Tiga Langkah Rahasia LINE Sukses di Indonesia

Ongki Kurniawan, Managing Director LINE Indonesia pada Marketing Stage di konferensi Tech in Asia Jakarta 2016.(Foto: Stevy Widia/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - LINE merupakan salah satu dari tiga raksasa aplikasi chatting terbesar di kawasan Asia Tenggara. Untuk mencapai kondisi seperti sekarang ini, LINE menempuh perjalanan yang bisa dibilang tidak mudah sejak hadir di Indonesia pada tahun 2012. Ada tiga langkah penting yang membuat pertumbuhan LINE pesat di Indonesia.

Dengan jumlah pengguna mencapai lebih dari 90 juta orang, LINE kini bersaing ketat dengan Blackberry Messenger dan WhatsApp, baik itu dari segi pengguna atau inovasi produk agar sejalan dengan perkembangan perilaku masyarakat modern di Indonesia.

Hal ini diakui Ongki Kurniawan selaku Managing Director LINE Indonesia yang menjadi pembicara di Marketing Stage untuk konferensi Tech in Asia Jakarta 2016. Ongki menjelaskan, perkembangan pesat LINE tak bisa dilepaskan dari proses pengenalan dan edukasi pasar yang efektif pada tahun kemunculan LINE di Indonesia.

Menurut Ongki ada tiga formula penting yang selama ini membantu laju marketing LINE di Indonesia. Yaitu, Pentingnya pemilihan waktu, Laju inovasi fitur yang cepat serta Lokalisasi konten yang disesuaikan dengan demografis Indonesia.

Dia menjelaskan, para kurun waktu 2012-2013, Indonesia sedang mengalami fase booming penggunaan smartphone yang luar biasa besar. Ratusan ribu hingga jutaan masyarakat Indonesia ketika itu beralih dari Blackberry menuju platform smartphone yang lebih fleksibel. Beragam aplikasi yang menawarkan layanan komunikasi pun mulai bermunculan untuk merebut hati para pemakainya, salah satunya adalah LINE.

“LINE memperkenalkan dirinya sebagai aplikasi chatting dengan beragam fitur yang menyenangkan. Hal ini bisa dilihat dari pemakaian merebaknya stiker dengan gambar-gambar karakter yang cukup populer di mata para penggunanya. Karakter stiker seperti Brown, Cony, dan Moon bisa dibilang telah menjadi salah satu aset berharga bagi LINE,” ungkap Ongki.

Setelah proses edukasi dirasa cukup, pada tahun berikutnya LINE membingkai pesan baru untuk menggaet kalangan audiens yang lebih besar lagi. LINE membidik perilaku pengguna yang sering membagikan informasi lewat halaman media sosial. Untuk itu, mereka memilih film Ada Apa dengan Cinta (AADC) sebagai katalis pemicu respons pengguna media sosial di Indonesia.

Iklan AADC dirilis LINE guna mempromosikan salah satu fitur yang mereka miliki, yakni LINE Alumni. Fitur ini memungkinkan penggunanya untuk melakukan reuni dengan teman-teman mereka ketika masih sekolah dulu.

Pemilihan film Ada Apa Dengan Cinta dengan cerita pertemuan Rangga yang diperankan oleh Nicholas Saputra dan Cinta yang diperankan oleh Dian Sastrowardoyo berhasil menjadi tema marketing LINE Alumni yang sangat sukses. Keberadaan iklan ini berhasil menggenjot jumlah pengguna terdaftar untuk aplikasi LINE di Indonesia hingga 600 %.

Di tahun yang sama, LINE juga memanfaatkan penggunaan stiker dengan wajah karakter Rangga dan Cinta yang turut meningkatkan pengetahuan masyarakat terhadap fitur stiker milik LINE.Bisnis stiker LINE merupakan salah satu sumber utama pendapatan LINE pada tahun 2014-2015.

Saat LINE melakukan IPO pada pertengahan tahun 2016, total penghasilan dari penjualan stiker LINE pada tahun sebelumnya telah mencapai sekitar US$250 juta (sekitar Rp3,29 triliun).

Tahun lalu, LINE mulai memperkenalkan fitur telepon dan panggilan video gratis untuk membantu komunikasi dua arah para penggunanya. Untuk memperkenalkan fitur ini, LINE sengaja memilih hari raya Idul Fitri sebagai momen agar lebih mendekatkan produk mereka kepada audiens di Indonesia.

Pemilihan momen tadi sangatlah penting, karena LINE membantu proses komunikasi yang selama ini identik dengan proses silaturahmi di setiap perayaan hari raya Idul Fitri. Keberadaan panggilan video merupakan imbas dari laju inovasi LINE yang terus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan para pengguna. Selain itu, Ongki menegaskan bahwa pihaknya bakal lebih banyak lagi menggandeng partner lokal untuk menghadirkan lebih banyak layanan, mulai dari penggunaan LINE untuk keperluan pembayaran, aplikasi pemanggil ojek, dan lain-lain.

Dengan kombinasi ketiga pilar tadi di setiap proses marketing, Ongki mengungkapkan bahwa LINE telah mendapat peningkatan jumlah pengguna aktif bulanan sebanyak lebih dari 500 % dalam kurun waktu empat tahun.

 

 

STEVY WIDIA

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY