Ekosistem Desa Kreatif Dibangun di Maumere

Bekraf gelar bahwa Pembentukan Ekosistem Desa Kreatif di Maumere, NTT. (Foto: Bekraf/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Badan Ekonomi Kreatif melakukan Pembinaan dan Pendampingan terhadap 50 penenun yang mewakili dari 6 Desa di Kabupatem Maumere sejak Juli 2016. Program ini guna membentuk Ekosistem Desa Kreatif di Kabupaten Maumere, Nusa Tenggara Timur.

Deputi Infrastruktur Bekraf Hari Santosa Sungkari menjelaskan bahwa Pembentukan Ekosistem Desa Kreatif tersebut dimaksudkan untuk mengenali potensi unggulan desa. Program fasilitasi Pembentukan Ekosistem Desa Kreatif memiliki tujuan besar, yaitu; peningkatan PDRB, peningkatan jumlah tenaga kerja terampil, serta pengembangan ekonomi berbasis kearifan lokal.

“Ekosistem desa kreatif ini ditujukan agar subsektor unggulan memiliki nilai tambah (value added) yang tinggi terutama dalam hal kualitas produk, sehingga mampu melahirkan banyak usaha rintisan, startup, wirausaha dan UKM dibidang ekonomi kreatif,” jelas Hari Santosa Sungkari dalam keterangan pers yang dilansir Bekraf baru-baru ini.

Program ini dilakukan pembinaan dan pendampingan selama 3 bulan dan melibatkan Pemerintah baik pusat maupun daerah, komunitas kreatif sebagai representasi masyarakat, akademisi dan para pelaku usaha. Hasilnya karya tenun dari 50 penenun ikat Sikka mengalami transformasi baik dalam pewarnaan, penggarapan serta keragamannya.

Denny Kho seorang Pengajar Bidang Textile dan Fashion yang juga perancang busana menjelaskan bahwa, para penenun di Maumere ini secara skills sudah menguasai. Perubahan lebih dari sisi kreasi.
“Kalau selama ini para penenun di Sikka lebih banyak berkarya untuk keperluan tradisi atau adat dan sebaian kecil lainnya untuk dijual guna memenuhi kebutuhan sehari-harinya, kini saya tantang bagaimana para penenun yang ada mampu menciptakan ragam produk yang bisa diakui dan diterima masyarakat internasional dan pasar tanpa merusak tradisi atau kearifan lokal yang ada,” jelas Denny yang melakukan pembinaan serta pendampingan dalam program ini.

Senada dengan Deny, Peneliti Kain Indonesia dari ITB Dr. Ratna Panggabean, M.Sn menyampaikan bahwa karya-karya yang dihasilkan selama tiga bulan tersebut secara teknis dan orisinalitas tidak perlu diragukan lagi, dan secara keseluruhan telah bertransformasi sesuai dengan harapan dari program tersebut.

“Yang sulit dalam pembinaan dan pendampingan ini adalah bagaimana merubah pola pikir serta memicu semangat untuk berubah dari para penenun, dan ini pengajar dalam program ini telah sukses mendorong para penenun untuk menghasilkan karya yang dapat diterima oleh pasar yang lebih luas,” jelas Ratna.

Lebih jauh ia berharap, setelah suksesnya piolot project Program Fasilitasi Pembentukan Ekosistem Desa Kreatif di Maumere selama tiga bulan ini, kedepannya diharapkan pemerintah daerah memiliki kesamaan semangat untuk meneruskan dan menyukseskan pembentukan ekosistem desa kreatif – kain tenun ikat Sikka ini dengan senantiasa melakukan pembinaan dan pendampingan.

“Perkembangan serta permintaan Tenun Ikat Sika terus meningkat, namun ada kendala yakni bagaimana Tenun Ikat Sikka ini mampu menjadi perhatian pasar yang lebih luas. Melalui program ini kami berharap Tenun Ikat Sikka akan siap diterima oleh pasar yang lebih luas,” papar Yoseph Ansar Rera Bupati Sikka.

Dalam kegiatan selama tiga bulan di Maumere tersebut telah berhasil memberikan semangat serta tambahan skills bagi para penenun dalam melakukan perubahan berbasis kearifan lokalnya. Kalau dulu sebelum ikut dalam program ini kebanyakan hanya membuat kain tenun ikat tradisional, kini sudah dapat membuat baju dari kain tenun ini tanpa merusak nilai kearifan lokalnya dan lebih dapat diterima oleh khalayak luas. Hasil karya tenun ikat Sikka yang dibuat selama tiga bulan dalam program ini kesemuanya akan di bawa dan dipamerkan di Jakarta pada bulan November 2016 nanti.

STEVY WIDIA