Kemristekdikti Danai Riset Inovasi Pangan Unggul

Hidroponik tengah menjadi tren inovasi ketahanan pangan. (Foto: Ilustrasi/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Bidang pangan menjadi salah satu fokus bidang riset strategis nasional. Pendanaan riset diharapkan mendorong hilirisasi hasil inovasi dan membangun koneksi dengan dunia industri.

Untuk memacu inovasi di bidang pangan, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) mendanai 7 perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTNBH) di tahun 2017.

“Dukungan Kemristekdikti ini untuk mendorong kemandirian pangan. Kemristekdikti membiayai riset padi, jagung, peternakan sapi dan teknologi plasma,” kata Santosa Yudo Warsono Direktur Inovasi Industri Kemristekdikti dalam siaran per baru-baru ini di Jakarta.

Menurut Santosa, Kemristekdikti mendukung pendanaan riset inovasi untuk mendorong hilirisasi hasil riset pangan dari perguruan tinggi yang bernilai ekonomi dan bisa diproduksi massal. Untuk itu inovasi riset yang dibiayai antara lain pengembangan buah tropika Institut Pertanian Bogor (IPB) Rp 9 miliar, benih padi IPB Rp 2,97 miliar, peternakan sapi Universitas Hasanuddin Rp 10,5 miliar, teknologi plasma untuk pangan dan penyimpanan hortikultura Universitas Diponegoro Rp 4 miliar.

Universitas Bengkulu benih jagung hibrida Rp 740 juta, Universitas Jenderal Soedirman benih padi tahan salinitas Rp 900 juta dan Universitas Brawijaya benih hibrida jagung manis Rp 950 juta.

Direktur Riset dan Inovasi IPB, Iskandar Zulkarnaen Siregar, mengungkapkan, hilirisasi tanpa industri akan menemui hambatan. IPB sebagai PTNBH punya otonomi untuk berkreasi untuk mengatasi hal itu.

“Kita berharap PTN bisa menjadi pusat-pusat inovasi dan pertumbuhan ekonomi,” ucapnya.

Dalam mengembangkan usaha komersialnya, IPB menugaskan PT Bogor Life Science and Technology untuk mengkomersialisasikan berbagai inovasi yang dihasilkan IPB. Inovasi tersebut antara lain pepaya Calina dan padi IPB 3S yang unggul.

Selain itu dalam waktu dekat, Kemristekdikti akan menggelar forum inovasi pangan yang akan mempertemukan lembaga penelitian dengan industri.

STEVY WIDIA