Microbial Fuel Cell, Pembangkit Listrik dari Kulit Pisang

Microbial Fuel Cell karya teknologi pertanian, mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (FTP), Universitas Brawijaya (UB) Malang. (Foto: Istimewa/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Siapa sangka kulit pisang bisa menjadi sumber energi listrik yang ramah lingkungan. Hal ini
dibuktikan tim mahasiswa program studi lingkungan, jurusan teknologi pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian (FTP), Universitas Brawijaya (UB) Malang lewat alat Microbial Fuel Cell.

Keempat mahasiswa inovatif itu adalah, M. Errel Prasetyo Wibowo, Sang Aji Arif Setiawan, Chrisma Virginia, dan Novi Hanifah.

“Konsep ini masih jarang. Biasanya yang diolah kan limbah cair, tapi kami olah limbah padat. Kulit pisang mudah didapat, mulai dari penjual pisang goreng hingga di daerah industri keripik pisang,” kata Chrisma Virginia dilansir humas Unbraw baru-baru ini di Malang.

Ide tersebut berawal dari kian berkurangnya sumber daya alam minyak bumi sebagai sumber energi utama, sehingga perlu ada pengganti energi yang bisa diperbarui dan berkelanjutan. Proyek penelitian pembuatan pembangkit listrik ini sudah dimulai sejak tahun 2015 dengan melakukan berbagai percobaan.

“Awalnya dilakukan dengan bahan kulit pepaya dan buah naga. Tetapi dari sekian banyak uji coba, limbah kulit pisang merupakan yang tertinggi,” ungkap Errel. Dia menjelaskan, berdasarkan hasil uji coba selama satu minggu, tegangan listrik yang dihasilkan mencapai antara 1,2 – 1,6 volt. “Kulit pisang yang kami gunakan sebanyak tiga sisir,” katanya.

Selain kulit pisang, pembangkit listrik berbahan sampah ini, juga menggunakan batrei bekas. Kulit batrei bekasnya, dimanfaatkan sebagai anoda. Sedangkan karbon bekasnya digunakan sebagai katodanya.
Proses pembuatan pembangkit listrik ini sangat sederhana dan bisa dilakukan masyarakat awam. Kulit pisang yang telah dikumpulkan, ditumbuh halus. Setelah itu, masukkan ke dalam wadah plastik yang telah terhubung dengan kabel sebagai anoda. Selain menggunakan batang kaborn bekas batrei, kotak plastik satunya yang difungsikan sebagai katoda diisi dengan air biasa.

Kedua kotak plastik ini dihubungkan dengan kabel serta selang-selang plastik kecil yang berfungsi sebagai jembatan garam. Pada kotak plastik yang berfungsi sebagai anoda akan terjadi proses fermentasi, dan oksidasi dari kulit pisang. “Proses ini akan menghasilkan electron. Elektron tersebut, dialirkan dari anoda, ke katoda untuk menghasilkan energy listrik,” terangnya.

Errel juga menjelaskan cara kerja alat tersebut, pertama menghancurkan kulit pisang dengan cara ditumbuk, namun tidak boleh ditambah air karena akan berkurang substratnya. Selanjutnya, kulit yang sudah halus seperti bubur dimasukkan dalam kotak reaktor atau bio chamber.

Kotak reaktor itu, katanya, dibagi dua, yakni kotak anoda dan katoda. Pada setiap kompartemen terdapat elektroda. Pada anoda, diisi kulit pisang yang halus, sedangkan kotak katoda diisi aquades. Prinsip kerjanya cukup mudah, yakni kulit pisang akan difermentasi mikroba dan menghasilkan elektron yang dialirkan dari anoda ke katoda.

Dari kedua kotak tersebut, lanjutnya, akan menghasilkan listrik sebesar 1,5 volt dan mampu menghidupkan lampu LED merah. Saat ini, tim tersebut masih mencari cara agar alatnya bisa menghasilkan 5 volt listrik, sehingga bisa menyalakan lampu dan mengisi powerbank.

“Kami akan mengembangkan jenis elektrodanya. Rencananya akan kami ganti grafit, tetapi dari isi pensil karena alat ini sifatnya recycle. Hanya saja, masih ada kendalanya, kami harus memastikan kemurnian grafit yang dipakai, kalau beli yang murni sangat mahal. Kan grafit ini termasuk bahan tambang,” tambah Errel.

STEVY WIDIA

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY