B International juga disebutkan sekitar 42% responden UKM mengakui crypto-malware merupakan salah satu ancaman paling serius yang dihadapi para pelaku UKM saat ini.

Untuk itu CTO Fortinet menghadirkan layanan FortiGate 60 E. Ini diklaim dapat membantu perusahaan untuk mengamankan jaringan dengan tingkat keamanan tinggi yang ditawarkan oleh Security Fabric Fortinet, sehingga tidak mudah diretas oleh pihak ketiga.

Menurut Xie, generasi ketiga arsitektur FortiASIC SOC3 System-on-a-Chip milik Fortinet juga dapat mengakselerasi peralatan keamanan seri baru FortiGate 60 E agar sistem keamanan terkonsolidasi dengan jaringan.

“Hal ini memungkinkan organisasi untuk memenuhi pertumbuhan persyaratan perangkat dan kinerja pada saat ini juga dan sampai ke masa depan, agar tidak diserang penjahat siber,” ujarnya.

Berdasarkan data Kaspersky Security Network (KSN), disebutkan jumlah serangan terhadap sektor korporasi pada periode 2015-2016 tumbuh sekitar enam kali lipat atau sebanyak 158.000 serangan malware jika dibandingkan dengan periode 2014-2015 yaitu sebanyak 27.000 serangan.

Serangan Ransomware juga telah menimbulkan kerugian yang tidak sedikit bagi para korbannya. Berdasarkan catatan Kaspersky, hingga kuartal I/2016, kerugian para korbannya ditaksir mencapai angka sebesar US$209 juta. Angka ini meningkat tajam jika dibandingkan dengan angka sepanjang 2015 yang kerugiannya hanya mencapai sekitar US$25 juta.

STEVY WIDIA

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY