Ery Punta Hendraswara : Indigo Creative Nation Bangun Digitalpreneur Yang Kuat

Ery Punta Hendraswara, Deputy EGM Coherence & Innovation Management, Digital Service Division PT Telkom, yang juga sebagai Managing Director Indigo Creative Nation. (Foto: Dok. Pribadi/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Sebelum pemerintahan Presiden Jokowi mencanangkan target melahirkan 1.000 technopreneurs hingga tahun 2020, PT Telkom sudah memiliki program untuk melahirkan para pebisnis rintisan digital ini melalui Indigo Creative Nation (ICN) yang dibuat tahun 2009.

Tetapi, ICN ini bukan sekadar program mencari startup dan melahirkan technopreneur. Di ICN ada proses inkubasi start up dengan Sillicon Valley mindset, hingga ke tahap akselerasi. Bahkan, sekarang fokusnya lebih pada pembinaan startup. Dari sini diharapkan makin banyak technopreneur baru yang memiliki passion membangun digital company, sehingga jangka panjangnya bisa mendorong kemajuan ekonomi digital di Indonesia.

Tentunya, pengembangan startup itu tidak bisa instan. Bagaimana program ini bertranformasi, berikut petikan wawancara Wartawan Youngsters.id Stevy Widia dengan Ery Punta Hendraswara, Deputy EGM Coherence & Innovation Management, Digital Service Division PT Telkom, yang juga sebagai Managing Director Indigo Creative Nation :

Bagaimana awal mula terbentuknya program Indigo Creativ Nation ini?

Program ini diinisiasi pada tahun 2009. Bermula dari Indigo Award yang merupakan ajang untuk memberikan apresiasi bagi talenta digital dari seluruh kategori industri kreatif yang dnilai berhasil dan memberikan manfaat bagi masyarakat, lingkungan dan dapat mendorong serta menciptakan peluang bisnis baru.

Seiring berjalannya waktu, program ini mengalami perkembangan. Kami berkaca pada Silicon Valley yang menyebarkan semangat kolaborasi dan berbagi yang berasal dari komunitas untuk komunitas. Kami ingin tak lagi sekadar memberikan penghargaan tetapi mulai membangun ekosistem digital. Pertama dimulai dengan menyiapkan wadah. Lahirlah Bandung Digital Valley ditahun 2011. Dari sanalah mulai dibangun program incubasi dengan kurikulum usaha rintisan yang mengacu pada Sillicon Valley mindset.

Bagaimana perkembangan program Indigo sekarang ini?

Awalnya kita hanya ajang untuk berikan penghargaan, encourage. Lalu kami melihat digital ekosistem di Indonesia masih tahapan awal. Telkom sebagai BUMN kami punya keinginan untuk berkontribusi membangun ekosistem digital di Indonesia. Salah satunya kita punya harapan dan misi untuk building stronger digitalpreneur. Kami pingin digital preneur kita itu memang lebih kuat dan siap baik untuk nasional maupun global. Karena ujungnya yang kita berikan di Indigo adalah: pendanaan, mentoring, tempat, infrastruktur, dan market.

Pada program inkubasi, kami membagi jadi dua sesi yang berjalan selama 6 bulan. Di sini kurikulumnya bagaimana menvalidasi ide, memastikan ide itu tepat guna, dan menvalidasi pasar custumer. Jadi kita kenalkan bagaimana membuat produk yang benar. Dan sesudah itu, selama 12 bulan kami memastikan bisnis ini berjalan dengan benar dengan market acceleration.

Kami juga menyiapkan workspace di Bandung Digital Valley, Jogja Digital Valley, dan Jakarta Digital Valley. Dilanjutkan dengan membangun Digital Innovation Lounge (DILO), yang merupakan wadah bagi para startup dan komunitas digital. Ini sebagai pusat-pusat interaksi peminat dan pelaku industri kreatif digital yang bertujuan menciptakan bibit-bibit digitalpreneur yang selanjutnya siap masuk ke industri kreatif digital.

Sejak 2014, sudah ada 16 DILO yang tersebar di 16 kota di seluruh Indonesia yaitu, Depok, Tangerang, Bekasi, Bogor, Bandung, Solo, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Denpasar, Makasar, Balikpapan, Toba, Medan, Pekanbaru, dan yang terbaru diresemikan di Banda Aceh pada 4 Oktober 2016. Di samping menyediakan sarana fisik berupa co-working space, yaitu ruang kerja bersama untuk para digitalpreneur pemula.

Telkom juga tak sekadar meng-encourage, tetapi membangun corporate venture capital lewat Mitra Digital Inovasi (MDI) di tahun 2015. Hal ini berangkat dari keinginan Telkom membangun inovasi dengan melibatkan startup yang bisa kita integrasikan untuk kemajuan Telkom di masa depan. Sesuai dengan visi perusahaan melakukan transformasi digital.

Siapa saja yang menjadi target sasaran Indigo?

Para founders usaha rintisan atau startup yang berbasis digital. Mereka yang sudah lulus dan mau berbisnis. Untuk itu kami menggelar roadshow mulai dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya dan Medan yang adalah kantong-kantong kreatif. Startup yang tertarik untuk bergabung di program Indigo bisa mendaftarkan startupnya kapan saja di website indigo.id.

Banyak peserta yang mendaftar, namun kami melakukan seleksi yang ketat karena yang kami ingin capai adalah kualitas. Sejak digelar tahun 2009 hingga 2016, ICN sudah diikuti 2.000-an startup. Dari jumlah tersebut, hanya 74 startup yang masuh program inkubator.

Mengapa sulit untuk masuk Indigo? Syarat apa yang mesti dipenuhi startup untuk dapat mengikuti program Indigo?

Ajang ini memang lebih kompetitif. Pasalnya ada banyak startup yang tumbuh tapi yang bertahan dan sukses jadi startup itu sedikit. Dan kami ingin menghasilkan startup yang berkualitas. Karena itu Ada dua poin utama yang menjadi dasar penilaian dalam seleksi startup peserta Indigo. Penilaian terbesar, 60 % yang kami lihat adalah founders. Apa tujuan mereka. Startup yang baik itu tujuanya memberikan manfaat, memberikan value, dan memecahkan masalah terutama masalah yang sepadan untuk dipecahkan. Tak sekadar mengedepankan easy money, meski tetap saja harus punya impact bisnis yang jelas. Mereka harus punya visi ke depan.

Para founders juga harus punya kemampuan dan kapabilitas untuk mengerjakan dan menyelesaikan solusi sesuai yang dia cita-citakan. Bagaimana membangun tim yang komplit. Mulai dari yang mengerti teknis, bisnis hingga mengerti desain.

Dan, tim tersebut solid atau tidak. Baru kemudian kita melihat sisi produk. Bagaimana dia melihat marketnya, spesifikasi market dan pesaing. Jadi startup yang bergabung di Indigo harus punya keunikan, punya satu value yang berbeda. Selain itu punya mindset competitor, punya ambisi mengalahkan siapa.

Hal apa saja yang diperoleh Startup yang berhasil masuk program Indigo?

Di dalam program ini, mereka memperoleh mentoring, pendanaan, co-working space, akses marekt dan infrastruktur Telkom Group hingga program immersion dan kunjungan ke mitra ICN di Sillicon Valley, seperti ventura ternama Kleiner Perkins Caufield & Byers (KPCB). Jumlah modal ventura yang diberikan pun bervariasi, mulai dari Rp 250 juta hingga Rp 2 miliar.

Namun kami bukan sekedar adakan kontes, kami ingin persepsi lebih baik dengan jadi agen pembangunan sumber daya manusia. Karena itu, Telkom Group melalui MDI Ventures memberangkatkan beberapa perwakilan startup terbaik Indigo untuk bertemu startup yang mendunia seperti Uber, Facebook, Apple dan Google, dan juga venture capital ternama, Kleiner Perkins Caufield & Byers (KPCB).

Startup peserta program ini akan menerima enam bulan dukungan inkubasi dan membuka akses ke pasar, bisnis, dan konsultan teknis.

 

Ery Punta Hendraswara : Indigo Creative Nation Bangun Digitalpreneur Yang Kuat (Foto: Stevy Widia/Youngsters.id)
Ery Punta Hendraswara : Indigo Creative Nation Bangun Digitalpreneur Yang Kuat (Foto: Stevy Widia/Youngsters.id)

 

Kendala apa yang dihadapi para Startup Indonesia dan bagaimana Indigo berusaha meminimalisasi hal itu?

Banyak pembelajaran yang harus lakukan untuk menjadi startup. Kendala yang dialami startup selama ini adalah soal inovasi, bisnis dan teknis. Yakni membuat bisnis yang tak ada  peminatnya, merekrut sumber daya kurang baik, tidak fokus, gagal di sisi sales-marketing, tidak ada co-founder yang tepat, lebih mengejar ventura daripada kustomer, tidak yakin punya cukup modal, boros operasional, gagal minta bantuan, dan mengabaikan media sosial. Karena itu, ada pepatah “fail fast, success faster”. Jadi kalau mau gagal cepat-cepat saja digagalkan daripada menunggu. Dan kalau bisa suksesnya lebih cepat. Dan itu dapat diperoleh lewat proses inkubasi.

Startup saat ini sudah terbiasa dengan kegagalan, yang dianggap sebagai sebuah proses belajar. Mereka juga lebih mau mendengar dan berkolaborasi, datang ke komunitas untuk bekerja bersama. Kini, pola pikir pelaku startup sudah lebih baik yakni berwawasan bisnis, sekaligus berusaha berkontribusi terhadap permasalahan bangsa, terutama masalah masyarakat urban.

Di tahun 2016 program Indigo terintegrasi menjadi Indigo Creative Nation. Apa alasan perubahan itu?

Pengembangan startup tidak bisa instan. Kami sudah melaksanakan berbagai program untuk mengembangkan startup. Kami terus mempelajari apa yang memang harus dilakukan. Tugas Telkom adalah mengantarkan startup menuju jembatan kesuksesan. Untuk mewujudkan target itu, maka mulai tahun 2016, semua program indigo terintegrasi menjadi Indigo Creative Nation.

Ini menjadi payung keseluruhan program yang banyak. Mulai dari pembinaan inkubasi dan akselerasi di Digital Valley, DILO, tahap akselerasi hingga tahapan lanjutan di corporate venture capital. Kami bertekad building strong Indonesia digitalpreneuer with disruptive mindset.

Lebih jauh, apa lagi rencana pengembangan (potensi) anak muda yang akan dilakukan PT Telkom lewat program Indigo Creative Nation ini?

Kami akan terus menggulirkan berbagai program terkait dengan membangun eksosistem ekonomi digital di Indonesia. Kami akan terus mengirimkan startup indigo yang terbaik, ke global incubator dan global accelerator. Kami juga akan memberangkatkan startup-startup terbaik ke Silicon Valley untuk mendapatkan silicon valley mindset. Supaya mereka juga siap jadi mentor-mentor di Indonesia.

Seperti Niki Tsuraya Yaumi (COO) dan Anselmus Kurniawan (CTO) dari Goers, Muhammad Nur Awaludin (CEO) dari Kakatu, dan Ivan Faizal Gautama (CEO) dari AMTISS diajak mengikuti mentorship lebih dalam dari pendiri startup di Silicon Valley. Itu akan memberikan wawasan global kepada mereka dan bisa menularkan hal itu ke orang lain.

Kami ingin bangun local hero. Jadi pengerak daerah-daerah. Sekarang bicara smart city, dimulai dengan membentuk digital society. Harus ada anak-anak muda yang jadi penggerak. Ini yang terus dibangun.

Kita berharap startup kita solid dan secara value maupun secara bisnis bisa berkembang terus. Ujungnya inovasi yang dihasilkan akan mewujudkan transformasi digital yang diharapkan PT Telkom. (SW)

NO COMMENTS

Leave a Reply