Mahasiswa UB Kembangkan Alat Peningkat Produktivitas Padi

Mahasiswa UB Kembangkan Alat Peningkat Produktivitas Padi (Foto: dok. UB/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) mengembangkan alat untuk meningkatkan produktivitas tanaman padi melalui teknik sonic bloom atau frekuensi kicauan burung, yang disebut Tersimeniom.

Inovasi itu dikembangkan oleh Siti Amalina Azahra, Achmad Syafi’udin, Dimas Eko Prasetyo (2013), dengan dibimbing dosen Bayu Satriya Wardhana, ST., M.Eng.

Menurut Ketua Tim, Amalina, proses pembuatan perangkat ini terinspirasi dari riset peneliti asal Australia, Dr. Dan Carlson, yang meneliti pembukaan stomata pada tumbuhan dapat dipengaruhi oleh frekuensi kicauan burung. “Dengan pembukaan stomata yang lebih besar, dapat mempengaruhi hasil fotosintesis karena penyerapan CO2 dan mineral lebih maksimal,” kata mahasiswi asal Tangerang tersebut, seperti dilansir laman UB.

Dari hasil studi literatur yang dilakukan oleh tim, ternyata frekuensi kicauan burung yang dapat mempengaruhi pembukaan stomata tumbuhan berada di kisaran 3000-5000 Hz. Tim berinisiatif membuat alat yang dapat memancarkan frekuensi suara audiosonik yang frekuensinya setara dengan kicauan burung, khususnya burung kutilang.

Dimas, anggota tim mengatakan bahwa perangkat ini telah diujicoba di Laboratorium Biologi Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) UB. Uji coba ini terkait dengan pengaruh frekuensi terhadap pembukaan stomata dan morfologi atau bentuk fisik tanaman padi. Morfologi yang diteliti terdiri dari akar, tinggi tanaman, dan jumlah bulir.

Dari hasil uji pembukaan stomata, didapatkan hasil pembukaan stomata meningkat hampir dua kali lipat. Yakni dari 3,839 mikrometer menjadi 5,8 mikrometer. Sedangkan dari uji morfologi, didapatkan tanaman padi dengan perlakuan pemberian suara kicauan burung, dapat tumbuh lebat dan akarnya bertambah panjang. Namun untuk tinggi tanaman padi tidak diperoleh hasil yang signifikan.

“Kesimpulannya sangat berpengaruh dan meningkatkan produktivitas. Tanaman padi yang dekat dengan perangkat dapat menghasilkan 27 bulir per tanaman, sedangkan yang jauh hanya menghasilkan 16 bulir per tanaman,” jelas Dimas.

Ditambahkan Syafi’udin, untuk sementara jangkauan efektif perangkat ini hanya berfungsi untuk jarak 5-7 meter. Untuk penerapan di lapangan, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut. Bahkan tim juga berencana untuk melakukan penelitian efek kicauan burung terhadap tanaman-tanaman lainnya seperti kentang, tomat, atau umbi-umbian.

“Biar efek yang diberikan jangkauannya lebih jauh, masih diteliti lebih lanjut. Untuk kualitas padi yang dihasilkan dari perlakuan juga harus diuji,” kata Safi’udin.

Menurutnya, Tersimeniom optimal digunakan di pagi hari dikarenakan temperatur yang masih rendah. Bila temperatur udara tinggi, stomata akan tertutup untuk mencegah penguapan zat hara yang berlebihan.

“Sesuai dengan teori pembukaan stomata, alat ini efektif digunakan pagi hari antara jam 08.00-10.00 dan di sore hari antara jam 15.00-17.00. Untuk diatas jam 10 dan menjelang sore hari dianjurkan agar alat dimatikan,” jelasnya.

Dengan alat yang bersifat portabel ini diharapkan para petani mendapatkan kemudahan dari segi penggunaanya. Selain itu, kualitas dan kuantitas tanaman padi di Indonesia bisa meningkat sehingga dapat mengurangi impor beras dari luar negeri.

Alat untuk meningkatkan produktivitas tanaman padi Tersimeniom yang dikembangkan mahasiswa UB ini meraih Juara Umum I pada Pekan Inovasi Mahasiswa Pertanian Indonesia (PIMPI) yang digelar di Institut Pertanian Bogor (IPB), selama dua hari (17/9-18/9/2016). Tersimeniom menang pada kategori Penerapan Teknologi Budidaya Pertanian

Selain UB, kompetisi yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Keilmiahan Forces IPB tersebut juga diikuti 15 finalis. Antara lain Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS), Universitas Hasanuddin (UNHAS), Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Riau (UNRI), Universitas Negeri Medan (UNIMED), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Sebelas Maret (UNS), UB, dan  tuan rumah IPB.

 

FAHRUL ANWAR

NO COMMENTS

Leave a Reply