Kevin Osmond : Jadi (Digital) Entrepreneur Harus Bisa Validasi Bisnis

Kevin Osmond, Founder & CEO Printerious (Foto: Fahrul Anwar/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - “Ide bisnis itu murah, eksekusilah yang mahal,” Hal itu yang terbukti pada para pelaku usaha rintisan (startup). Beragam startup teknologi bermunculan, namun tak banyak yang bertahan.

Pada dasarnya, ide untuk mendirikan startup terbilang mudah didapat. Anda bisa mencarinya dari masalah yang anda rasakan sekarang. Atau juga bisa meniru bisnis model yang telah berjalan di negara lain dan menerapkannya di Indonesia. Hanya saja, meniru ide bisnis luar dan menerapkannya di lokal tidak selalu berhasil.

“Menjalankan startup itu bukan pekerjaan yang gampang, saya sering menemukan anak muda yang kemakan kisah sukses yang membuat mereka bercita-cita untuk membangun startup biar dibilang keren, padahal startup itu adalah bisnis, dan bisnis haruslah menghasilkan uang, ini bukanlah permainan,” ungkap Kevin Osmond, founder Printerous kepada Youngsters.id.

Intinya, anak muda mestinya bercita-cita membangun perusahaan yang sukses dan besar, bukan sekadar usaha rintisan baru yang tidak jelas. Hal itu telah dia buktikan sendiri. Sepak terjang Kevin di dunia startup sudah cukup lama. Kevin merupakan serial entrepreneur muda yang sukses dengan beberapa startup yang dikembangkannya. Antara lain: Filmoo, FIMELA, Bouncity, Tiket.com, Weekend Inc, hingga yang terbaru ini adalah Printerous.

Pritnerous sesungguhnya meniru bisnis model ShutterFly yang layanannya belum tersedia di Indonesia, ditambah dengan modifikasi untuk menyesuaikan dengan pasar Indonesia. “Perlu disadari bahwa sebagai manusia, pengetahuan kita terbatas, kita tidak tahu apa yang terjadi di luar pengetahuan kita. Jadi kita harus selalu memvalidasi ide bisnis dari waktu ke waktu, apakah bisa diterima di pasar atau tidak,” tegas Kevin.

Validasi inilah yang Kevin lakukan hingga lahirlah Printerous. Kevin mengatakan bahwa Printerous adalah bisnis yang sangat sesuai dengan passion-nya pada teknologi dan juga desain.

“Makanya saya  memutuskan untuk fokus penuh pada Printerous. Karena bisnis ini bukanlah hal yang mudah. Bahkan pada awalnya kami tidak begitu yakin apakah bisnis ini bisa berjalan atau tidak, kami masih membutuhkan validasi pasar,” ucapnya.

Printerous adalah platform yang menyediakan layanan edit dan cetak foto Instagram ke dalam bentuk canvas, album foto, sticker, dan magnet lalu hasilnya akan dikirim ke rumah anda. Dengan Printerous anda dapat menyimpan kenangan indah anda dalam bentuk nyata yang bisa dilihat dan rasakan kapanpun.

“Yang pasti, hadirnya Printerous akan memudahkan masyarakat dalam menyelesaikan pekerjaannya. Masyarakat tidak perlu datang ke percetakan, mereka cukup melakukan di rumah dan melalui aplikasi yang kami sediakan ini dan pekerjaan cetak-mencetak kami yang melakukan,” tutur Kevin.

 

Awalnya Sampingan

Sejatinya, Printerous hanyalah bisnis sampingan Kevin yang sama sekali tidak dipasarkan luas. Pasalnya, Kevin tengah membangun startup studio desain Wekend Inc. Sebelumnya, Kevin ikut membidani kelahiran startup Bouncity dan Tiket.com.

“Sebenarnya, saya ingin membangun suatu startup dengan produk yang nyata yang bisa menyelesaikan masalah banyak orang. Tapi pada waktu itu kami ingin membangun bisnis yang sustainable terlebih dahulu sebelum saya memutuskan untuk membangun startup yang baru lagi,” ungkapnya.

Namun, akhirnya Kevin memutuskan untuk meninggalkan Weekend Inc, yang didirikannya sejak 2012. Padahal Weekend Inc telah berkembang dan sudah memiliki sekitar 30 karyawan, dan telah memberi pendapatan mililaran rupiah setiap tahun.

Sekali lagi pria kelahiran Jakarta, 24 Oktober 1982 ini sudah memperhitungkan langkah yang diambilnya tersebut dan memutuskan fokus menjalankan Printerous. “Ini sebelumnya merupakan startup sampingan yang saya bangun ketika masih ikut menjalankan Weekend Inc di akhir tahun 2012. Dengan melihat perkembangan Printerous sekarang, saya yakin Printerous mempunyai masa depan yang cerah,” kata Kevin dengan yakin.

Keyakinan itu muncul karena Kevin mengatakan bahwa Printerous adalah bisnis yang sangat sesuai dengan passion-nya pada teknologi dan juga desain. Selain itu, di zaman media sosial adalah raja, platform ini sangat menarik. Foto-foto yang jadi kenangan dari media sosial seperti Instagram, bisa diedit dan dicetak dalam berbagai media.

Kevin mengaku, masalah terbesarnya adalah apakah customer mau mengedit dan mencetak foto mereka sendiri melalui layanan yang disediakan Printerous di website? Inilah yang menjadi tantangan terbesar Kevin terhadap bisnis ini.

“Bisnis printing online ini masih asing market-nya di Indonesia. Bagi saya tantangan terberat hingga kini adalah bagaimana mengenalkan dan mengedukasi bahwa saat ini masyarakar bisa melakukan print online tanpa harus datang ke percetakan. Jadi cara kami menanganinya harus konsisten dan terus berkomunukasi dengan masyarakat mengenalkan produk kami ini,” ungkap Kevin.

Ia juga dengan semangat mencobakannya langsung ke pasar dan membangun MVP (Minimum Viable Product) yang jelas. Hasilnya, Printerous bisa diterima baik oleh konsumen dan langsung mendapat lebih dari 7.000 customer. Bahkan, setiap hari sedikitnya 3.000 pelanggan datang.

“Ini semua bisa didapat oleh Printerous tanpa promosi sama sekali. Ribuan customer inilah yang menghidupi Printerous saat ini,” klaim Kevin sambil tersenyum. Desktop Printerous Moment sudah ada sejak 2012, dan dari desktop tersebut 50%-nya adalah pengguna smartphone.

Kini Printerous telah memiliki tiga lini bisnis, yakni Printerous Moments, Printerous Business, dan Arterous. Ketiganya memiliki segmentasi yang berbeda-beda.

Untuk Printerous Moments difokuskan layanan printing personal, kemudian Printerous Business layanan printing komersial untuk UMKM dan korporasi, serta Arterous fokus terhadap artis independen yang dapat memasarkan hasil karyanya.

Sayangnya, Kevin saat itu tidak menjelaskan detail bagaimana perkembangan dari ketiga lini bisnisnya tersebut. Dia hanya memaparkan perkembangan dari lini bisnis Printerous Moments. Menurutnya saat ini dari total pengguna Printerous Moments, 40% adalah repeat customer.

 

Kevin Osmond menjadi salah satu pembicara dalam event pembicara di DOTD 2017 (Foto: Fahrul Anwar/Youngsters.id)

 

Ekosistem Startup

Kiprah Kevin di dunia startup sudah dia lakukan sejak tahun 2005. Alumni Universitas Bina Nusantara Jurusan Komputer Scinece ini mengawali dengan mendirikan Aitindo, perusahaan yang melayani jasa web development. Setelah itu, dia sempat bekerja di digital agency, sebelum bersama Ben Soebiakto mendirikan Fimela pada akhir 2010.

Lalu pada pertengahan tahun 2011 Kevin bersama ketiga temannya membangun Bouncity, sebelum akhirnya diakusisi oleh Qeon. Seiring itu, Kevin ikut mendirikan Tiket.com (2012). Kemudian bersama Richard Fang mendirikan Weekend Inc, studio desain website dan mobile. Namun lagi-lagi pria yang baru dikaruniai seorang putra itu kembali membangun startup baru.

Kevin pun menilai ekosistem startup di Indonesia sudah semakin maju. Menurut dia hal itu ditandai dengan banyaknya investor asing yang masuk ke Indonesia. Selain itu, didukung oleh penetrasi internet yang semakin tinggi, dan pasar yang berkembang.

“Ekosistemnya sangat mendukung, pemeritah juga sudah mendukung, banyak sekolah coding. Bagi saya, ini semua adalah kesempatan bagi teman yang ingin memulai menjadi seorang startup. Selain itu, saya melihat bahwa investor asing jauh lebih aktif dalam berinvestasi pada bisnis internet di Indonesia dibanding investor lokal,” ungkapnya.

Bahkan, menurut Kevin, ekosistem startup sekarang jauh lebih baik dibanding ketika dia mulai terjun berbisnis. Terbukti, baru-baru ini ia mendapatkan pendanaan seri A sebesar Rp 18 M. Sumber pendanaannya itu berasal dari tiga investor yakni Goden Gate Ventures (Singapura), Sovereigns Capital (Amerika Serikat), dan Gunung Sewu Kencana.

Jumlah pendanaan pra-seri A tersebut, kata Kevin, tak ingin disia-siakan begitu saja tanpa adanya pemasukan untuk keuntungan dan keberlangsungan bisnisnya. Dia menargetkan, dalam jangka waktu kurang dari dua tahun ke depan perusahaan besutannya mampu mengantongi profit.

“Menurut saya startup itu harus scalable dan profitable. Meskipun startup, tetapi tetap harus bisa mendapatkan profit. Karena pada dasarnya startup itu adalah sebuah usaha. Jadi tujuan saya bisa mendapatkan profit. Jika mendapatkan profit, artinya saya tak tergantung lagi dengan pendanaan baru,” ungkapnya.

Di sisi lain, meski ekosistem startup sekarang kondusif, Kevin mengakui hanya sedikit startup Indonesia yang bisa meraih sukses. “Strategi jitu atau ampuh selama berbisnis kayaknya memang nggak ada. Tetapi how to create, adalah mau untuk terus belajar dan berkomunikasi dengan customer, termasuk menerima complain. Karena kriteria startup sukses itu, mereka yang bisa menemukan sebuah masalah dengan market yang sangat besar. Kemudian dia men-develope sebuah solusi yang tepat lalu dipasarkan dengan baik ke pasar-pasar tang tepat. Yakin, kalau kita sudah melakukan hal itu, segala sesuatu akan berjalan sendiri,” paparnya.

Oleh karena itu menurut Kevin para pelaku startup perlu bergabung ke dalam komunitas atau mungkin incubator yang benar-benar berdedikasi tinggi untuk membantu para partisipannya dalam membesarkan startup mereka.

“Dulu ketika saya mulai berbisnis, saya tidak memiliki mentor, alhasil saya harus mempelajari segala sesuatu yang dibutuhkan sendiri. Saya berharap bisa mendapatkan mentor sedari dulu karena mentor bisa membimbing dan mempercepat kita dalam mencapai kesuksesan membangun perusahaan,” ungkapnya.

Hal itu telah dibuktikannya sendiri. Saat ini Printerous sudah membukukan pendapatan sekitar Rp30-40 juta setiap bulannya. Dan pengagum Steve Job itu semakin yakin bahwa Printerous adalah bisnis yang bisa diterima pasar dan sustainable.

“Saya selalu teringat dengan kata-kata Steve. Dia mengatakan stay hungry, stay fooly. Maksudnya bagaimana kita setelah bodoh dan bagaimana kita setelah lapar, setelah itu kita dituntut untuk melakukan yang terbaik hari demi hari. Seperti yang saya lakukan untuk Printerous, dari karyawan sampai pelanggan selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk mereka semua,” ucap pria yang murah senyum itu.

Satu lagi rahasia sukses Kevin. “Kalau mau sukses jangan banyak alas an, karena hal itu seringkali menjadi musuh dalam diri. Sekarang ekosistem startup sudah semakin tumbuh, jadi jangan bilang nggak ada modal, nggak ngerti sekarang bisa bertanya. Semua sudah mendukung, termasuk investor sudah banyak. Jadi kalau mau jadi startup sukses mulai sekarang jangan banyak alasan,” tutupnya.

 

========================================

Kevin Osmond

  • Tempat tanggal lahir  : Jakarta 24 Oktober 1982
  • Pendidikan Terakhir    : S1 Bina Nusantara University, Jurusan Tehnik Informatika
  • Mulai Usaha                : 2012
  • Modal Awal                : Rp 100 juta
  • Jumlah Transaksi         : sekitar 30.000 transaksi per hari
  • Omset                          : Rp 30-40 juta perbulan

=============================================

 

FAHRUL ANWAR

Editor : Stevy Widia