Transaksi Pembayaran E-Commerce Masih Konvensional

Pembayaran Elektronik. (foto : ilustrasi/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Pesatnya pertumbuhan penggunaan ponsel dan jaringan teknologi telekomunikasi membuat masyarakat dapat dengan mudah melakukan pembelian produk atau jasa secara daring. Namun ternyata transaksi pembayaran perdagangan elektronik (e-commerce)  masih konvensional.

“Dari proses transaksi (pembayaran e-commerce) di Indonesia, saat ini kami melihat masih banyak yang menggunakan direct transfer, utamanya melalui ATM. Ini artinya, mekanisme e-commerce saat ini belum mewujudkan suatu teknologi baru yang saat ini menjadi terobosan,” kata Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Kartika Wirjoatmodjo dalam siaran pers Indonesia E-Commerce Summit and Expo (IESE) Rabu (27/4/2016) di ICE Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang.

Kartika memaparkan, transaksi pembayaran e-commerce melalui direct transfer masih mendominasi dengan porsi sebesar 57 persen. Sementara pembayaran dengan cara Cash on Delivery (CoD) sebanyak 28 persen, Kartu Kredit tujuh persen, dan lainnya delapan persen.

Padahal pihak perbankan telah menyediakan beberapa mekanisme transaksi pembayaran e-commerce yang lebih digital. Diantaranya adalah Mandiri Click Pay, E-Cash hingga Bill Payment yang lebih memudahkan pengguna melakukan transaksi tanpa harus menyita banyak waktu.

Enggan

Disisi lain, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk masih enggan salurkan kredit ke perusahaan rintisan yang bergerak di bidang informasi teknologi atau yang kerap dikatakan startup.

Alasan utama karena dinilai tidak bankable. Ditambah kinerja yang belum membuahkan hasil dan revenue yang  masih kabur.

“Startup ini kan baru ide, kadang-kadang baru prototype. Kadang-kadang baru jalan tapi size-nya belum kelihatan. Kadang sizenya sudah jalan tapi revenue-nya belum jelas,” ujar Kartika.

Namun, dia meminta agar perusahaan startup mencari permodalan melalui modal ventura. Konsep pendanaan tersebut dinilai paling tepat untuk sebuah perusahaan baru berbentuk sebuah ide.

“Memang kredit bukan usulan yang tepat untuk diberikan kepada startup, yang tepat itu venture capital. Venture capital itu bagaimana memberikan pendanaan base on future prospek, bukan base on current operation. Mereka melihat bukan berdasarkan revenue atau cash flow. Dia melihat ide ini ke depan akan menjadi scalable dan bisa menghasilkan revenue atau tidak nantinya,” pungkas Kartika.

 

STEVY WIDIA

1 COMMENT

LEAVE A REPLY