Industri Internet Bisa Meraih US$ 1 Juta di 2020

Regi Wahyu , CEO Dattabot (kiri) dan Wayah Suroto, Digital Leader for Indonesia, General Electric (GE) (kanan). (Foto: Stevy Widia/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Belakangan ini istilah Internet of Things (IoT) santer terdengar. Ini adalah bagian dari Industri Internet yang tumbuh belakangan ini. Bisnis ini menjanjikan startup bisa berkolaborasi dengan perusaan raksasa.

“Perkembangan Iot memang belum sebesar e-commerce. Namun analisa data memprediksi bisnis ini bisa meraih US$ 1 juta pada tahun 2020,” ungkap Regi Wahyu, CEO Dattabot saat ditemui usai diskusi Future of IoT in Indonesia, Rabu (16/11/2016) di Balai Kartini, Jakarta.

Menurut dia industri internet ini sedang berkembang. “Bahkan bukan tidak mungkin startup IoT bisa bekerja sama dengan perusahaan raksasa,” ucap Regi.

Belum lama ini Dattabot berkolaborasi dengan General Electric untuk mengiplemetasikan platform IoT. “Dattabot menjadi perusahaan pertama di dunia yang bekerjasama dan mengimplementasikan IoT ke industrial platform. Kita orang Indonesia tidak kalah dengan bangsa lain dalam hal engineering,” ucap Regi bangga.

Lalu apa implikasi sebenarnya dari konsep menghubungkan berbagai perangkat melalui medium internet ini ?

“Ketika berbicara soal implementasi IoT, maka keluarannya adalah peningkatan produktivitas. Peningkatan produktivitas yang terbantu dengan adanya IoT ini terutama sangat terasa di sektor industri. Karenanya, GE Digital bekerja sama dengan Dattabot mengembangkan solusi IoT di sektor pembangkit tenaga listrik. Solusi yang ingin dibawa adalah mengembangkan teknologi machine to machine (M2M) dengan analitis,” jelas Wayah Suroto, Digital Leader for Indonesia, General Electric (GE).

Wayah menambahkan, di industri, M2M bukanlah hal baru. “Kita sudah melakukannya sejak sepuluh tahun lalu,” tuturnya. Namun, dengan perkembangan internet, konektivitas M2M jadi makin masif dan bisa diakses jarak jauh. GE sendiri berinvestasi di Dattabot terkait pengembangan solusi ini.

Dengan menggandeng Dattabot, diharapkan solusi M2M yang ditawarkan GE akan memiliki nilai tambah, yaitu analisis dan prediksi. Inilah yang ditawarkan Dattabot dengan solusi Predix mereka.

IoT bukan hanya menghubungkan mesin, tapi hal penting lainnya adalah mendapat insight dari data yang didapat dari mesin-mesin yang terhubung. Kita bisa mengumpulkan data mesin 24 jam dalam seminggu. Jadi kita bisa memprediksi kapan mesin ini akan rusak, dan apa yang harus diantisipasi.

Menurut Regi selama ini pengawasan terhadap umur pakai dari kebanyakan perangkat di industri listrik kerap lalai dilakukan. Hal inilah yang jadi penyebab mengapa tiba-tiba terjadi pemadaman listrik. Waktu yang digunakan untuk memperbaiki atau mengganti perangkat sebelum akhirnya listik mengalir lagi inilah yang menjadi kerugian bagi konsumen. “Kerugiannya bisa mencapai puluhan juta dollar,” ujarnya.

Dengan solusi yang ditawarkan GE-Digital dan Dattabot, diharapkan pembangkit tenaga listrik bisa meminimalisir terjadinya pemadaman listrik mendadak. Hingga nantinya bisa memprediksi akan terjadinya pemadaman lima belas hari sebelumnya, sehingga perusahaan pembangkit bisa melakukan langkah-langkah antisipasi bagi konsumennya.

Sebelumnya, Dattabot telah membuat inisiatif berupa solusi IoT untuk bidang pertanian. Setelah industri pembangkit listrik, ke depan, bukan tak mungkin untuk membawa solusi Predix ini ke industri lain seperti minyak dan gas.

 

 

STEVY WIDIA

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY