Startup Harus Sigap Berinovasi

Pengembangan startp di Indonesia salah satunya lewat Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital. (Foto: dok./ Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Bisnis startup digital di ASEAN berpeluang menjadi bisnis skala raksasa. Untuk mencapai hal itu, para pemangku kepentingan mesti sigap berinovasi dan beradaptasi dengan perubahan.

Demikian rangkuman pendapat dari Founder Northstar Equity, Patrick Walujo, Founder Presence Capital Paul Bragiel, Founder Grab Tan Hooi Ling, dan CEO Siemens Thailand Markus Lorenzini, ketika berbicara pada sesi “Digital Start-up ASEAN” pada World Economic Forum on ASEAN di Phnom Pehn, Kamboja baru-baru ini.

Paul Bragiel dan Patrick Walujo mengatakan pasar digital ASEAN sangat besar, sehingga menarik minat investor untuk menanamkan modalnya. Namun, pasar yang besar ini mesti dikelola agar investor mau masuk dan bertahan dalam bisnis digital. Untuk itu, diperlukan kemampuan untuk memahami pasar, kondisi sosial politik, dan regulasi pemerintah.

“Bisnis digital akan berkembang bila pelakunya membangun networking dengan pasar, pemerintah dan swasta. Pemerintah harus memberi dukungan secara fair,” ujar Walujo.

Senada dengan Walujo, pendiri Grab, Tan Hooi Ling mengatakan pasar mesti dipelihara. Manajemen Grab membangun komunikasi dengan konsumen, pengemudi, dan pemerintah. “Kami turun ke lapangan, mengecek apa yang terjadi, apa saja keluhan konsumen. Kami mendidik talenta-talenta lokal untuk mengembangkan kapasitas mereka,” kata Ling.

Sementara Markus Lorenzini mengingatkan pasar yang besar saja tidak cukup. Diperlukan adaptasi terhadap regulasi, kondisi dan perubahan yang terjadi antar negara ASEAN.

“Potensi memang besar, bahkan sudah banyak yang terjun di digital startup. Namun perlu regulasi antarnegara ASEAN, dan implmentasinya mesti cepat,” kata Lorenzini.

Pada 2025, menurut Temasek dan Google, nilai pasar digital ASEAN akan mencapai US$ 200 miliar. Proyeksi ini bukan tanpa dasar bila melihat tren PDB negara-negara ASEAN yang tumbuh mendekati antara 4,7 hingga 4,8 persen. Jumlah penduduk ASEAN sekitar 630 juta jiwa juga merefleksikan tingginya permintaan pasar domestik.

Dua faktor di atas didukung oleh pertumbuhan pengguna baru internet sebanyak 124.000 per hari. Saat ini pengguna internet di ASEAN sekitar 315 juta orang dan diperkirakan bertumbuh menjadi 480 juta orang pada 2020

Regulasi

Menurut Walujo pasar digital di Indonesia memiliki keterkaitan dengan kondisi sosial politik, sehingga regulasi terkadang menyesuaikan dengan dinamika kondisi tersebut. Namun, secara keseluruhan Pemerintah Indonesia sangat mendukung perkembangan startup digital.

“Bahkan dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kami bekerja sama, menghubungkan swasta dengan swasta,” kata Walujo.
Presiden Jokowi telah mencanangkan Indonesia sebagai “The Digital Energy of Asia”. Ini ditindaklanjuti Kementerian Komunikasi dan Informatikamelalui “Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital”. Setiap tahun akan dicetak 200 perusahaan baru, sehingga dalam lima tahun menghasilkan 1.000 perusahaan. Ditargetkan, valuasi bisnis 1.000 perusahaan ini pada 2020 mencapai US$ 10 miliar.

Saat ini Indonesia memiliki sekitar 2.000 startup, terbanyak di Asia Tenggara. Perusahaan-perusahaan startup ini pada 2015 memperoleh transaksi US$ 1,1 miliar. International Data Corporation melansir belanja digital meningkat dari Rp 199 triliun pada tahun 2015 menjadi Rp 214,4 triliun pada 2016.

STEVY WIDIA

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY