BI: Revolusi Digital Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Bank Indonesia gelar Globalisasi Digital Optimalisasi Pemanfaatan Big Data. (Foto: okezone/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Revolusi digital di Indonesia sudah membuat banyak masyarakat banyak beralih dari pola konsumsi konvensional ke digital. Hal ini mendorong perekonomian untuk tumbuh mencapai 7% (year on year/yoy), dibandingkan level pertumbuhan saat ini di kisaran 5% (yoy).

Hal ini disampaikan Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo dalam seminar “Globalisasi Digital Optimalisasi Pemanfaatan Big Data”.

“Pertumbuhan perusahaan-perusahaan rintisan berbasis digital luar biasa, baik di perdagangan barang dan jasa (e-commerce), moda pembayaran, maupun pembiayaan. Jumlah pengguna internet yang berbelanja secara onlinepada 2016 telah mencapai 24,74 juta orang,” kata Agus, Rabu (9/8/20107).

Dalam perhitungan BI, selama 2016, para pengguna jasa perdagangan daring atau e-commerce tersebut telah membelanjakan US$ 5,6 miliar atau sekitar Rp75 triliun atau jika dibagi per individu pengguna e-commerce di Indonesia rata-rata membelanjakan Rp3 juta per tahun.

“Selain e-commerce, revolusi digital di Indonesia juga telah menyentuh sektor keuangan karena jumlah perusahaan teknologi finansial di Indonesia yang dalam dua tahun terakhir (2015-2016) tumbuh pesat sebesar 78%,” ujar dia.

Namun, menurut Agus, potensi pemanfaatan revolusi digital, dan layanan Big Data di dalamnya masih sangat besar. Banyak masyarakat Indonesia yang belum menikmati manfaat dari revolusi digital.

Hal itu terlihat dari rasio antara jumlah pengguna internet dan jumlah penduduk di Indonesia yang rendah, yakni sekitar 51% pada 2016.

“Angka itu masih relatif jauh dibawah negara-negara tetangga kita, seperti Malaysia yang sebesar 71% dan Thailand 67%. Di Inggris dan Jepang sudah mencapai di atas 90%,” ujar dia.

Menurut Agus, penyebab belum maksimalnya pemanfaatan teknologi digital di Indonesia karena kualitas layanan internet yang tertinggal dibandingkan negara lain. Hambatan lain adalah investasi di bidang teknologi informasi (TI) yang rendag.

“Investasi TI di sektor-sektor utama pemberi kontribusi ke pertumbuhan ekonomi seperti manufaktur dan pertambangan relatif masih rendah, bahkan cenderung lebih rendah dibandingkan negara-negara dalam kelompok yang sama,” tutur Agus.

Jika hambatan-hambatan dalam pemanfaatan teknologi digital dapat diatasi, Agus memerkirakan digitalisasi ekonomi mampu memberikan nilai tambah sebesar US$ 150 miliar terhadap PDB Indonesia pada 2025.

“Kami meyakini bahwa revolusi digital yang tengah berlangsung ini apabila dapat dimanfaatkan dengan baik akan mampu membawa Indonesia pada lintasan pertumbuhan ekonomi sekira tujuh persen per tahun,” ujarnya.

STEVY WIDIA