IPB-Universitas Trunojoyo Buat Teknologi Garam Bermutu

Industri garam di Tainan, Tiongkok. (Foto: Istimewa/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Trunojoyo Madura bekerjasama mengembangkan teknologi untuk memproduksi garam bermutu sesuai standar dengan kadar mencapai NaCl 99%.

“Kami menyebut teknologi ini multistage precipitation atau pengendapan pengotor bertingkat menghasilkan NaCl bebas pengotor,” kata Mohamad Khotib, peneliti sekaligus dosen dari IPB yang mengembangkan teknologi “multistage precipitation”, dilansir Antara Sabtu (5/8/2017) di Bogor, Jawa Barat.

Menurut Khotib penelitian garam sejak 2011 skala laboratorium, lalu tahun 2015 mulai meneliti teknologi penghasil garam berkualitas.
Tahun 2017, dirinya bersama peneliti dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM) berkolaborasi mengembangkan teknologi pengendapan bertingkat untuk skala lapangan melalui dana hibah Kementerian Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi.

“Tahun ini uji coba skala lapangan mulai dilakukan di tambak garam Madura seluas empat hektare,” katanya.

Ia menjelaskan karakteristik teknologi produksi garam yang digunakan oleh petani lokal Indonesia masih sangat sederhana, proses produksi berdasarkan penguapan matahari, sehingga bergantung pada cuaca.

Mengaplikasikan geoisolator dan teknologi tersebut telah membantu mengurangi kotoran fisik dari garam sehingga garam lebih putih.
Karakteristik lainnya, petani garam mengaplikasikan sistem ulir yang memperpanjang jalur penguapan sehingga menambah waktu pengendapan pengotor lebih maksimal.

Garam yang dihasilkan oleh petani memiliki karakteristik yaitu kadar NaCl rata-rata berkisar 85% – 97% (dry basis), katanya.
Ia mengatakan agar garam petani dapat diterima pasar maka harus memenuhi persyaratan. Pasar Indonesai memiliki klasifikasi persyaratan berupa SNI 01-4435-2000 garam bahan baku untuk industri garam beryodium, SNI 01-3556-2000 Garam konsumsi beryodium, garam kualitas 1 (NaCl > 98% dan kadar air maksimum 4%), kualitas 2 (94.4% < NaCl < 98% dan kadar air maksimum 5%), kualitas 3 (NaCl 99%.

“Teknologi ini mampu memproduksi garam dengan kualitas yang dipersyaratkan peraturan,” kata Khotib.

Wakil Rektor Bidang Sumberdaya dan Kajian Stategis IPB, Prof Hermanto Siregar menambahkan, garam adalah persoalan yang strategis dari segi nilainya pengeluaran rumah tangga tidak seberapa, tetapi kalau garam menjadi kebutuhan pokok akan sangat terasa apabila keberadaannya berkurang.

“Harapan banyak pihak Indonesia mampu memproduksi sendiri, karena potesi sumberdayanya yang sangat besar. Alangkah disayangkan jika potensi ini tidak digunakan dengan baik, akan menjadi pembuangan devisa. Perguruan tinggi mencoba menangkap ini, sesuai mandatnya, secara teknis menghasilkan teknologi yang diharapkan bisa diaplikasikan oleh masyarakat dan swasta,” kata Hermanto.



STEVY WIDIA