ITB Buat Mesin Penyinaran Buatan Untuk Pembatik

Menjemur batik. (Foto: Ilustrasi/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Cuaca ternyata sangat berpengaruh pada industri batik. Komponen sinar matahari sangat berperan untuk memunculkan warna kain batik. Untuk itu tim dosen dan mahasiswa Institut Teknologi Bandung membuat mesin khusus penyinaran buatan untuk produsen batik di Tanah Air.

Tim itu dari Program Studi Teknik Industri dan Program Studi Teknik Fisika ITB. Penggagasnya dosen Eko Mursito Budi serta pengusaha batik di Bandung, Komarudin Kudiya. Tim peneliti melibatkan Vebi Nadhira, Nugroho Hari Wibowo, Pedrick Pratama, dan Nabella Adjani. Mesinnya dibuat sebagai tugas akhir oleh Amron Naibaho dan Haris Suwignyo.

Mesin itu menghasilkan penyinaran matahari buatan guna memunculkan warna seusai pencelupan kain batik. Dengan mesin itu, produksi batik bisa digenjot harian tanpa harus mengandalkan sinar matahari.

Mesin yang digagas pada 2015 tersebut, kata Amron, berawal dari keluhan pengusaha batik soal produksi batik yang selalu menurun saat musim hujan. “Karena sulit sinar matahari untuk mengaktivasi warna kain batik pasca-pencelupan,” ucapnya dalam siaran berita ITB.

Tim peneliti kemudian mencari tahu komponen sinar matahari apa yang berperan untuk memunculkan warna kain batik. Pengujiannya pada sinar inframerah, cahaya tampak, dan ultraviolet. Hasilnya, sinar pencetus warna itu adalah ultraviolet.

Pada pengujian berikutnya dengan memakai lampu khusus ultraviolet, mereka menemukan durasi dan jarak penyinaran lampu dengan kain batik. Sehingga mesin penyinaran dibuat dengan sistem pengantar berjalan (conveyor). Setelah tombol aktivasi mesin dihidupkan, kain batik secara otomatis disinari secara merata. Pengujian itu berlangsung di Laboratorium Fisika serta di tempat produsen batik.

Mesin fotonik batik itu dalam wujud purwarupa panjangnya 25 sentimeter, lebarnya sesuai dengan ukuran lebar kain standar 1,2 meter dengan panjang kain 2 meter. “Panel (tempat) penyinaran harus ditutup untuk menghindari efek lampu ke mata operator,” tutur Amron. Biaya riset pembuatan mesin tersebut sebesar Rp 120 juta.

Alat inovasi ini dipamerkan di Aula Barat ITB 24 Agustus 2016 lalu.

 

STEVY WIDIA