Nyamuk Wolbachia Anti Demam Berdarah

Riset nyamuk wolbachia dilakukan di Yogyakarta. (Foto: Yogya.Tribunenews/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta bersama Eliminate Dengue Project (EDP) Yogyakarta mengembangkan nyamuk anti-deman berdarah dengue (DBD). Riset ini dilakukan untuk mengurangi jumlah penderita penyakit demam berdarah dengue yang cukup tinggi dan membutuhkan penanganan serius.

Peneliti dari EDP Prof dr Adi Utarini, MSc, MPH, PhD mengatakan, perkembangbiakan nyamuk anti demam berdarah ini dilakukan dengan bakteri wolbachia.

“Dengan nyamuk ber-wolbachia, virus dengue tidak dapat ditularkan kepada manusia,” ujarnya di sela-sela peringatan Hari Teknologi Nasional (Harteknas) ke 21 belum lama ini di Solo, Jawa Tengah.

Wolbachia adalah bakteri di dalam sel serangga yang diperkirakan secara alami ada di tubuh 60% jenis serangga, termasuk beberapa jenis nyamuk yang menggigit manusia, namun tidak menularkan penyakit.

Utarini menjelaskan telur nyamuk akan berkembang dan menjadi nyamuk dewasa dan kawin dengan nyamuk setempat, kemudian menghasilkan nyamuk yang sudah mengandung wolbachia.

Dikatakannya, dalam kurun waktu tertentu sebagian besar nyamuk aedes aegypti penyebab demam berdarah yang ada di kota Yogyakarta akan mengandung wolbachia, sehingga jika tergigit nyamuk, manusia tidak akan tertular DBD.

Sejak 1960 demam berdarah menjadi persoalan cukup serius di Indonesia. Utarini menyatakan Wolbachia menjadi metode yang aman dan ramah lingkungan, efisien dan berkelanjutan.

Bila di sebagian besar nyamuk di suatu wilayah sudah memiliki Wolbachia, menurut dia, maka metode ini tidak perlu diaplikasikan ulang karena nyamuk ber-wolbachia akan berkembang biak alami pada populasi nyamuk aedes aegypti.

Terkait dengan Wolbachia, pada Maret 2016 The World Healt Organisation (HWO) mengeluarkan pernyataan bahwa Wolbachia merupakan teknologi baru yang menjanjikan untuk menekan replikasi virus dengue, chikungunya dan zika dalam tubuh aedes aegypti.

Dikemukakannya, Yogyakarta dipilih sebagai lokasi riset karena tingginya angka kejadian DBD, kepadatan penduduk yang tinggi dan nyamuk aedes aegypti ditemukan sepanjang tahun di seluruh kelurahan.

STEVY WIDIA

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY