Pebisnis Kopi Indonesia Perlu Meningkatkan Nilai Tambah Kopi

Bekraf gelar acara Bincang Kopi di Boeutiq Coffee kawasan Antasari Jakarta Selatan Sabtu (12/11/2016). (Foto: Fahrul Anwar/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Indonesia yang merupakan negara penghasil kopi terbesar setelah Brazil. Sayangnya, saat ini kopi hanya sebatas komoditas dan belum sebagai sebuah lifestyle.Terkait hal itu, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menggelar seminar untuk meningkatkan kemampuan para pengusaha kopi di Tanah Air agar dapat meningkatkan nilai tambah kopi.

Fadjar Hutomo Deputi II Akses Permodalan Bekraf mengatakan, terkait 16 subesektor yang menjadi tugas utama Bekraf salah satunya kuliner (kopi). Sudah menjadi tanggung jawab Bekraf turut mendukung para pelaku usaha yang masuk dalam kategori sebagai pelaku ekonomi kreatif khususnya di bidang kopi untuk memperluas usahanya.

“Jadi selain masalah permodalan dan aset terkait bisnis para pelaku usaha juga harus memerhatikan kreasi dan inovasi ketimbang fisik seperti alat pembuat kopinya. Karena dalam hal ini kami dari Bekraf juga sedang menjembatani para pelaku usahanya ketika mereka masuk dalam wilayah kreatif ini, ” ungkap Fadjar saat ditemui di acara Bincang Kopi di Boeutiq Coffee kawasan Antasari Jakarta Selatan Sabtu (12/11/2016).

Seminar bertajuk ‘Bincang Usaha Kopi’ merupakan dukungan Bekraf dalam meningkatkan produktivitas para pengusaha kopi pada saat mendapat akses permodalan dan menerima permodalan.

Fadjar mengatakan Indonesia yang merupakan negara penghasil kopi terbesar dunia. Tapi ia merasa heran karena hingga kini, dalam bidang kopi Indonesia seakan terkesan belum bisa menjadi tuan rumah dinegerinya sendiri.

“Tapi kenapa kopi Indonesia yang rasanya enak itu bisa sampai saat ini masih bisa dinikmati di cafe asing? Dan kenapa untuk saat ini kita nggak buat outlet dan warung kopi Indonesia itu mendunia. Bukankah kopi yang dijual oleh cafe asing itu kopi nya berasal dari negeri ini,” bebernya.

Menurut dia, kebanyakan masyarakat Indonesia seringnya meminum kopi saschet. “Hingga akhirnya hal itu membuat kami berpikir dan menemukan tagline yang biasa kami sebut ‘Minum Kopi Itu di Giling, bukan di Gunting’. Nah dari situ mungkin akan memberikan jalan keluar ketika kita memulai bisnis ini,” ucap Fadjar.

Selain dapat menggairahkan kembali perekonomian di negeri ini, ia berharap kopi sudah menjadi sebuah lifestyle bagi masyarakat Indonesia. Disitu, berarti kita juga sudah bisa mensinergikan para pelaku usaha kreatif dibidang kopi dengan petaninya. “Untuk itu sudah saatnya saya rasa, kita perlu mengedukasi masyarakat bagaimana menjadikan kopi ini sebagai lifestyle dan tidak hanya sebagai komoditas, ” sambungnya.

Seminar ini turut hadir seperti Ulil ( Yudha) Pengumpul para penguaaha kopi, Evan (BNI), Jaringan Kopi Nusantara dan para calon pebisnis kopi yang tak lain datang dari Jakarta, Depok, Bekasi, Tangerang, Lamongan dan Lampung.

 

FAHRUL ANWAR

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY