Garuda Genjot Pendapatan Lewat Digitalisasi

M. Arif Wibowo Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (Foto: GarudaIndonesia/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Pasar e-commerce di Indonesia terus tumbuh. Diperkirakan ada 51 juta konsumen digital di negeri ini. Untuk itu, sejumlah perusahaan mendorong kegiatan bisnis mereka untuk meraih pendapatan melalui digitalisasi. Termasuk PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk.

Maskapai penerbangan ini akan memperluas akses penjualan secara elektronik atau “e-commerce”.

M. Arif Wibowo Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, mengatakan saat ini saluran distribusi atau “distribution channel” pembelian tiket melalui media digital atau elektronik masih 22 %, dibandingkan nondigital 78 % di Triwulan II Semester I 2016.

“Saya belum menaruh target besar karena ini merupakan proses panjang, tapi kalau bisa 30 % sampai akhir tahun ini,” kata Arif baru-baru ini.

Dia menjelaskan dengan memperluas saluran distribusi melalui “platform” digital, seperti situs atau aplikasi di telepon genggam, maka pelanggan akan semakin “dekat” secara personal.

“Semakin individual seseorang dalam bertransaksi, dia semakin loyal dan pada saat yang bersamaan, kita akan tempel dengan ‘values’ yang lebih serta kemudahan-kemudahan lainnya,” katanya.

Dia mencontohkan sistem penghitungan mil penerbangan atau “mileage” pada Garuda Frequenty Flyer, bisa dimanfaatkan untuk dihubungkan ke bank-bank atau institusi lain.

“Semakin mudah kita ‘tempel’, semakin banyak ‘values’ yang diberikan kepada pelanggan yang tidak bisa dimiliki oleh maskapai lain,” katanya.

Dengan demikian, lanjut dia, bisa menggenjot pendapatan ke perseroan, terlebih dengan membuka kerja sama dengan mitra bisnis, seperti bank.

Namun menurut dia, penggunaan berbasis digital masih sangat kurang, bukan hanya domestik, tetapi juga di pasar internasional, yaitu di Australia, Jepang, Korea, Tiongkok dan Eropa.

“Ini pun bukan hanya di domestik saja yang kurang menggunakan ‘web-based’ (berbasis situs), tetapi di Australia, Jepang, Korea, China dan Eropa masih kecil porsinya,” katanya.

Arif juga tidak akan berfokus pada pasar penumpang, tetapi juga pasar kargo yang harus difasilitasi sistem penjualan elektroniknya.

“Salah satu yang menghasilkan pendapatan adalah dari ‘ancillary business’ (bisnis pendukung), seperti kargo, tapi harus ditopang dengan ‘e-commerce’ yang kokoh,” katanya.

Dia menambahkan tidak tertutup kemungkinan bagi Garuda untuk menjalin usaha patungan (joint venture) dengan perusahaan layanan kurir dalam upaya tersebut.

“Agar ‘digitalizing’ bukan hanya ‘port to port’ (dari pelabuhan ke pelabuhan) tapi dari ‘port to door’ (pelabuhan ke pintu) dan ‘door to door’ (pintu ke pintu),” katanya.

Pasalnya, dia mengatakan kargo telah menjadi pondasi perusahaan pada 2016 karena berkontribusi pada pendapatan selama Semester I 2016.

Pendapatan dari kargo naik delapan persen atau naik menjadi 107,78 juta dolar AS atau naik delapan persen dari 99,8 juta dolar AS pada periode yang sama 2015.

Sedangkan, penumpang yang diangkut 16,6 juta penumpang dengan tingkat ketepatan waktu penerbangan (OTP) 91,3 persen pada Semester I 2016.

STEVY WIDIA