ITS-KKP Kembangkan Alat Deteksi Kesegaran Ikan

ITS dan KKP mengembangkan metode deteksi kesegaran ikan. (Foto: Ilustrasi/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan mengembangkan metode deteksi kesegaran ikan nondestruktif pada ikan tuna. Kerjasama ini dicetuskan melalui Loka Penelitian dan Pengembangan Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LPP-MPHP) Bantul.

Wakil Rektor IV ITS Bidang Penelitian, Inovasi dan Kerja Sama, Ketut Buda Artana Wakil Rektor IV ITS Bidang Penelitian, Inovasi dan Kerjasama, mengatakan ITS berencana turut membantu untuk mendukung poros maritim dunia terkait isu yang pernah diberikan oleh KKP.

“Kami akan mengakomodasi riset penentuan parameter uji kesegaran ikan melalui perubahan citra mata ikan dan bau serta pengujian kinerja dan analisa sistem alat dengan menggunakan fasilitas laboratorium komputasi multimedia ITS,” katanya dalam siaran pers baru-baru ini di Surabaya.

Adapun kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan memorandum of understanding (MoU) oleh ITS yang diwakili Ketua LPPM ITS, Adi Soeprijanto dan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Daya Saing Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan KKP, Nugroho Aji.

Ketua Departemen Teknik Elektro ITS Eng Ardyono Priyadi mengatakan perjanjian tersebut akan menghasilkan data, informasi, serta hasil pengujian yang telah dilakukan. Ia berharap hasil pengujian ini tepat mengenai sasaran kepada para nelayan kecil.

“Selain penelitian ini, ITS juga akan melakukan penelitian mengenai energi alternatif berasal dari air laut yang dikatalis,” imbuhnya.

Adapun cara mendeteksi kesegaran ikan tersebut yakni melalui sensor bau dari kandungan alat amoniak pada ikan serta sensor citra gambar untuk mata ikan. Ikan diletakkan pada alat itu, kemudian lewat sensor akan diketahui, apakah ikan itu memang masih dalam kategori segar, layak konsumsi atau bahkan dikategorikan rusak.

Dia menjelaskan potensi tuna di perairan Indonesia sangat besar, karena itu untuk melindungi konsumen sekaligus juga nelayan saat memasok hasil tangkapan mereka, alat deteksi tersebut diharapkan dapat membantu peningkatan produksi ikan tuna untuk kepentingan lebih besar lagi.

“Selama ini pemeriksaan hanya dilihat secara fisik, yang kerap kali saat akan dikonsumsi ikan tersebut sudah rusak. Dengan menggunakan alat ini, maka kepastian ikan masih dalam kondisi segar, layak konsumsi atau malah sudah rusak akan terdeteksi lebih awal,” ujarnya.

STEVY WIDIA

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY