Kemnaker Operasikan Bursa Kerja Online Se-Indonesia

Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri saat bertemu Presiden Direktur Microsoft Asia Ralph Haupter.(Foto: Kemenaker/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mengoperasikan Bursa Kerja Online (BKOL) yang terintegrasi di 34 provinsi. Sistem BKOL dengan teknologi internet ini telah menjangkau 496 Kabupaten dan Kota yang tersebar di seluruh Indonesia. Dengan ini diharapkan akan mengurangi angka pengangguran di Indonesia.

Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri menyampaikan hal ini dalam konferensi international “Transformation in Work : Creating Job Rich Economies in The 21stCentury” yang digelar Just Jobs Network baru-baru ini di Berlin, Jerman.

Menaker menjelaskan sistem yang terintegrasi dalam BKOL ini berisi data pencari kerja, lowongan pekerjaan, kesempatan pelatihan, job fair, dan penciptaan lapangan kerja termasuk kesempatan kerja bagi disabilitas. Sistem ini mendukung analisis pasar tenaga kerja yang akurat sehingga informasi ketersediaan tenaga kerja dapat sesuai tuntutan pasar tenaga kerja domestik dan internasional.

“BKOL ini menyediakan informasi pasar kerja yang lengkap serta memfasilitasi proses hubungan langsung antara pencari dan pemberi kerja dengan memanfaatkan teknologi internet,” kata dia.

BKOL memiliki nilai penting dan strategis, kata Hanif, untuk mempercepat proses rekrutment dan penempatan tenaga kerja secara praktis, efisien dan efektif. Selain itu, membantu pencari kerja untuk menemukan pekerjaan yang diinginkan.

Para pencari kerja dan perusahaan yang butuh pekerja pun bisa mengakses ke laman http://infokerja.naker.go.id/ yang berada di situs http://kemnaker.go.id/ untuk mencari daftar lowongan perkerjaan yang tersedia atau membuka situs BKOL di wilayahnya masing-masing.

“Pemerintah Indonesia menyakini informasi pasar kerja yang kuat, efektif, dan inklusif menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan ketenagakerjaan untuk mengurangi angka pengangguran dan mendukung terwujudnya sustainable development goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan (SDGs),” kata dia.

Kemajuan

Dalam kesempatan ini, Hanif membeberkan kemajuan-kemajuan yang telah dicapai pemerintah dalam bidang perekonomian dan ketenagakerjaan. Indonesia telah mencapai pertumbuhan ekonomi yang baik dalam tiga tahun terakhir.

Tahun ini pertumbuhan ekonomi mencapai 5,18%, yang berarti meningkat dari dua tahun sebelumnya secara berturut-turut yaitu 4,67% pada tahun 2015 dan 3,78% pada tahun 2014. “Keberhasilan ini tentunya didukung dengan turunnya angka pengangguran. Berdasarkan data BPS, pada tahun 2016, jumlah pengangguran sebanyak 7.020.000, atau turun dari tahun sebelumnya yaitu 7.450.000,” kata Hanif.

Terkait dengan perencanaan nasional Indonesia, Pemerintah telah menargetkan penciptaan 10 juta lapangan pekerjaan selama 5 tahun, pemerintah Indonesia telah melampaui target selama tiga tahun terakhir. “ Pada tahun 2014 kita beruapaya keras dan berhasil menciptakan 2,7 juta lapangan kerja lebih, kemudian diikuti oleh 2,9 juta pada tahun 2015, dan sekarang tahun ini kami telah mencapai 2,2 juta,” kata Hanif.

Untuk mempercepat penurunan pengangguran, kata Hanif Pemerintah Indonesia menempatkan prioritas kebijakan yang lebih tinggi untuk investasi dan perluasan proyek infrastruktur di seluruh Indonesia termasuk bandara, kereta api, pelabuhan dan jalan tol dan pembangkit listrik. Semua proyek ini diharapkan berdampak pada penciptaan lapangan kerja yang tersebar luas di tahun-tahun mendatang.

Selain itu, pemerintah Indonesia juga memiliki program pemagangan yang bertujuan untuk menyiapkan para tenaga kerja, terutama kaum muda, untuk mendapatkan pengalaman kerja serta peningkatan keterampilan. “Dalam melaksanakan program ini, pemerintah telah bekerja sama dengan 2.000 perusahaan di Indonesia di mana setiap perusahaan memberikan kesempatan kepada 100 peserta untuk mengikuti program pemagangan,” kata Hanif.

Bahkan Indonesia juga mengadakan program kewirausahaan. Program ini memberikan pelatihan kewirausahaan, sekaligus modal dan akses ke pasar untuk pengembangan usaha mereka. Program ini juga mencakup kelompok-kelompok lain yang rentan, seperti lansia, orang cacat, dan wanita yang dianggap sulit dalam mendapatkan kesempatan kerja di pasar tenaga kerja.

STEVY WIDIA