Mahasiswa UII Buat Aplikasi Deteksi Keganasan Kanker Payudara

Deteksi dini atas kanker diperlukan untuk mengambil tindakan pengobatan kanker pasien. (Foto: Ilustrasi/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Anak muda tak hanya membuat aplikasi bisnis, tetapi juga dalam hal kesehatan. Seperti mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) yang mengembangkan aplikasi deteksi keganasan kanker payudara.

Aplikasi ini dibuat oleh dua mahasiswa Program studi Informatika Medis dan Teknik Informatika FTI UII yakni, Dhina Puspasari dan Dadang Heksa Putra. Software ini diharapkan dapat membantu kerja dokter patologi anatomi dalam mengambil mendeteksi dini untuk dapat mengambil tindakan pengobatan kanker pasien.

Dhina menjelaskan, ia memfokuskan pada software perbaikan citra, sedang Dadang menitikberatkan pada pengembangan software estimasi keganasan kanker payudara. Penentuan tingkat keganasan kanker payudara atau status human epidermal growth factor receptor 2 (HER2) sangat penting untuk mengoptimalkan diagnosis dan terapi yang tepat bagi pasien. HER2 merupakan pra syarat untuk pengobatan pasien kaker payudara.

Menurut Dhina aplikasi swapping warna citra histopatologi kanker payudara ini bertujuan untuk memperbaiki kualitas citra sehingga dokter patologi anatomi lebih mudah untuk menganalisis citra atau gambar. Aplikasi ini membutuhkan citra source dan citra target. Citra source adalah citra yang akan dilakukan perbaikan.

“Sedang citra target adalah citra referensi” ujarnya Dhina.

Lebih lanjut, Dhina mengatakan dengan menggunakan sebanyak 42 citra yang diperoleh dari pengambilan gambar menggunakan sigma HD microspace camera HDMI/USB dan optilab camera advance adapter.

“Berdasarkan hasil analisis dan pengujian, rekomendasi pakar dari 42 data citra yang diperbaiki 38 citra menunjukkan hasil yang optimum sebesar 90,48 persen,” katanya.

Menurut Dhina, tahap awal pemeriksaan kanker payudara melalui tindakan biopsi (pembedahan dengan mengambil jaringan pada payudara). Setelah itu dilakukan pengamatan dengan mikroskop oleh dokter patologi anatomi untuk dianalisis. Pewarnaan pada sampel jaringan maka akan muncul masalah pada hasil citra yaitu, variasi warna tidak konsisten disebabkan oleh beberapa faktor. Di antaranya, perbedaan penggunaan mikroskop, perbedaan kamera, pencahayaan dan proses pemberian warna sampel jaringan.

“Keakuratan software ini sudah dikonsultasikan dengan dokter patologi anatomi dan dinyatakan 75 % keakuratannya. Selanjutnya, masih diperlukan investigasi korelasi antara data deteksi oleh sistem yang diusulkan dengan pemeriksaan CISH (Chromogenetik Insitu Hybridization),” kata Izzati Muhimmah Dosen pembimbing kedua mahasiswa UII yang dilansir humas UII baru-baru ini.

STEVY WIDIA