Indonesia Harus Jadi Pengembang Inovasi

Anak muda Indonesia perlu memperbanyak Inovasi (Foto: Ilustrasi/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Prof. Mohammad Nasir, PhD., mengatakan, Indonesia harus menjadi “pemain” bukan “penonton” dalam hal pengembangan inovasi yang berkelanjutan.

“Dari berbagai perspektif inilah nanti harapannya kita akan melihat inovasi-inovasi dari berbagai negara itu seperti apa, bagaimana kita bisa mengelaborasi, bagaimana kita bisa mengambil manfaat terhadap kerja sama ini,” kata Prof. Nasir saat membuka The 14th Globelics Conference Kamis (13/10/2016) di Gedung Merdeka Bandung.

Globelics Conference merupakan kegiatan tahunan yang digelar Globelics Scientific Board. Globelics Conference merupakan ajang temu beberapa ahli kelimuan di seluruh dunia guna membangun pemikiran alternatif terhadap perkembangan ekonomi sosial dan politik secara global.

“Saya berharap Globelics Conference Program dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan interaksi yang sangat erat juga terbuka bagi para peneliti di Indonesia dan negara lain untuk mempekuat kerja sama penelitian,” ujarnya.

Kegiatan ini digelar atas kerja sama dengan sejumlah stakeholder termasuk Aalborg University Denmark dan Fakultas Hukum Universitas Padjajaran.

Sementara itu, Rektor Unpad Prof. Tri Hanggono Achmad mengapresiasi atas dipercayanya Unpad menjadi tuan rumah konferensi tahun ini. Adapun tema yang diangkat pada tahun ini adalah “Inovation, Creativity and Development: Strategies for Inclusiveness and Sustainability”.

Menurutnya, tema ini sejalan dengan Pola Ilmiah Pokok (PIP) Unpad, yaitu “Bina Mulia Hukum dan Lingkungan Hidup dalam Pembangunan Nasional”. Hal ini diantaranya dibuktikan dengan adanya SDGs Center di Unpad, yang juga sejalan dengan komitmen pemerintah dalam mencapai tujuan tersebut.

“Semoga konferensi ini dapat bermanfaat juga menyenangkan. Bukan hanya itu, semoga juga dapat menikmati indahnya Kota Bandung,” ujarnya.

Konferensi ini berlangsung 12-14 Oktober 2016, diikuti oleh 147 akademisi/pemakalah dari 40 negara.

STEVY WIDIA