6 Penghambat Ekonomi Digital di Indonesia

Rudiantara menjadi pembicara kunci pada acara 10th Research Day FEB UI 2016. (Foto: ui.ac.id/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Indonesia diharapkan dapat menjadi negara ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara pada 2020. Namun masih ada beberapa hal yang tercapainya cita-cita itu.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, menyebut ada enam poin yang menjadi penghambat berkembangnya bisnis ekonomi digital.

“Masalah yang dihadapi adalah pendanaan, perpajakan, perlindungan konsumen, infrastruktur komunikasi, logistik, serta edukasi dan sumber daya manusia,” ungkap Rudiantara baru-baru ini.

Dari enam poin tersebut, ia mengatakan kendala terbesar datang dari masyarakat. Termasuk kesiapan masyarakat konsumen dan sejauh mana masyarakat siap untuk memasuki era cashless, atau transaksi nontunai.

“Ada beberapa faktor. Kalau faktor teknologi, kita enggak usah apa-apain dia datang. Justru yang harus kita lakukan adalah memanfaatkan teknologi. Faktor lain, kesiapan masyarakat. Ini yang harus menjadi prioritas, terutama bagaimana mengedukasi masyarakat,” ujarnya.
Menurut Rudiantara, dengan edukasi masyarakat Indonesia dapat mengerti lebih cepat dan mengerti lebih banyak tantang hal-hal yang berkaitan dengan ekonomi digital.

“Masyarakat Indonesia tidak semuanya tinggal di Pulau Jawa, tidak semua warga Jakarta. Kalau semua homogen sebagai warga Jakarta, konsentrasi saya tentang consumer education mungkin rendah, atau bahkan tidak ada,” papar dia.

Karena masyarakat Indonesia yang beragam dan tingkat literasi soal dunia maya, atau internet masih belum cukup, maka pemerintah terfokus pada consumer education.

Untuk itu, Menkominfo mengatakan, pihaknya akan terus mendorong tumbuhnya technopreneurs baru, baik dengan menggandeng mentor-mentor technopreneurs terkemuka, data center, technopark, hingga pendanaan. Ia juga berharap, literasi mengenai perdagangan dunia maya mampu tersampaikan dengan gamblang dan merubah pola pikir masyarakat tentang ekonomi digital.

STEVY WIDIA