Kiat Startup : Aplikasi Yang Baik Mengenal Penggunanya

(Foto: Ilustrasi/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Persaingan startup semaki ketat saja. Untuk itu diperlukan strategi dan kiat-kiat untuk dapat memenangkan persaingan. Salah satunya dengan membangun aplikasi yang baik yang sesuai dengan minat pengguna aplikasi itu.

Strategi ini disampaikan Hasanul Hakim selaku Head of Mobile Development Bukalapak dalam acara Gemastik 9 Universtitas Indonesia, seminar bertema “Enabling Smart Society Through ICT” yang digelar di Aula Terapung UI belum lama ini. Turut hadir dan Teguh Nugraha selaku Data Scientist Lead Bukalapak.

Menurut Hasnul mengatakan tampilan dari sebuah aplikasi juga mencerminkan kualitasnya. Menurutnya lagi, tampilan yang baik akan membuat aplikasi lebih mudah digunakan.

Di Bukalapak misalnya, Hasanul dan timnya mengubah tampilan menu aplikasi dari model hamburger yang memperlihatkan menu berjejer menjadi model tabs seperti yang digunakan oleh aplikasi populer Instagram dan Path.
Hal ini terbukti meningkatkan paid rate sebesar 5 persen dan CVR sebesar 0,1—0,2 persen. Itulah sebabnya penting untuk berkonsultasi dengan desainer User Experience dan User Interface (UI/UX).

Selanjutnya, aplikasi yang berkualitas ditentukan oleh kecepatan aksesnya. Sebuah aplikasi yang baik hanya memerlukan waktu sekitar 3 detik ketika diakses (loading). Lebih lanjut Hasnul menyarankan agar tak terlalu banyak Application Programming Interface (API) yang digunakan dalam setiap screen.

“Intinya, jangan buat user menunggu. Sebisa mungkin kita selalu memberikan suggestion sebelum dia selesai mengetik pencariannya di aplikasi kita,” terangnya.

Selain kecepatan akses, aplikasi yang baik juga harus ‘mengenal’ penggunanya. Dengan kata lain, apa yang disajikan oleh aplikasi sebisa mungkin sesuai dengan minat pengguna aplikasi itu. Untuk itu, pengembang aplikasi dapat memanfaatkan fitur push notification yang mengirimkan pemberitahuan langsung ke ponsel pengguna. Namun, pembuat aplikasi harus cermat memilih notifikasi yang dikirimkan karena dapat mengganggu pengguna dan berujung pada uninstall rate yang meningkat.

Kiat selanjutnya adalah improvisasi terus-menerus pada aplikasi yang telah dirilis. Pasalnya, sistem operasi Android dan iOS selalu mengeluarkan versi terbarunya secara rutin. Jika aplikasi tidak beradaptasi dengan sistem operasi versi terbaru, tentu akan menghasilkan bugs yang menghambat. Idealnya, sebuah aplikasi diperbarui setiap 2—3 minggu sekali. ia menyarankan untuk mempublikasikan aplikasi yang bebas dari bugs.

Dalam aplikasi, bugs merupakan kesalahan desain pada perangkat lunak yang menyebabkan program tidak berfungsi semestinya.

“Untuk meminimalisasi kesalahan, gunakan tools untuk memantau bugs yang dimiliki tiap versi aplikasi,” ujar Hasanul. Di Bukalapak, ia mengaku sering menggunakan tools bernama Fabric untuk melihat tren bugs yang muncul.

Terakhir, aplikasi yang berkualitas tentu dihasilkan oleh tim yang berkualitas pula. Oleh karena itu, Hasnul berpesan untuk selalu mempekerjakan orang baru dengan kemampuan lebih dari tim yang sudah ada. “Don’t ever compromise with talent,” tutur Hasnul di akhir sesinya.

Gemastik 9 adalah kegiatan tahunan program Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Program ini untuk meningkatkan kualitas peserta didik sehingga mampu mengambil peran sebagai agen perubahan dalam memajukan TIK di Indonesia.

STEVY WIDIA

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY