ASEMpreneur 2016 Tingkatkan Kemampuan Kewirausahaan

Para peserta ASEMpreneur2016 bersaing utk dapat dukungan terbanyak dr masyarakat terhadap ide bisnis mereka. (Foto: Istimewa/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - ASEMpreneur Challenge adalah kompetisi yang unik dan inovative untuk meningkatkan kemampuan kewirausahaan kaum muda di Asia-Eropa. Acara yang berlangsung 25-29 Oktober 2016 di Jakarta itudidukung oleh Kementrian Luar Negeri Indonesia, Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF), Asia-Europe Meeting (ASEM), dan sejumlah stakeholder lainnya.

Sebanyak 52 negara ambil bagian dengan batas usia 18-30 tahun yang memiliki semangat enterpreneurship, memberi dampak sosial bagi masyarakat atau lingkungannya, serta keinginan kuat untuk berkolaborasi.

Delegasi Indonesia dalam ASEMpreneur 2016 berasal dari Jakarta, Bandung, Malang, Palu, Pontianak, Sumbawa dan Padang. Mereka akan bersaing dengan finalis lainnya dari Asia dan Eropa diantaranya dari Vietnam, Republik Ceko, Slovakia, Belanda, Filipina, Malaysia, India, Singapura dan Australia.

Adapun, Foundonasi.com dinilai memenuhi kriteria untuk dapat bersaing secara internasional bersama negara Asia-Eropa lainnya. Model bisnis yang diusung rintisan itu tidak mengharapkan profit semata melainkan solusi bagi permasalahan sosial sekitar.

Salah satunya yang dilakukan Start up sosial enterprise yang asal Padang, Sumatra Barat yakni foundonasi.com. Foundonasi.com, didirikan oleh Hendriko Firman (28), Sonya Winanda (28), Randy Proska (22) dan Hanif Mardani (26).

Sonya Winanda, Co-founder foundonasi.com mengatakan rintisan yang mereka kembangkan tidak hanya berorientasi profit semata, melainkan solusi bagi permasalahan sosial sekitar. “Seperti tagline kami ‘We build library easier’, cita-citanya membangun seribu perpustakaan umum untuk Indonesia di tahun 2020 secara gratis,” ujarnya,dilansir Antara Minggu (30/10/2016).

Sonya menyebutkan perhatian besar foundonasi.com terhadap dunia literasi tak lepas dari pengalaman pribadi para co-founder nya. Sonya pernah menggagas Dhurung Elmo di tahun 2015 yang merupakan ruang baca terbuka yang didirikan di Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur. Meski telah berkembang, pendonor, pengantar buku dan pihak yang terlibat masih amat terbatas.

Begitu juga dengan Hendriko, yang pernah mendirikan Books Reader Padang merasakan langsung betapa menyita waktu, tenaga dan uang mengumpulkan buku-buku dan mengantarnya langsung pada perpustakaan dan sekolah yang membutuhkan.

“Seharusnya berbuat baik amatlah mudah tapi kadang kondisi membuat prosesnya menjadi sangat kompleks. Maka kami membangun foundonasi.com sebagai solusi,” katanya.

Dia mengungkapkan untuk masyarakat yang ingin berkontribusi tinggal mengunjungi website foundonasi.com lalu memilih satu atau lebih peran yang tersedia. Publik bisa mendaftar sebagai donatur jika ingin mendonasikan buku yang masih layak baca, bisa pula menyumbangkan tenaga dengan menjadi transporter, relawan pengantar dan penjemput buku. Selain itu, juga tersedia pilihan menjadi Beskem Buku bagi yang bersedia menyediakan ruang pribadi seperti rumah atau gudang untuk tempat penampungan buku sementara.

Tak hanya itu, perpustakaan, instansi atau lembaga juga dapat mendaftar sebagai penerima donor buku. Terakhir, ada Teman Buku diperuntukkan bagi komunitas atau gerakan yang ingin menjadi partner foundonasi.com yang nantinya akan banyak berkolaborasi.

“Bisa dibilang, foundonasi.com menjadi platform pendonasian buku yang mempersatukan semua stakeholder yang dibutuhkan untuk mempermudah prosesnya,” katanya.

“Nantinya 30% buku yang disumbangkan akan dijual kembali secara online di bukalapak.com lalu hasilnya akan dipergunakan untuk membangun perpustakaan di seluruh Indonesia”.

Sejak diluncurkan 23 September 2016 lalu, foundonasi.com mencatat sudah 8 propinsi tergabung, 1023 buku terkumpul, 5 transporter, 5 beskem buku, 5 perpustakaanku dan 4 teman buku.

“Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan dan kami akan terus menyempurnakan foundonasi.com.” kata Hendriko.

STEVY WIDIA

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY