Itmamul Khuluq : Maju Bersama Dengan Para Peternak Burung Puyuh

Itmamul Khuluq, Founder dan Direktur CV. Holstein Indonesia (Foto: Dok. Pribadi/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Beternak burung puyuh belum begitu diminati di masyarakat. Padahal potensi bisnis dari unggas asli Indonesia ini tinggi, menginggat manfaatnya mulai dari telur, daging hingga kotoran.

Menteri BUMN Rini Soemarno beberapa waktu lalu sempat mengungkapkan bahwa potensi bisnis peternakan burung puyuh itu baik. Mengacu pada tingginya permintaan untuk telur puyuh di pasar Indonesia, mencapai angka 14 juta butir/minggu.

Kondisi ini seharusnya menjadi peluang usaha bagi masyarakat untuk membudidayakan burung puyuh. Namun pada kenyataannya para peternak burung puyuh baru bisa memasok sekitar 3,5 juta butir telur. Itu dikarenakan pengelolaan peternakan burung puyuh masih terbilang tradisional sehingga efektivitas kegiatan produksinya rendah dan hasil yang didapatkan kurang maksimal.

Berangkat dari keprihatinan atas kondisi itu, Itmamul Khuluq tergerak untuk turut membantu para peternak di daerahnya, dengan mendirikan CV Holstein Indonesia. Usaha ini dimaksudkan untuk melakukan pemberdayaan kepada peternak puyuh di daerah Karanggede, Boyolali, Jawa Tengah.

“Awalnya saya tidak ada niat berjualan telur puyuh, murni karena ingin membantu peternak,” ujar Khuluq kepada Youngsters.id.

Sebagai seorang Sarjana Peternakan Universitas Gajah Mada, Khuluq mengaku usaha yang dikembangkannya itu termotivasi untuk membantu memasarkan telur puyuh dari para peternak di daerah dia tinggal itu. Khuluq bercerita, ia sering menemui kebanyakan peternak puyuh di Karanggede memiliki pengetahuan teknis pemberdayaan burung puyuh yang sangat rendah dan tertinggal. Pengelolaan peternakan burung puyuh masih terbilang tradisional sehingga efektivitas kegiatan produksinya rendah dan hasil yang didapatkan kurang maksimal.

Tak hanya itu, nilai jual telur puyuh juga rendah. Ketika itu, para peternak hanya menghasilkan bahan baku saja. “Saya tidak ingin kondisi itu terus terjadi, peternak bukanlah buruh. Peternak tidak boleh dibiarkan buta informasi, buta harga, buta teknologi. Mereka adalah pahlawan pangan yang harus dihargai,” ucap Khuluq.

Menurut Khuluq, permasalahan nilai harga jual telur puyuh terletak pada belum adanya inovasi dari produk telur puyuh itu sendiri. Ditambah lagi, harga pakan terus melambung tinggi dan tak sebanding dengan kenaikan harga jual yang hanya berharga sekitar Rp 70 – 100 per butir.

Harga sarana produksi lainnya yang susah didapat juga sangat mahal karena pembeliannya dalam skala kecil. Belum ada pendapatan sampingan dari hasil ikutan, seperti harga jual afkir puyuh (puyuh yang tidak produktif lagi), seperti diobral, limbah puyuh pun belum termanfaatkan untuk pupuk.

“Saya menemui para peternak yang mengeluhkan ketidakpastian pasar. Saya berinisiatif membantu mereka untuk menjualkan dengan cara berbeda,” ujarnya.

 

Mas Kawin

Berangkat dari keprihatinan itu, Khuluq yang ketika itu masih bekerja di sebuah perusahaan pakan ternak itu memutuskan untuk membuka usaha pemasaran telur puyuh sendiri pada Juni 2012.

 

Beberapa produk olahan telur puyuh dari CV Holstein Indonesia (foto: Dok. Pribadi/Youngsters.id)

 

Menurut Khuluq, melalui usaha itu dia dapat membantu memasarkan telur puyuh dengan kualitas yang baik, menyediakan kebutuhan peternakan yang terjangkau, menampung hasil ternak dengan harga yang wajar, serta melakukan pendampingan masyarakat.

Untuk mewujudkan usaha itu, Khuluq mengaku bermodalkan uang tabungan dari mas kawin istrinya, Ferra Sekar Pratiwi, yang dipakai membangun CV Holstein Indonesia. Nama usaha, berasal dari nama sapi bibit unggul penghasil susu terbesar di dunia. “Kami diberi keterbatasan finansial, namun kami punya potensi diri dan ridho dari Allah,” ujarnya.

Khuluq bercerita, langkah pertama usaha ini adalah merombak kemasan telur puyuh. Biasanya kemasan satu dus besar, berisi 750 butir telur puyuh. Kini mulai diubah, satu dus besar tetap berisi 750 butir tapi dibagi lagi dalam bungkusan lebih kecil. Sehingga bisa menjual eceran ke end user, dengan kemasan lebih kecil. Inovasi itu meningkatkan penjualan produk dan mengangkat nama Khuluq di mata para peternak telur puyuh.

“Awalnya hanya satu peternak yang bisa kami ajak, tetapi setelah langkah itu terlihat berhasil seperti ketuk tular usaha kami ini,” ucap Khuluq.

Di awal, CV Holstein hanya mengandalkan satu peternak berdaya serap 10 dus (7.500 butir) per minggu. Tapi sejak tahun 2016 perusahaan itu telah mampu menyerap 100 dus (75.000 butir) per hari dengan jumlah peternak sebanyak 90 orang yang tersebar di Boyolali, Semarang, Sragen, dan Magelang.

Selain mampu memasarkan hasil produksi peternak di sekitarnya, Holstein juga mampu menyerap produk telur puyuh dari wilayah Tulungagung dan Blitar (Jawa Timur). Pemasaran telur puyuh juga menjangkau keluar daerah Boyolali seperti Sukabumi, Jakarta, Pekalongan, Kendal, Kebumen, Yogyakarta, Semarang, Sragen dan Magelang. Bahkan, saat ini Khuluq sudah mampu memasarkan produk telur puyuh itu keluar pulau Jawa, yaitu Pontianak sejak tahun 2015 menyusul Lampung pada tahun 2016.

Menurut Khuluq, dia menerapkan sistem administrasi yang rapi dan pembukuan terbuka,  sehingga setiap peternak tahu berapa besar keuntungan yang diperoleh.

“Kami menempatkan diri pada posisi sama, peternak tidak hanya sekedar mitra tetapi sama-sama raja meski otoritasnya berbeda. Hubungan Holstein dan peternak, ibarat partner raja. Beda dengan tengkulak, yang memosisikan peternak tidak berdaya sehingga tidak berdaya beneran,” ungkapnya.

Tak hanya itu, dengan sistem kemitraan, Khuluq melakukan pendampingan kepada para peternaknya. Ia memberi informasi langsung dan rutin pada peternak saat pengambilan telur. Dari sana dia memahami kebutuhan peternak akan pakan, vitamin dan obat-obatan.

Dan, lagi-lagi dengan keinginan untuk membantu, pria asal Lamongan ini membuat kelompok ternak dan kontrak kerjasama pembelian pakan dari Holstein. Dengan begitu, ia dapat menyediakan kebutuhan itu dengan harga terjangkau dan stabil.

Khuluq menenrangkan, keinginannya untuk bisa menyediakan pakan ternak unggas ini nyaris berakibat fatal. Pasalnya, ketika memulai dia membeli satu truk untuk mendpatkan harga murah. Ternyata produk ini tidak habis terjual dalam jangka waktu dua bulan. “Istri masih sempat guyon, kalau enggak habis nanti pakan ternak kita makan sendiri saja,” ujarnya sambil tertawa mengenang.

 

Itmamul Khuluq, melalui Holstein Indonesia, memberi berbagai dampak positif untuk masyarakat sekitar, khususnya para peternak puyuh binaannya. (Foto: Istimewa/Youngsters.id)

 

Berpikir Beda

Kini, peternak telur puyuh merasakan berbagai dampak positif, seperti meningkatnya pendapatan peternak, rata-rata Rp 1.200.000 per minggu, sehingga taraf hidup masyarakat otomatis ikut naik, dan terbukanya informasi IPTEK.

Selain itu, Holstein juga mengadakan diskusi dan memperbanyak referensi dalam membangun rumah pupuk organic. Termasuk mengembangkan usaha peternakan ikan lele di bawah kandang serta limbah burung puyuh.

Dari usahanya yang mulai berkembang, Khuluq bisa memperkerjakan masyarakat di daerah sekitar. Total ada 13 karyawan tetap, 4 karyawan tidak tetap dan sisanya tenaga borongan. Mitra aktif peternak puyuh sebanyak 90 orang, dengan minimal kepemilikan burung puyuh sebanyak 1.000 ekor, serta reseller di pasar sebanyak 11 orang.

Holstein juga mendukung permodalan peternak dari keuntungan jual-beli pakan dan telur. Sejumlah pendampingan lainnya, seperti alih informasi atau pengetahuan mengenai ternak, serta pasokan pakan ternak yang berkualitas dengan harga terjangkau pun diberikan Holstein kepada para peternak binaannya.

Menurut Khuluq, selanjutnya ia berkomitmen membangun Rumah Pupuk Organik untuk menangani limbah kotoran puyuh. Holstein juga berencana membuat Rumah Potong Unggas  untuk menangani puyuh afkir, serta pengolahan produk inovasi telur puyuh, yakni ekspor telur puyuh olahan untuk segmentasi luar negeri.

Tak hanya itu, dia juga sedang mengusahakan pendirian koperasi. Khuluq mengaku ide ini berangkat dari kondisi peternak yang high risk. Misalnya, terjadi pada tahun 2012, muncul isu flu burung dan penyakit unggas lainnya. Saat itu peternak benar-benar stres, hasil telur puyuh jatuh harga akibat menurunnya permintaan.

“Peternak yang sudah menghadapi resiko, masih dibebani oleh lembaga keuangan. Koperasi ini ingin menerapkan azas keadilan, antara pengelola keuangan dan peternak,” jelasnya.

Koperasi juga difungsikan untuk saling membantu sesama anggota. Caranya dengan menyisihkan Rp 1.000 untuk ditabung, saat transaksi pakan atau telur puyuh. Sedikit demi sedikit, kalau terkumpul akhirnya menjadi banyak juga. Hal ini terbukti, saat ada anggota keluarga yang sakit, peternak lain support melalui tabungan di Koperasi Holstein.

Khuluq, melalui Holstein Indonesia, memberi berbagai dampak positif untuk masyarakat sekitar, khususnya para peternak puyuh binaannya. Pantaslah ia menjadi meraih Danamon Social Entrepreneur Awards 2016.

Namun, kembali dia menegaskan, usaha ini bukan untuk keuntungan semata. “Kalau niat awal berusaha adalah mencari uang, biasanya justru uang akan menjauh. Ketika kita mau berpikir berbeda, hasilnya juga berbeda. Semakin kita berpikir untuk membantu orang, justru akan banyak terbuka jalan. Kalau berpikir egois menangnya sendiri, kelihatannya dapat tetapi aslinya nggak dapat,” pungkas Khuluq.

 

=======================================

Itmamul Khuluq

  • Tempat Tanggal Lahir : Lamongan, 16 Januari 1986
  • Pendidikan Terakhir    : S1 Fakultas Peternakan Universitas Gajah Mada
  • Usaha                        : CV. Holstein Indonesia
  • Mulai Usaha                : Juni 2012
  • Jabatan                      : Founder & Direktur
  • Modal awal                 : Rp 150 ribu
  • Karyawan                   : 17 orang
  • Mitra                           : 90 orang peternak/11 reseller
  • Prestasi                      : Juara Favorit Danamon Social Entrepreneur Award 2016

============================================

 

STEVY WIDIA

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY