Kultur Kerja Perusahaan TIK Harus Fun dan Kreatif

CHCO Telkom Group Herdy Harman saat memberikan materi dalam Talkshow & Scout Talent di Gedung Rektorat Universitas Airlangga (Unair), Kamis (8/12/2016). (Foto: PT Telkom/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Lingkungan kerja di perusahaan teknologi informasi komunikasi (TIK) membawa pengaruh besar pada program kerja, efektivitas dan efisiensi, pola pikir disruptif, serta aktivitas budaya perusahaan. Untuk memunculkan energi penciptaan, maka kultur kerja perusahaan TIK harus menyenangkan dan kreatif.

Demikian disampaikan Herdy Rosadi Harman, Chief Human Capital Officer (CHCO) PT Telkom dalam Talkshow & Scout Talent di Gedung Rektorat Universitas Airlangga (Unair), Kamis (8/12/2016).

“Tren global industri telematika menunjukkan perubahan signifikan. Perubahan-perubahan tersebut mendorong pola lama perusahaan TIK menjadi kurang relevan jika diterapkan. Budaya kerja baru, yang bertumpu pada iklim kreativitas dengan target kinerja terbaik, menjadi cara baru yang harus diterapkan,” ungkapnya.

Dia menyebutkan, rerata usia di industri telematika terkemuka antara lain di Facebook rerata 28 tahun, AOL (27 tahun), Amazon (31), eBay (32), IBM (38), dan Hewlett Packard (39). Selain usia muda, motivasi mereka dalam bekerja juga berkembang dari era sebelumnya. Mereka bekerja karena tertarik dengan lingkungan kerja, iklim kreativitas, training developement, hingga jenjang karir yang menarik.

Herdy mengatakan, sekalipun caranya baru tapi harus tetap bertumpu sejumlah filosofi inti. “Di sisi lain, kompetisi industri telematika juga ketat. Mayoritas sedang transformasi dari telecomunication company menjadi digital telecomunication company, operator seluler menjadi industri digital,” katanya

Untuk itu, perusahaan harus berpijak pada esensi dan kebermanfaatan sebuah program kerja, efektivitas dan efisiensi, pola pikir disruptif, serta aktivitas budaya perusahaan. Esensi harus diarahkan pada seberapa manfaatnya pada implementasi bisnis yang dilakukan perusahaan TIK. Jadi, bukan sekedar ada karena ujungnya sekedar cape.

“Kami contohkan ada Telkom Corporate University, ini kawah candradimuka kami.
Tapi keluarannya harus ada rekomendasi-rekomendasi bisnis buat bisnis operasional Telkom. Dan keluaran ini harus berbentuk keren namun berkelanjutan,” katanya.

Dengan pola lama industri TIK, yang keren biasanya butuh bea mahal. Akan tetapi, ujar eks Direktur HCM Telkomsel ini, dengan budaya baru eksisting, maka bea bisa ditekan karena kreatif yang ditonjolkan.

“Efektif dan efisien harus jadi prioritas karena kalo bagus tapi mahal dan lama maka itu biasa sekali. Ini juga harus dilakukan dengan pendekatan personal kepada tim kita, tak bisa disamaratakan,” katanya.

CHCO Telkom Group ini mengatakan, prinsip lain yang penting adalah spirit anti kemapanan namun berdampak massif atau biasa disebut disruptive dalam industri TIK. Ini membuat produktivitas jangan terpaku pola lama misalnya pekerjaan hanya bisa diproses di komputer personal.

“Di kami sekarang semua dokumen pekerjaan sudah bisa diproses dengan smartphone, bisa kapanpun dan dimanapun. Jadi, kultur yang fun dan kreatif ini harus tetap berpijak pada filosofi perusahaan yang kuat,” katanya.

Magister hukum American University, Amerika Serikat ini menambahkan, akumulasi kultur dan filosofi akan menciptakan budaya kerja perusahaan yang berkarakter.

Strong character, kata dia, adalah yang membuat banyak negara maju sekarang padahal merdeka-nya di belakang Indonesia seperti diperlihatkan Jepang, Malaysia, Korea Selatan.

“Digital telecommunication company harus selalu misi besar, harus bermimpi besar menjadi korporasi besar. Harus mega thinking, sehingga geraknya akan cepat dan signifikan,” tukasnya.

Dalam acara tersebut, PT Telkom juga menjaring calon karyawan langsung dari kampus terbaik di tanah air. Kegiatan serupa kemarin dilaksanakan di UI. Metode langsung jemput ini menggenapi metode rekrutmen reguler (online), ajang kreativitas (Socio Digi Leader), dan rekrutmen profesional.

Rektor Unair Prof. Mohammad Nasih mengatakan pihaknya memiliki 35.000 mahasiswa dengan tersebar di berbagai fakultas namun belum banyak yang bekerja di PT Telkom.

“Terima kasih sudah berkunjung. Kami siap berikan talenta terbaik, dari yang terkait misal Fakultas Ekonomi saja ada 7.000 mahasiswa. Kami juga ada teknik informatika walau baru lima tahun,” ujarnya.

Direktur Sistem Informasi Unair Edi Supeno menambahkan, pihaknya berharap lebih banyak yang memberi kail daripada ikan seperti dilakukan PT Telkom dalam kegiatan tersebut.

“Berikan motivasi kepada generasi muda, agar mau berkiprah kepada perusahaan bangsa. Jika sekarang belum banyak alumni berkiprah, maka nanti akan banyak dari Unair yang melamar Telkom,” pungkasnya.

 

STEVY WIDIA

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY