UI Gelar Festival Film Etnografi Pertama di Indonesia

Adegan film Cahaya Dari Timur yang digelar pada Indonesia Etnographic Film Festival di UI. (Foto: Istimewa/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat bekerja sama dengan UI menggelar festival film etnografi internasional pertama di Indonesia. Kegiatan yang bertajuk “Indonesia Etnographic Film Festival” ini akan berlangsung pada16—18 November di area Perpustakaan UI Depok.

Frangki Raden, Ph. D. direktur acara ini dalam siaran pers UI mengatakan, tujuan dari kegiatan ini adalah melakukan pengeksposan keragaman budaya Indonesia ke tingkat dunia melalui film. Selain itu, tujuan lainnya adalah melakukan pengenalan ke generasi muda tentang apa yang disebut dengan etnografi film sehingga diharapkan kalangan muda tertarik dan mengenal kebudayaan bangsa sendiri.

Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, panitia menyiapkan beragam kegiatan seperti kegiatan workshop film, seminar tentang budaya dan perfilman, pemutaran film, dan pertunjukan musik. Di hari pertama, Garin Nugroho dan Glenn Fredly memberikan materi diskusi yang menarik pada sesi workshop dan seminar tentang bagaimana memasukkan unsur budaya di suatu film, khususnya film etnografi.

Menurut Garin, bila ingin memasukkan unsur-unsur budaya Indonesia ke suatu film, perhatikan unsur-unsur budaya yang ada di masyarakat seperti gerak, suara, siklus hidup, serta benda-benda.

“Semua unsur-unsur tersebut bercerita, setiap benda menyimpan tanda dan kegelisahannya masing-masing. Jejak-jejak budaya tersebutlah yang pada akhirnya membentuk visual tentang ke-Indonesiaan,” ujarnya.

Garin juga menambahkan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat melodramatik yang menyukai tangisan dan rasa haru, sehingga film yang cocok untuk masyarakat kita adalah film bercerita.

Pendapat ini didukung oleh Glenn Fredly, penyanyi terkenal Indonesia, yang menjadi narasumber di sesi seminar.Posisinya sebagai produser film Cahaya di Ujung Timur, memberinya banyak pelajaran tentang bagaimana suatu film bisa menjual.

“Rata-rata film etnografi dibuat dengan style dokumenter yang diisi oleh gambar-gambar realistis dan kurang bercerita, di film “Cahaya” saya berusaha memasukkan juga unsur cerita yang kuat, sehingga enak untuk ditonton,” jelasnya.

Sebelum acara berlangsung, panitia telah mengumpulkan sejumlah film bertema budaya melalui laman resmi acara untuk selanjutnya diseleksi dan memilih terbaik dalam tiga kategori: drama, art, & ethnography document.

Selain itu, juga digelar pemutaran-pemutaran film etnografi dari sutradara-sutradara terkenal dalam dan luar negeri seperti Cahaya dari Timur (Angga D. Sasongko), Restrospective Film (Garin Nugroho), Street Punk Banda Aceh (Maria Bakkalapulo), dan Global Metal (Sam Dum).

 

STEVY WIDIA

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY