4 Startup Ini Fokus Pada Pengembangan (Investasi) Ternak

Pengembangan dan potensi ternak di Indonesia juga menjadi fokus para startup (Foto: Istimewa/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Sejatinya, Indonesia memiliki potensi besar di bidang peternakan. Setidaknya, ada sekitar 58 jenis ternak lokal potensial yang bisa dikembangkan. Tentunya, itu menjadi modal bagi peternak untuk mengembangkannya menjadi komoditas dalam negeri yang menguntungkan.

Tetapi, kenyataan di lapangan, para peternak ini masih kesulitan mengembangkan usaha ternaknya. Faktor utamanya, kendala dalam pendanaan.

Toh, sejalan dengan perkembangan teknologi informasi, kini upaya untuk membantu dan mendukung para peternak dalam mengembangkan usahanya itu lebih terbuka dan mudah. Pasalnya, beberapa anak muda telah menginisiasi suatu usaha rintisan (startup) berbasis digital untuk membantu para peternak di daerah. Saat ini sudah ada startup yang memilih fokus membantu peternak:

ANGON.id

Upaya untuk menghubungkan peternak dengan masyarakat urban yang ingin beternak namun tidak memiliki lahan kandang, waktu serta keterampilan dalam merawat ternak, digagas Agif Arianto dengan mendirikan Angon.id.

Angon.id adalah sebuah platform beternak online yang memudahkan pengguna untuk berinvestasi di peternakan melalui aplikasi mobile. Angon.id menghubungkan para investor tersebut dengan peternak rakyat dan sentra peternakan rakyat (SPR).

Melalui fitur layanan aplikasi beternak online yang dilakukan Angon ini diharapakan dapat mendorong terjadinya distribusi peredaran uang yang saat ini banyak terpusat di kota agar dapat terserap atau tersalur ke desa. Dengan begitu, masyarakat desa di daerah dapat hidup sejahtera tanpa harus pergi ke kota untuk mencari pekerjaan, yakni salah satunya dengan menjadi peternak rakyat Angon dalam SPR-SPR tersebut.

Diklaim Agif, saat ini sudah ada sekitar 11.000 hewan ternak yang diternakkan dalam SPR swakelola mitra B2B (business to business) Angon dan 6 SPR Angon yang tersebar di berbagai daerah. Antara lain di SPR Mukmin Mandiri Ambarawa Kabupaten Semarang, SPR Istana Domba Ciampea Bogor, dan SPR Sukoharjo. Bahkan, hingga SPR Raberas di Sumbawa Nusa Tenggara Barat.

Targetnya, hingga tahun 2020 Angon bisa mengelola hingga 50 SPR, sebagai upaya ikut berperan aktif membantu pemerintah dalam menyiapkan lapangan pekerjaan menghadapi bonus demografi di tahun tersebut. Selain itu, untuk meningkatkan daya saing kualitas dari peternakan Angon sehingga hasil ternaknya dapat diterima secara global, Angon juga melakukan sertifikasi kepada para peternak, dengan mengacu pada standarisai ISO 9001.

KANDANG.in

Guna membantu para peternak di daerah mendapatkan bantuan modal untuk pengembangan usahanya, tiga anak muda di Bandung Gilang Kurniadi, Ginanjar dan Fransiskus, berinisiatif mendirikan Kandang.in.

Kandang.in merupakan sebuah platform investasi syariah di bidang peternakan yang menghubungkan antara peternak potensial di daerah dengan investor di perkotaan. Kandang.in mengelola dana investor, melakukan pembinaan dan pelatihan untuk para peternak, dan memberikan bantuan untuk modal awal peternak.

Dijelaskan Gilang, pengembangan platform Kandang.in ini bermula dari hasil observasi sederhana. Ketika itu ia sedang melakukan tur antar-provinsi melihat banyak kandang peternakan yang kosong di desa-desa yang ia lalui. Rasa penasaran mendorongnya untuk bertanya langsung ke warga sekitar.

“Setelah mengobrol dengan warga, saya baru tahu ternyata mereka kesulitan dalam mendapatkan modal untuk usaha ternaknya makanya banyak kandang kosong itu. Meminjam ke bank tidak menjadi pilihan karena syaratnya banyak dan sulit, demikian juga dengan meminjam ke rentenir, bunganya tinggi sekali,” ujar Gilang.

Melihat masalah tersebut Gilang tidak langsung terpikir untuk membuat Kandang.in. Ia justru memutuskan untuk mencoba langsung menginvestasikan uangnya di salah satu peternak di kampung halamannya. Setelah dijalani, ternyata hasilnya sangat menguntungkan dan Gilang mulai mengajak rekan-rekan serta keluarganya untuk melakukan hal serupa. Ajakan Gilang tersebut mendapatkan respon yang positif.

Memiliki tujuan mulia untuk membantu para peternak di desa yang kekurangan modal dan membantu mengatasi keadaan Indonesia yang sedang defisit daging nasional sebesar 40%, Gilang dan kedua koleganya sepakat mengembangkan untuk membuat platform yang menghubungkan investor dan peternak dengan menggunakan konsep investasi syariah melalui Kandang.in.

DESATERNAK.com

Desa Ternak (www.desaternak.com) adalah suatu sistem investasi yang bergerak pada bidang peternakan dengan skala mikro (microfinance). Startup ini dikembangkan oleh tiga alumni ITB: Indarta Kuncoro Aji, Andre Muslim Duhari, dan Richard Tymotheus Purba, dengan motto: “Investasi untuk Berbagi”.

Desa Ternak mengajak masyarakat urban yang memiliki dana (tabungan) untuk diinvestasikan pada ternak di desa. Dengan begitu, investasi itu dapat turut memberdayakan ekonomi masyarakat desa, khususnya peternak. Jadi, investasi ini selain memberikan keuntungan kepada investor, juga pembangunan desa sasaran.

Bentuk investasinya pada peternakan kambing, yang ada di desa sasaran Desa Sangiang Jaya, Kabupaten Lebak, Banten. Mengapa dipilih kambing? Sebab, kambing memiliki resiko relatif kecil jika dibandingkan dengan ternak lain. Kambing juga dipertimbangkan sebagai ternak yang tidak terlalu susah dikelola bagi penduduk Desa Sangiang Jaya karena familiar dengan kehidupan peternakan.

Menurut Aji, Desa Ternak menawarkan investasi yang menguntungkan, yaitu 70% selama satu periode investasi—dengan periode investasi selama dua tahun atau kurang. Satu paket investasi di Desa Ternak ditetapkan senilai Rp 1.000.000. Jadi, untuk satu unit investasi, investor akan memperoleh nilai total sebesar Rp. 1.700.000 pada akhir periode investasi atau kurang.

TernaKu

Anak muda asal Jogyakarta Wellianto Wijaya mencoba mengambil lahan yang sepertinya belum banyak digarap startup Indonesia, yaitu manajemen peternakan. Ia mengembangkan TernaKu.

Sejatinya, TernaKu bukan startup investasi seperti Kandang.in, Angon, dan DesaTernak. TernaKu lebih sebuah layanan digital untuk peternak. Mereka yang berkecimpung atau mengelola peternakan, bisa jadi akan sangat membutuhkan layanan ini.

TernaKu adalah sistem manajemen khusus untuk usaha peternakan. Dengan sistem yang dibuat oleh TernaKu, pemilik ternak bisa memonitor beberapa data, seperti pertumbuhan hewan ternak, dan berapa banyak pakan yang mereka konsumsi.

Layanan yang dikembangkan TernaKu mencakup livestock management system, bisa melihat kondisi peternakan secara real-time. Mulai dari pakan, konsumsinya bahkan pertumbuhan hewan ternaknya bisa dipantau melalui aplikasi. Sehingga, tidak ada lagi kesalahan data dan kualitas hewan ternak bisa terjaga. (AMBS, dari berbagai sumber)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY