Ikin Wirawan : “Pedagang Senjata” di Dunia Digital

Ikin Wirawan, founder dan CEO Walden Intertech Group (Foto : Stevy Widia/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Bagi lelaki ini programmer adalah pekerjaan yang bermasa depan. Karena itu dia mendirikan berbagai perusahaan yang bergerak dibidang pengembangan software dan pelatihan programmer. Dengan mimpi suatu hari kelak dapat menjadikan Indonesia sebagai IT outsourching hub seperti India. Dia adalah Ikin Wiryawan.

“Jadi programmer itu adalah pekerjaan yang sangat bermasa depan. Kalau jadi karyawan jika tidak sigap bisa kena PHK. Sedangkan programmer bisa punya pendapatan tinggi dan memberi social impact yang besar bagi semua bidang,” ungkap pria kelahiran Bandung, 28 Desember 1982 ini saat ditemui Youngsters.ID di Jakarta.

Oleh karena itu, Ikin membangun dan mengembangkan sejumlah perusahaan yang dapat menyediakan programmer demi memenuhi kebutuhan software dalam dan luar negeri. “Saya ingin menjadikan Indonesia sebagai IT outsourcing hub seperti India,” ucapnya.

Berangkat dari mimpi itulah satu dekade lalu Ikin merintis usaha dibidang alih daya teknologi informasi (TI). Kini usahanya telah berkembang pesat dan melahirkan berbagai usaha baru. Berawal dari KiranaTama lalu PT Walden Global Service (WGS). Kini dari usaha itu lahirlah Hellobisnis.com, geeksfarm.com, Upliftlab, Smooth, dan Pedals.id. Semua bergerak di lini pengembangan software, namun dengan proyek dan target klien yang berbeda.

“Alasan untuk membangun semua lini ini karena pasar ada, kebutuhan ada, tetapi selama ini tidak terakomodir,” ujar Ikin.

 

Satu Dekade

Semua berawal dari kepulangan Ikin ke Tanah Air tahun 2006. Kala itu dia baru berusia 22 tahun dan baru saja bergabung sebagai software engineer di Sparkart, sebuah perusahaan Internet di Emeryville, CA. Tetapi keinginan yang kuat untuk membangun usaha sendiri membuat lulusan computer science di Foothill College and University of California, Berkeley ini memutuskan untuk memulai usaha sendiri.

“Saya lahir di sini, rumah saya di sini. Kesempatan di sini sama besar dengan pasar yang ada di AS,” katanya.

Awalnya dia membangun KiranaTama, sebuah perusahaan alih daya yang mengerjakan Ruby on Rail, sebuah ceruk software yang digunakan perusahaan tempat dia sempat bekerja. “Saya melihat IT outsourching adalah kesempatan, karena lebih terjangkau untuk menyewa karyawan di sini daripada di AS,” kata Ikin.

Di masa awal, Ikin dibantu empat orang developer/programmer yang bekerja dari jam 10 malam hingga 6 pagi mengikuti waktu kerja di AS. Maklumlah, klien pertama yang menggunakan jasa WGS adalah perusahaan tempat ia bekerja sebelumnya di Silicon Valley. “Mantan bos saya menerima tawaran jasa outsourcing dari saya. Jadi, perusahaan itu menjadi klien pertama WGS,” kisahnya sambil tertawa.

Di tahun 2009 Ikin mengibarkan bendera WGS, dengan klien dari kalangan digital start-updi Silicon Valley. Bisnis WGS dengan cepat berkembang.

Kini, WGS telah menjadi salah satu perusahaan TI terbesar dengan karyawan lebih dari 200 orang. WGS mengerjakan lebih dari 200 proyek untuk lebih dari 150 klien di 25 negara. Kebanyakan, WGS mengerjakan pengembangan aplikasi yang bersifat custom(sesuai dengan kebutuhan klien), mulai dari yang berbasis Ruby on Rails, sampai PHP, DotNet, Java, Android, iOS, dan sebagainya.

Dari Ruby on Rail, WGS merambah ke berbagai kegiatan mulai dari software development, engineering, konsultan teknologi, layanan manajemen dan solusi cloud. Bahkan perusahaan ini menjadi mitra Amazon Web Services (AWS) pertama di Indonesia. Di dalam negeri WGS memiliki klien korporat di antaranya: United Tractors, Elnusa, Nutrifood dan kelompok Kompas Gramedia. Untuk klien enterprise, selain membuatkan aplikasi, WGS juga berperan sebagai konsultan IT development framework perusahaan tersebut.

Selain menerima order dari perusahaan, WGS juga mencoba membuat produk sendiri yang dilakukan sejak 2012. Produknya semacam ERP sederhana untuk UKM, dalam bentuk cloud computing untuk software. Tak heran jika Ikin mengklaim WGS merupakan perusahaan alih daya TI di Tanah Air yang paling banyak mempekerjakan pegawai. “Ada sekitar 300 karyawan kami di Bandung,” katanya.

WGS mengelola 50 concurrent project (proyek yang dikelola berbarengan). Ikin mengaku WGS telah mengerjakan ratusan proyek dari kliennya di 23 negara di dunia. Tetapi di tahun 2014, WGS didelegasikan kepada Eric Rusli sebagai CEO, Sedangkan Ikin fokus membangun Walden Intertech Group.

 

Demand dan Suply

Bagi Ikin pengembangan usaha ini merupakan bagian dari perubahan situasi bisnis yang dijalaninya. “Bisnis kami sudah dibagi menjadi dua. Ada yang fokus ke ‘pabrik’, bikin program dan ada yang ke distribution project management. Kliennya juga di Indonesia maupun di luar negeri. Pertama kita me-manage demand, dan kemudian me-manage supply juga,” ungkapnya.

“Bisnis saya sudah establish. Dalam dua tahun terakhir ini WGS sudah menjadi grup dengan 10 sister company,” ucapnya penuh semangat. Lagi-lagi ia membangun usaha yang mampu memunculkan programmer yang handal yakni Geekfarm.com. Bisnis ini untuk melatih dan menyalurkan sejumlah programmer berpengalaman untuk bekerja di luar negeri dengan harga premium. Dengan usaha ini dia berharap bisa mencetak 1.000 programer per tahun.

“Jadi saya memang dari dulu ingin Indonesia di luar negeri jangan hanya beken karena pembantunya, tetapi programmernya juga,” ucap Ikin.

Ia membandingkan Indonesia yang kalah jauh dari Vietnam dalam hal jasa alih daya TI. Vietnam sudah memiliki sekitar 14 ribu orang yang bekerja sebagai tenaga alih daya di bidang TI ini, jauh lebih banyak dibanding Indonesia. Karena itu Ikin ingin membuka kesempatan yang lebih luas untuk bisa melatih anak-anak remaja menjadi programmer. “Anak SMA yang matematikanya bagus tapi tidak punya uang untuk kuliah akan di-training menjadi programmer dan diserap langsung bekerja,” tegasnya.

Untuk menyerap para programmer itu Ikin punya Kiranatama dan Upliftlab. Lewat Kiranatama programmer lokal lansung dapat mengerjakan berbagai proyek di dalam negeri. Sedangkan Upliftlab para programmer berpengalaman lebih dari lima tahun akan mengerjakan proyek di luar negeri. “Jadi bisa saling mengisi supply dan demand,” ujar Ikin.

 

Ikin Wirawan (Foto: Stevy Widia/Youngsters.ID)
Ikin Wirawan, founder PT Walden Global Service/WGS (Foto: Stevy Widia/Youngsters.ID)

 

Pedagang Senjata

Di awal tahun 2016 lahir Hellobisnis.com. Ini semaca WGS tetapi dengan segmen perusahaan menengah di dalam negeri. “Alasan bikin lini ini karena treatment ke perusahaan besar dan ke perusahaan menengah itu beda. Pasar ada, kebutuhan ada tetapi selama ini tidak terakomodir. Selain itu bisnis ini juga menjadi lapangan pekerjaan bagi para programmer daerah untuk bisa berkarya,” ungkap suami dari Erlin Veronica Hartanto itu.

Hellobisnis dibangun untuk memenuhi kebutuhan software bisnis kelas menengah. Di Hellobisnis produk softwarenya dapat disewa tanpa harus membayar di muka. Usaha ini juga termasuk melayani pembuatan web sistem, dan aplikasi. “Ini untuk memenuhi kebutuhan perusahaan menengah yang budget IT belum sebesar korporat,” ungkap Ikin.

Rencananya bisnis ini akan dibangun di sejumlah kota di Indonesia seperti Bandung, Medan, Surabaya. Bahkan, kota kecil seperti Tasikmalaya dan Garut. “Ini saling menguntungkan. Pengusaha bisa mendapatkan programmer dengan sistem yang lebih terjangkau. Sebaliknya programmer lokal bisa bekerja di tempatnya sendiri,” ujar Ikin.

Dari semua yang dilakukan itu, Ikin memposisikan dirinya sebagai pedagang senjata. “Saya ibarat pedagang senjata yang menyediakan tentara dan senjata bagi perusahan yang mau berperang di dunia digital,” katanya sambil tertawa.

Menurut dia dunia bisnis digital dan internet sekarang ini mirip seperti demam emas yang terjadi di Amerika era 1800an. Ada banyak orang yang menjadi penambang emas. Ada juga yang memilih jadi toko peralatan yang jual sekop saja. “Jadi sekarang ada banyak orang memilih untuk jadi ‘penambang emas’ dengan membangun startup. Sedang saya memilih ‘jual sekop’ yaitu software house,” paparnya.

Menurut dia, bisnis startup terlihat lebih seksi. Apalagi cepat dapat investor. Berbeda dengan software house yang tidak tampil, bahkan tidak ada investor yang tertarik. Meski demikian,Ikin yakin bahwa bisnis software house ini adalah bisnis yang menguntungkan. “Bisnis ini tidak terlihat tetapi menguntungkan,” tukasnya.

 

==========================================

Ikin Wirawan

  • Tempat Tanggal Lahir : Bandung 28 Desember 1982
  • Nama Istri : Erlin Veronica Hertanto
  • Pendidikan : University of California, Berkeley
  • Nama Usaha : PT Walden Global Service (WGS) dan Walden Intertech Group
  • Bidang Usaha : Alih daya TI, dan solusi TI
  • Jumlah Karyawan : 200-300 orang
  • Klien : mengerjakan lebih dari 200 proyek untuk lebih dari 150 klien di 25 negara.

Proyek :

  • WGS.co.id – Enterprise technology solutions
  • KiranaTama.com – Instant programmer outsourcing
  • AppsChef.com – Mobile developer
  • Smooets.com – Programmer marketplace
  • Upliftlab.com – Creme-de-la-creme outsourcing
  • GeeksFarm.com – Programmer training & recruitment
  • HelloBisnis.com – SMB software house & SaaS
  • Avelca.com – Application PaaS
  • Pedals.id – Digital accelerator for businessmen

=========================================

 

STEVY WIDIA

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY