M. Ilham Adiansyah : Jadi Pengembang Game Karena “Kepo”

M. Ilham Adiansyah, co-founder & COO Oloop Studio (Foto : Stevy Widia/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Sejalan dengan perubahan zaman dan teknologi, perkembangan industri game di dunia ternyata menciptakan peluang bisnis dengan nilai yang cukup luar biasa, hingga triliunan rupiah. Termasuk di Indonesia.

Perkembangan industri game di Indonesia mulai terlihat pada masa sekitar 15 tahun lalu. Waktu itu ramai game konsol seperti Nintendo dan Playstation. Barulah di era 2000, industri game mulai berkembang di Tanah Air. Awalnya lewat publisher, yakni perusahaan atau individu yang memiliki hak ekslusif untuk menerbitkan atau memasarkan setiap judul game. Lewat ini, talenta lokal menggarap order pembuatan game luar negeri.

Seiring berkembangnya waktu, teknologi dan peluang, maka pengembang game mulai muncul dengan copyright mereka sendiri. Apalagi pasar sangatlah besar. Jumlah gamers di Indonesia diperkirakan telah mencapai sekitar 40 juta orang di tahun 2013.

Tak pelak, magnet industri ini mampu mendorong menjamurnya developer-developer lokal, termasuk developer indie (belum berbentuk perseroan). Saat ini terdapat lebih dari 400 developers dengan lebih dari sekitar 1000 game telah dilahirkan.

Salah satu di antaranya adalah Oloop Studio. Meski terbilang baru, resmi pada Oktober 2014, Oloop Studio berhasil menarik perhatian di ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2015. Di sana, mereka meluncurkan game IIMS Funmotive. Games ini ditujukan bagi gamers yang menyukai tantangan otomotif, skill, kecepatan dan ketepatan waktu. Dan sempat menjadi tren selama ajang itu.

Oloop Studio adalah game developer indie yang didirikan oleh M. Syafawi alias Sawi, Noorca Maya Regita alias Oca dan M Ilham Adiansya alias Lele. Menurut Ilham, yang menjabat sebagai Chief Operating Officer Oloop Studio merupakan wujud dari cita-cita ketiganya untuk dapat membuat game sendiri.

“Pada dasarnya kami bertiga sangat suka main game. Dan kemudian jadi kepo gimana caranya bikin game sendiri,” ungkap Ilham kepada Youngsters.id.

Oloop Studio telah mengembangkan sejumlah games khususnya untuk game fun activity. Di antaranya Funtomotive Marvin-Journey, Super Hero The Real Safety Concern dan Tekmon Monster Bazaar Teknologi.

“Peluang industri game di Indonesia masih kecil. Beda sama di luar negeri. Meski demikian kami tetap yakin bahwa profesi ini memiliki masa depan yang cerah,” ungkap Ilham.

 

Larangan dan Perpecahan

Oloop Studio bermula dari persahabatan Ilham dan Sawi. Menurut Ilham mereka berdua satu alumni jurusan IT Multimedia di Bina Nusantara Slipi Jakarta. Kegemaran akan game menimbulkan ide untuk membuat produk game bersama di awal tahun 2014. Sawi kala itu mengajak Ilham Agung, Oca, Aldi dan Ilham Lele.

Tempat yang dijadikan “markas” adalah rumah Sawi di kawasan Bintaro. Modalnya, menurut Ilham, hanyalah laptop dan jaringan internet. Dengan semangat kebersamaan kala itu mereka bisa membuat satu game dalam waktu delapan jam. “Itu produk pertama dan tidak komersil, namum membanggakan karena membuktikan kami bisa buat game sendiri,” ungkap Ilham.

Bahkan saking kuatnya keinginan jadi pengembang game, Ilham mengaku harus menanggung akibat tidak enak. Hubungan dengan orang tua, terutama sang ibu sempat renggang. Maklum, prospek sebagai pengembang game belum terlihat menjanjikan. “Saat itu belum terlihat kalau apa yang kami buat akan menghasilkan. Malah dianggap main-main saja dan kena marah. Tapi aku tetap bersikeras saja,” kisah pemuda kelahiran Jakarta, 19 Maret 1993 itu.

Tak hanya itu, hubungan mereka berlima juga mengalami cobaan berat yang berujung pada perpecahan. Ilham dan Aldi memutuskan untuk tidak meneruskan cita-cita jadi game developer bersama. “Tidak mudah untuk menyatukan isi kepala semua orang. Padahal kami sudah melewati banyak suka dan duka bersama. Tapi ternyata tidak bisa menyatukan semua,” kisah Ilham.

Tinggalah Sawi, Oca dan Ilham. Mereka bukan menyerah bahkan tambah solid. Bahkan mereka nekad mengibarkan bendera Oloop studio. Nama Oloop diambil karena dalam bahasa pemograman memiliki dua arti. Loop yang berarti kelompok atau instruksi berulang. Atau proses yang dilaksanakan berulang.

“Dengan nama Oloop kami ingin berkarya terus menerus tanpa henti seperti lingkaran yang terus berputar,” terang Ilham.

Dan harapan itu mulai diraih setelah mereka mendapat pesanan game fun activity untuk event IIMS 2016. “Bisa dibilang itu proyek pertama kami yang komersil dan menghasilkan,” ujarnya.

Semenjak itu Oloop Studio mulai menghasilkan profit. Meski tidak menyebut angka tepatnya, namun Ilham mengaku omzet Oloop Studio bisa mencapai ratusan juta rupiah. Tak hanya itu, dia sudah mendapat persetujuan dari orang tua. “Sekarang apa yang aku kerjakan sudah mendapat restu dari orang tua,” ujarnya riang.

 

Salah satu karya Oloop Studi: Game Funtomotive Marvin (Foto: Oloop Studio/Youngsters.id)
Salah satu karya Oloop Studi: Game Funtomotive Marvin (Foto: Oloop Studio/Youngsters.id)

Ikuti Tren

Dia mengaku jadi pengembang game tidaklah mudah. Maklum, biaya mulai studio memang tidak besar, namun biaya mempertahankan hidup studio itu yang berat. “Game development itu tidak seperti pabrik atau toko dagang yang produksi dan penjualannya relatif stabil. Biarpun keuntungan game pertama bisa besar, project berikut-berikutnya belum tentu untung dan belum tentu juga selesai dalam waktu singkat. Kalau pabrik biar lebih cepat produksinya tinggal tambahin pekerja, kalau game dev bisa kebalikannya. Makin banyak orang malah sering bikin makin ribet dan makin besar pengeluarannya,” paparnya.

Dia juga mengaku menemui masalah dalam hal talent. Terutama yang memiliki visi dan misi yang sama. “Sudah mendapatkan talent dengan chemistry yang kuat dan satu visi,” ujar Ilham. Oleh kaena itu, Oloop Studio masih tetap dikendalikan Ilham bersama Sawi dan Oca.

Selain itu, sejak 16 September 2015 mereka di bawah bendera PT Sagarmatha Creative Indonesia. Kini Ilham mengaku mereka tengah mengembangkan produk baru berbasis augmented reality (AR) dan VR.

Menurut Ilham, saat ini perkembangan game dengan model AR, yakni yang menggabungkan dunia maya dan game di dalam satu simulasi, akan semakin populer. Model AR mulai mereka terapkan sejak mengembangkan produk casual game Tekmon.

“Selama ini AR hanya populer di desktop PC. Namun kini mulai merambah ke mobile gadget. Demikian juga dengan VR. Dan kami pun akan menjajal ke sana. Pemainnya masih sedikit,” ungkap Ilham.

Meski terbilang sudah mulai merengguk sukses sebagai developer game. Ilham tidak berpuas diri. Dia ingin terus mengembangkan diri. “Membuat game itu dibutuhkan sebuah kejelian, ketelitian, detil, hati-hati, dan keberanian dalam mengeksplorasi ide-ide segar yang mampu menghasilkan karya besar. Dan itu yang akan terus di saya gali,” pungkasnya.

 

===========================================

M. Ilham Adiansyah

Tempat tanggal lahir : Jakarta, 19 Maret 1993
Pendidikan : S1 Bina Nusantara Teknik Informatika Jakarta
Jabatan : COO Oloop Studio
Perusahaan : PT Sagarmatha Creative Indonesia
Mulai : Oktober 2014
Alamat : Jl Kuricang XII VC-11 Bintaro Sektor 3A
Modal Awal : –
Omzet : sekitar Rp 100 juta
Produk :
– Funtomotive Marvin’s Journey di IIMS 2015
– Super Hero The Real Safety Concern
– Tekmon Monster Bazaar Teknologi
Klien : Dyandra, Superhero Movement, Ahoy Geboy, Jackbiker.com

==============================================

 

STEVY WIDIA

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY