Startups Tingkatkan Okupansi Ruang Kantor di Asia Pasifik

Kehadiran startup membuat permintaan co-working space meningkat (Foto: Istimewa/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Perusahaan-perusahaan rintisan (startup) telah memunculkan kategori baru dari okupansi, dimana banyak perusahaan teknologi mengadopsi format yang tidak konvensional seperti ruang kerja bersama (co-working space).

Perangkat mobile, e-commerce dan kebangkitan fintech (teknologi keuangan) telah mendorong pertumbuhan pesat sektor teknologi di Asia Pasifik. Dampaknya, mendorong tingginya permintaan akan ruangan, baik ruang kantor maupun business park. India dan China merupakan negara yang paling cepat dalam mengadopsi platform mobile shopping, keuangan dan pembayaran yang inovatif. Saa ini, kawasan itu menjadi rumah bagi 7 dari 22 global unicorn fintech—startup yang memiliki value lebih dari US$ 1 miliar.

Di China, ada peningkatan permintaan untuk ruang kerja bersama dari perusahaan yang tumbuh cepat ini, dengan tren baru operator coworking menjadi penyewa jangkar di mal ritel. Jumlah ruang kerja di China telah berkembang dengan pesat. Pada tahun 2016, di Shanghai dan Beijing saja ada lebih dari 500 tempat co-working.

“Startup teknologi merupakan sumber permintaan leasing kantor Grade A di masa depan. Ini adalah kesempatan bagi investor real estat dan pengembang untuk menciptakan ruang yang akan memenuhi kebutuhan ini,” kata Megan Walters, Kepala Penelitian JLL Asia Pasifik.

Kendati begitu, lanjut Megan, pertumbuhan sektor teknologi yang berkelanjutan itu menghadapi sejumlah tantangan. Data terakhir dari JLL menunjukkan bahwa meningkatnya biaya tenaga kerja dan operasional, kesenjangan keterampilan, kurangnya kebijakan pemerintah yang mendukung, serta pengembangan real estat dan infrastruktur, tetap menjadi ujian utama bagi industri yang sedang berkembang.

Sementara itu, Christopher Clausen, Direktur Riset Associate JLL Asia Pacific, menyebutkan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan para pengembang. Antara lain: saat mencari ruang kantor, perusahaan teknologi mencari catu daya yang andal, dan ruang untuk ekspansi di masa depan di dalam gedung yang sama. “Pentingnya pasokan listrik berkualitas tinggi dan stabil ke perusahaan teknologi tidak dapat dilebih-lebihkan,” kata Clausen.

Selain itu, lanjut Clausen, perusahaan teknologi juga menginginkan pelat lantai besar yang memungkinkan fleksibilitas dalam tata letak. Lagi, perusahaan-perusahaan ini mengutamakan kualitas hidup bagi pegawainya, sehingga konektivitas transportasi merupakan faktor penting lainnya.

 

FAHRUL ANWAR