Pembuat Game Indonesia Masih Terbatas

Arief Widhiyasa, CEO dan co-founder Agate Studio (Foto: Anggie Adjie Saputra/Youngsters.ID)

YOUNGSTERS.id - Indonesia menempati peringkat 20 besar dunia, bahkan merupakan pasar game nomor dua di Asia Tenggara. Sayangnya, keberanian investasi untuk game masih sangat kecil.

Hal itu diungkapkan CEO Agate Studio, Arief Widhiyasa. “Orang yang investasi untuk membuat game masih sangat terbatas, bisa investor atau pelakunya sendiri yang investasi,” kata Arief yang dilansir Antara, Minggu(25/9/2016) di Jakarta.

Menurut Arief, investor bisa jadi belum menganggap industri game menarik, atau mungkin dari pelaku industri game belum mengkomunikasikannya kepada investor. Padahal, keuntungan game bisa cepat diukur karena prosesnya digital.

“Jadi, total uang yang diinvestaikan untuk game dibandingkan untuk film jauh lebih banyak untuk film, atau yang diinvestasikan untuk sinetron jauh lebih banyak untuk sinetron.
Film dan musik kita lempar ke pasar pilihannya rugi atau untung, tapi di game kita bisa bikin prototype mini, lempar ke pasar, lihat, lalu diperbaiki dengan melihat enggagement rate, sehingga bisa meluncurkan game yang tepat sesuai keinginan pasar,” ungkap Arief.

Sementara itu, dari sisi pemerintah, dia melihat inisiasi positif dengan lahirnya Bekraf untuk mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif. Bagi para anak muda yang tertarik di industri game, Arief berpesan agar banyak belajar, karena materi-materi game sudah banyak tersedia di internet.

“Masalahnya game itu belum banyak diajarkan, mungkin ada beberapa kampus yang sudah mulai mengajarkan game, tapi secara umum belum ada,” kata dia.

“Harus benar-benar ada passion dari orang tersebut, berani nanya ke banyak orang, belajar cari materi di internet dan cepat-cepat berkarya,” tambah Arief.

 

STEVY WIDIA

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY