2017, Bekraf Prioritaskan Kriya, Kuliner dan Fashion

Bekraf mempromosikan produk kriya di KTT IORA 2017. (Foto; Bekraf/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Badan Ekonomi Kreatif Indonesia akan fokus pada optimalisasi enam sub sektor tahun ini dari 16 sub sektor ekonomi kreatif. Dari itu sektor kriya, kuliner dan fashion menjadi prioritas. Sedangkan film, pengembang aplikasi dan musik menjadi bidang ungulan di bawah pengembangan lembaga negara itu.

Hal itu disampaikan Direktur Hubungan Antar Lembaga Dalam Negeri Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Indonesia Hassan Abud. “Dari data potensi di setiap daerah di kriya, kuliner dan fesyen hampir setiap daerah ada. Kalau yang prioritas biasanya ada keunikan seperti dangdut jadi musik global orang dengar dangdut, tahu itu dari Indonesia sifatnya lebih unik,” katanya baru-baru ini.

Selain itu, lanjut dia, untuk mengembangkan ekonomi kreatif di seluruh Indonesia pihaknya akan gencar bekerjasama dengan pemerintah daerah. Sehingga pihaknya di pusat dapat mengkolaborasi masing-masing potensi yang ada di daerah.

Adapun 10 sub sektor lainnya adalah arsitektur dan desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, animasi video, fotografi, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, serta televisi dan radio.

Untuk itu, Hassan mengatakan, pihaknya membutuhkan bantuan dari pemerintah daerah dalam memetakan potensi yang masuk ke dalam 16 sub sektor sehingga bisa dikembangkan secara berkelanjutan.

Jika kerjasama dengan pemerintah daerah sudah terjalin, dan pemetaan sudah dilakukan, pihaknya dapat mendorong pengembangan ekonomi kreatif dari mulai proses kreasi, poduksi, distribusi, pemasaran kepada konsumen hingga konservasi.

Di sisi lain, dia mengatakan ada pula kendala dalam pengembangan ekonomi kreatif ini. Seperti, jika saat sebuah produk dipasarkan dan ternyata permintaannya membesar, produsen masih kesulitan memenuhi karena skala usahanya masih industri rumahan.

“Jadi dari hulu sampai hilir kami bantu, kami pun bisa berikan pelatihan, sertifikasi, kemudahan pemodalaan pemasaran baik dalam dan luar neger hingga kalau perlu perlindungan hak kekayaan intelektualnya,” ujarnya.

STEVY WIDIA

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY