Achmad Pradipta : XL Future Leaders Siapkan Pemimpin Masa Depan

Achmad Pradipta, Manager CSR PT XL Axiata, sekaligus penanggung jawab program XL Future Leader (Foto: Stevy Widia/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Melihat kesenjangan antara dunia pendidikan dengan pengalaman kerja nyata, PT XL Axiata menghadirkan XL Future Leaders (XLFL). Ini merupakan program corporate social responsibility (CSR) yang mengedepankan pendidikan soft skill untuk melatih jiwa kepemimpinan yang sangat dibutuhkan oleh para mahasiswa.

Program XLFL ini telah diinisiasi sejak tahun 2012, dengan penekanan pada pengembangan kepemimpinan untuk siap berkompetisi secara global. Achmad Pradipta CSR Manager PT XL Axiata, sekaligus penanggung jawab program XLFL, mengatakan XLFL merupakan bukti komitmen dan konsistensi XL dalam mendukung peningkatan dunia pendidikan di Indonesia.

Bagaimana program ini memasilitasi talenta-talenta muda untuk diasah menjadi calon pemimpin masa depan yang mampu berkompetisi secara global. Berikut wawancara Wartawan Youngsters.id Stevy Widia dengan lulusan Marketing Communication Curtin University, Perth, Australia, yang akrab disapa Dipta ini mengenai program XL Future Leaders (XLFL) :

 

Mohon penjelasannya, bagaimana awal mula dan alasan terbentuknya program XLFL ini?

XLFL dimulai sejak tahun 2012, dan hingga kini masih konsisten. Ini adalah tahun ke-5 penyelenggaraan XLFL. Berangkat dari program CSR yang anak muda banget. Target program ini buat anak muda, khususnya mahasiswa. Program ini berbeda dengan CSR umum yang berikan donasi, tetapi ingin yang unik, cool, dan long term. Kami ingin anak-anak muda bisa bangga mengikuti program ini. Kami juga melihat kebutuhan anak muda.

Akhirnya setelah riset, kami melihat ada gap antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Dunia pendidikan condong ke akademik, namun ketika memasuki dunia kerja, kenyataannya yang dibutuhkan tidak akademik 100%. Sebagai contoh, anak arsitek bekerja di bidang marketing. Sastra Jerman masuk komunikasi. Akademik berperan di awal saja, tetapi saat survival malah kurang dibutuhkan. Akhirnya kami memutuskan untuk membuat program softskill yang sesuai dengan kebutuhan anak muda. Dengan rekomendasi Cognition, kurikulum itu akan diterapkan selama dua tahun.

 

Siapa saja yang menjadi target sasaran XLFL ?

Kami ingin buat program anak-anak muda, mahasiswa dan mahasiswi Indonesia yang berkuliah di tahun kedua dan ketiga atau semester 2 hingga semester 6. Hal itu karena, semester awal mereka masih adaptasi dari sekolah yang baru masuk ke kampus. Takut gagap dengan perubahan. Sedang semester terakhir sibuk skripsi sambil cari kerja, jadi tidak fokus. Akhirnya ambil yang tengah.

Program ini tidak dibatasi universitas negeri saja. Kami buka untuk umum, baik universitas negeri maupun swasta semua punya kesempatan masuk. Requirement kami tidak terlalu  tinggi. Kami butuh IPK minimal 2,8. Tetapi kami lebih menginginkan anak-anak yang superaktif di kampus. Mereka harus punya prestasi yang banyak, kegiatannya banyak, organisasinya banyak. Proses seleksi seperti halnya standar proses penerimaan karyawan di XL. Jadi anak-anak yang keren di kampus yang kami ambil. Selain itu mereka juga harus punya komitmen untuk mengikuti program ini selama dua tahun.

 

Mengapa XLFL hanya fokus pada pengembangan kepemimpinan, bukan mendukung pengembangan aplikasi?

Visi misi XLFL itu fokus ke pendidikan. Hal itu karena, kami sebagai perusahaan telekomunikasi menganggap bahwa XL harus bertanggungjawab mengelola teknologi, informasi dan komunikasi lewat pendidikan. Mau informasi jelek atau bagus di masyarakat kalau pendidikannya bagus, maka akan bisa tersaring.

Kami tidak meninggalkan teknologi komunikasi sepenuhnya. Setiap memecahkan masalah mereka harus mencari solusi itu dengan teknologi digital. Contoh bagaimana menyelesaikan masalah sampah di DKI. Lahir solusi maping sampah melalui drone. Jadi teknologi komunikasi masih dipertahankan, karena dunia telko digital banget.

 

Sudah berapa “lulusan” yang dihasilkan dari XLFL ini?

Program ini adalah program eksklusive, anak-anak yang terpilih yang bisa menikmati fasilitas terbaik dari XL. Jadi jumlah sedikit. Pada tahun 2012 hanya 120 orang mahasiswa yang terpilih dari 5.500 yang mendaftar di seluruh Indonesia. Di tahun 2012 XLFL ini diikuti 120 orang. Kemudian di 2013 terpilih 135 orang. Lalu di tahun 2014, ada 145 orang. Pada tahun 2015 ada 151 orang. Nanti bulan November 2016 akan dimulai seleksi badge kelima.

 

Apa keuntungan para mahasiswa mengikuti ajang XLFL?

Program XLFL ini kami sebut Global Thingking. Kami buka di seluruh Indonesia, mulai dari Jakarta, Bandung, Yogya, Medan, hingga Makassar. Proses seleksi dilakukan sesuai syarat yang telah ditetapkan dan komitmen peserta untuk bergabung dalam pelatihan selama dua tahun.

Kami tidak memberikan bantuan dalam bentuk uang cash. Kami kasih ilmu. Mereka yang dapat program ini dua tahun di training oleh XL. Di lima learning centre yang tersebar di seluruh Indonesia. Di Jawa ada di Jakarta, Bandung dan Yogyakarta. Kalau di Sumatera ada Medan.  Kalau di wilayah Kalimantan dan Sulawesi ada di Makasar. Jadi, anak-anak yang ikut program tersebut akan didatangkan ke tempat pelatihan terdekat. Contohnya dari Aceh akan diterbangkan ke Medan. Dari Kendari ke Makasar. Selama dua tahun program ini, semua biaya ditanggung XL. Mereka tidak terima cash sepeserpun.

Mereka juga diberikan fasilitas gadget, berupa handphone dan laptop serta pulsa paket internet. Itu untuk mendukung kegiatan belajar mengajar dan berkomunikasi dengan baik dari seluruh Indonesia denga menggunakan teknologi komunikasi XL.

 

Achmad Pradipta : XL Future Leaders Siapkan Pemimpin Masa Depan (Foto: Stevy Widia/Youngsters.id)
Achmad Pradipta : XL Future Leaders Siapkan Pemimpin Masa Depan (Foto: Stevy Widia/Youngsters.id)

 

Bagaimana penerapan kurikulum softskill yang ditekankan dalam program XLFL ini ?

Bisnis XL utamanya bukan pendidikan. Karena itu kami menggandeng mitra yang kuat di latar belakang pendidikan yakni Coqnition, lembaga konsultan pendidikan dari New Zealand. Kami bersama buat kurikululum softskill yang sesuai dengan kebutuhan anak-anak muda Indonesia akan softskill dengan pembelajaran selama dua tahun.

Ada tiga softsklill yang diberikan. Pertama, komunikasi yang efektif. Kedua, bagaimana mereka memiliki inovasi dan jiwa wirausaha yang baik. Ketiga, bagaimana mereka bisa mengelola perubahan.

Dari tiga softskill tersebut kami turunkan lagi. Contoh kalau komunikasi yang efektif, mereka bisa mengekpresikan apa yang ada di kepala dan harus bisa ditangkap oleh audience. Jadi di dalamnya bagaimana menyusun presentasi yang baik dari awal sampai akhir. Teknik menyampaikan, mulai dari intonasi, bahasa tubuh, hingga penampilan berbicara di depan umum tidak malu.

Sementara untuk inovasi, anak-anak mahasiswa ini diajarkan bagaimana menuangkan ide kreatif mereka dengan baik dan bisa bekerjasama dengan orang lain. Kami kombinasi workshop dan latihan, bagaimana menuangkan ide kreatif dan inovasi.

Untuk enterpreneuer, bukan mengajari untuk berdagang tetapi punya mentalitas sebagai seorang entrepreneur. Yakni bagaimana jatuh bisa cepat bangkit, tidak gampang menyerah, punya ide kreatif dan inovasi. Kami ingin mereka punya mental seperti itu. Di tengah-tengah program selama dua tahun, mereka dikasih tugas dengan dana tertentu untuk membuat proyek di masyarakat.

Sementara untuk pengelola perubahan, yakni bagaimana mereka menjadi bagian dari entitas anak muda Indonesia. Dua tahun terakhir ini ada program Sosial Inovation Project bagian dari XLFL. Setelah belajar dua tahun, peserta ditantang membangun proyek sosial yang memberikan solusi bagi masyarakat sekitar. Jadi mereka membuat solusi dengan menggunakan teknologi komunikasi.

 

Bagaimana perkembangan XLFL ini, sejak berdiri sampai sekarang?

Perkembanganya, XL selalu improve lebih baik. Mengikuti perkembangan zaman. Program ini terus melahirkan program turunan. Karena di bagian awal yang tersaring harnya 120 orang, dari peserta 5.500. Untuk peserta yang belum terjaring ada program lanjutan, yaitu online learning. Tujuannya untuk memberikan materi XLFL untuk lebih luas lagi ke semua lapisan masyarakat. Mulai dari dosen, mahasiswa, pelajar, hingga ibu muda pun bisa ikut. Kami buat program ini, orang bebas belajar, materi gratis tanpa seleksi tentang softskill juga. Program ini sudah sejak 2014. Sekarang telah diperbaharui. Online learning platform, itu belajar mandiri.

Program lain adalah Future Leaders Schollarship, yakni program bea siswa bagi mahasiswa tingkat akhir dan dari kalangan kurang mampu agar tidak putus pendidikannya. Beasiswa tunai ini diberikan dalam dua bentuk. Pertama untuk mahasiswa kurang mampu semester terakhir di universitas di Indonesia. Kedua untuk mahasiswa yang berkuliah di luar negeri yakni kuliah di Malaysia yang akan lanjut S2, kerjasama dengan Axiata. Program beasiswa ini sudah dimulai sejak 2012.

 

Apakah lulusan XLFL ini ada yang sudah “jadi”?

Para peserta program ini memiliki prestasi membanggakan. Ada Leonika yang masuk top list under 30 versi Forbes. Ada yang menciptakan mobil listrik, mobil yang dikontrol lewat handphone. Ada Oscar yang membuat aplikasi Google Glass.

Pada 2014 mulai tren startup, smart city, venture capital. Kami pun memasukkan kompetisi BOD challenge untuk umum. Mereka yang terpilih dari kompetisi ini mendapat pengalaman selama satu minggu menjadi direktur di XL. Lengkap dengan fasilitasnya. Dan di 2015 terpilih 7 orang.

Ada juga kompetisi ide. Generasi milenial yang punya ide kreatif yang tak tersalurkan. Kami buat kompetisi ide, dimana mereka bisa beri ide untuk perbaikan kotanya masing-masing. Smart Digital itu bagian dari XLFL.

Program untuk khusus startup kami belum punya. Tapi dalam materi yang kami berikan sudah ada, yakni kurikulum individual development plant. Di sana kami bantu membuat step-by-step, dan startegi untuk startup. Dengan tools mereka bisa survive.

 

Ke depan, apa saja rencana untuk pengembangan lebih lanjut dari program XLFL ini?

Program XLFL angkatan ke-5 akan dimulai pada November 2016. Sudah ada 11.500 yang mendaftar yang akan diseleksi menjadi 150 orang peserta. Untuk itu, kami akan terus berinovasi dan mengikuti tren dan kebutuhan anak-anak muda sekarang ini. Kurikulum XLFL ini sangat dinamis karena di sini ambil filosofinya dan kemudian diaplikasikan untuk menyelesaikan masalah di sekitar. Ciritikal thinking yang kami bangun secara intesif. Ini nilai plus dari program XLFL. Program ini tidak memiliki keterikatan meski XL membuka kesempatan untuk bergabung dalam tim XL. Ada juga lulusan yang ke kompetitor. Tetapi kembali lagi spirit bahwa ini program CSR untuk pendidikan.

 

Lebih jauh, apa lagi rencana pengembangan (potensi) anak muda yang akan dilakukan PT XL Axiata ke depannya?

Kami akan memperkuat program ini lewat e-learning. Kami melihat semakin banyak situs online learning, ini saat yang pas untuk masuk juga. Pembelajaran online semakin mudah, jaringan internet semakin luas, di sisi lain waktu belajar semakin mudah. Secara digital online learning akan dikembangkan. Kami juga belajar dari kekurangan. Ingin memasimalkan impact dari alumni. Ada wadah untuk mereka saling membagi informasi, sehingga impact semakin besar. Kami juga sedang menjajaki patnership dengan perusahaan lain yang punya visi yang sama di bidang pendidikan.