Dengan Digitalisasi Keuntungan Bank Ritel Dapat Naik

Ilustrasi bank ritel. (Foto : Istimewa/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Dalam penelitian Cisco bertajuk Roadmap Digital Value di Industri Bank Ritel, diungkapkan penggunaan solusi digital yang mendorong nilai atau pendapatan dan pengembalian investasi tercepat pada bank ritel. Bahkan diprediksi potensi keuntungan bisa mencapai US$ 405,3 M.

“Sebelumnya, di tahun 2015 sektor layanan keuangan secara keseluruhan hanya mampu mencapai 29% dari peluang pendapatan tersebut. Selain lambatnya pertumbuhan dan inovasi, lemahnya cybersecurity juga menjadi kendala besar. Persoalan terkait cybersecurity telah menghambat bank ritel dalam mengadopsi teknologi dan model bisnis digital. Hal ini menyebabkan mereka kehilangan lebih dari 70% peluang pendapatan tersebut,” kata Jason Bettinger Director of Financial Services Cisco’s Business Transformation Group dalam keterangan resmi, Minggu (10/7/2016) di Jakarta.

Ia menjelaskan, dengan investasi teknologi yang tepat seperti analytic, mobility, video, dan model pengiriman tervirtualisasi atau virtualized delivery model serta dengan perencanaan navigasi risiko keamanan bank ritel dapat menciptakan sebuah blueprint untuk menangkap bagian dari ratusan dari miliaran di digital value at stake.

Jadi apabila bank ritel melakukan digitalisasi dalam kurun waktu 2015-2017 maka angka digital value at stake diprediksi akan mencapai sebesar US$405,3 miliar.

Menurut penelitian itu, kemampuan teknologi digital dalam menciptakan dan mendorong peluang pendapatan digabung dengan kemampuan untuk menurunkan biaya operasional melalui proses bisnis yang terdigitalisasi, akan menciptakan peluang yang menggiurkan.

“Namun, masih banyak bank yang bergerak lambat atau bahkan tidak sama sekali. Dengan menunda digitalisasi pada bisnis mereka atau menunda inisiatif teknologi baru, bank tidak hanya berisiko kehilangan peluang value at stake, tetapi juga berisiko tersingkir dari bisnis perbankan,” kata Jason.

Ia menyebutkan startup berbasis fintech telah menjadi disruptor bagi bank ritel karena mampu menawarkan produk dan layanan keuangan secara terpisah. Dengan pemisahan ini, mereka bisa mencuri sebagian pendapatan sektor perbankan yang sangat profitable tanpa mengalami hambatan seperti yang dihadapi oleh bank full-service.

“Startup-startup fintech ini telah mendigitalisasi penawaran atau layanan mereka. Bank ritel yang gagal melakukan transformasi digital akan tersingkir dari bisnis. Berdasarkan data tahun 2015 yang dikeluarkan oleh Global Center for Digital Business Transformation (DBT Center), sebuah inisiatif dari IMD Business School dan Cisco, empat dari 10 bank ritel akan tersingkir akibat disrupsi digital dalam tiga tahun mendatang,” paparnya.

Namun, menurutnya, hanya 27 persen yang melakukan pendekatan proaktif dengan mengubah bisnis mereka sendiri. Riset Cisco ini mengidentifikasi penggunaan solusi digital pada industri bank ritel yang mendorong lebih dari 90 persen dari US$405,3 miliar peluang pendapatan.

“Meskipun ada peluang yang menggiurkan dan tekanan kompetitif yang datang bersama transformasi digital, bank ritel ternyata masih lambat dalam adopsi digital,” tuturnya.

Disampaikan, studi terbaru dari Cisco Cybersecurity as a Growth Advantage meneliti 1.014 senior eksekutif di bagian keuangan dan berbagai lini bisnis secara global dan menemukan sebanyak 71% dari mereka setuju bahwa risiko dan ancaman cybersecurity menghambat inovasi digital pada organisasi mereka. Sementara 39% lainnya mengatakan bahwa inisiatif mereka terhenti karena masalah cybersecurity ini.

“Sebanyak 60 persen responden mengaku organisasi mereka menolak inovasi, seperti menciptakan produk dan layanan digital, karena takut akan risiko cybersecurity. Inisiatif digital seperti kapabilitas omnichannel, wealth management dan asset transfer, mobile banking dan mobile payment, serta self-service model dan virtualized delivery model, juga tertunda,” paparnya.

Jason menambahkan analisis ekonomi Cisco memperkirakan jika bank ritel tidak melakukan digitalisasi maka bank ritel telah kehilangan US$144 miliar secara global dalam kurun waktu dari tahun 2011 sampai tahun 2015.

“Intinya, persoalan cybersecurity tidak seharusnya menjadi penghambat inovasi digital. Bank ritel bisa mengubah cybersecurity dari sebuah ancaman menjadi aset yang dapat meningkatkan kepercayaan pelanggan serta mendukung inovasi dan pertumbuhan. Seluruh solusi digital ini tergantung pada pondasi cybersecurity yang kuat,” pungkasnya.

 

STEVY WIDIA

NO COMMENTS

Leave a Reply