Irena Adriana : Bisnis Kuliner Kreatif Ala British

YOUNGSTERS.id - Perkembangan bisnis kuliner di Tanah Air semakin berkembang pesat, dengan segala inovasi dan kreativitasnya. Wujud kreatifitas dan terobosan pengusaha kuliner yang sedang tren adalah food truck. Salah satunya adalah Britatoes Food Truck milik Irena Adriana yang memadukan menu dan tampilan truk yang unik ala British.

Penampilan food truck Britatoes ini memang sangat khas. Truk berwarna merah dengan tampilan belakang mirip trem, kereta listrik di kota London dengan tulisan mencolok London Street Food dipajang di bagian atas. Badan truk juga dihiasi stiker bendera Union Jack. Tak hanya itu, kuliner yang ditawarkan juga khas Britania Raya, dengan menu andalan seperti Panini, Fish and Chips, dan French Fries Creamy Mushroom.

Meski kesannya seperti di Inggris, kedai jajanan yang menggunakan truk ini beroperasi di seputar Jabodetabek. “Kami sengaja menawarkan konsep yang berbeda untuk menunjukkan kepada kaum urban penikmat kuliner mengenai adanya kreativitas dalam bisnis di dunia makanan,” papar Irena saat ditemui Youngsters.id sedang berada di Parkir Balai Sidang Jakarta pada acara Kahitna Love Festival belum lama ini.

Makanan yang disajikan antara lain Smoked Beef & Hunter Style, Baked Cheddar Cheese, Baked Chicken Tikka Masalabaked Chicken Salad, Chips Beef Bolognese, Baked Creamy Mushroom dan Baked Tuna Salad dengan harga yang antara Rp 40 ribu  sampai Rp 6 ribu.

Tak hanya dari makanan, desain truk Britatoes menjadi daya tarik tersendiri. Truk yang memiliki basis Isuzu Elf NHR 55 ini dimodifikasi khusus pada eksterior dan interior. Bagian interior didesain menjadi resto mobile dengan perlengkapan dapur yang lengkap. Mulai dari kompor, lemari pendingin dan chiller. Di dalamnya juga ada toren air dengan kapasitas 100 liter dan generator untuk pasokan listrik. Sehingga semua makanan disajikan secara cepat dan tidak perlu khawatir karena terjaga higienis.

Konsep ini membuat Britatoes mulai meraih sukses. Irene mengaku mereka setidaknya bisa menjaul 200 porsi ada akhir pekan, dengan omzet bisa mencapai 150 juta setiap bulan.

“Selain penampilan, menu kami selalu segar dan bahan baku utama Britatoes adalah kentang yang rendah karbohidrat. Oleh karena itu kami tidak hanya disukai orang lokal tapi juga mereka yang datang dari mancanegara yang lebih suka kentang daripada nasi,” ungkap Irene.

 foodtruck_britatoes

 

Jajan di Jalanan

Bisnis Foodtruk Britaotes ini  berawal ketika Irena dan sahabatnya Fitri Mastura Pangabean melakukan perjalanan ke Inggris pada tahun 2014. Di sana mereka mendapati bahwa orang Inggris itu suka jajan di jalan.  “Britatoes itu karena kami terinspirasi dengan food street saat outing ke Inggris,” ujar lulusan bisnis Universitas Atmajaya Jakarta itu.

Inspirasi itu oleh Irene dan Fitri ditindak lanjuti dengan serius. Keduanya menuangkan ide untuk membuat food truck, hingga memilih menu bersama. Irene mengaku mereka juga melibatkan Akademi Pariwisata NHI Bandung dalam menentukan menu. Nama Britatoes pun dipilih dari gabungan british potatoes. Hal itu mengacu pada bahan utama yang digunakan yaitu kentang sebagai pengganti nasi.

Untuk memulai bisnis ini Irene mengaku menghabiskan dana sekitar Rp 1 miliar. Modal itu terutama untuk membeli truk yang bisa dimodifikasi menjadi food truck yang mereka impikan, peralatan dapur dan bahan baku makanan. “Bahan baku tidak sulit didapat tetapi sangatlah mahal karena kami tidak sembarangan memilih, harus yang benar-benar berkualitas,” kata Irene.

Irene mengaku modal awal yang cukup besar itu mereka dapatkan dengan menggabungkan uang pribadi dan pinjaman dari bank. “Kalau untuk balik modal pastinya belum, karena bisnis ini baru berjalan setahun dan masih proses,” ucapnya.

Britatoes diluncurkan pertama kali pada November 2014 di kawasan Sudirman Centre Business Development, Jakarta. Irene memperlakukan Britatoes sebagai restoran berjalan. Awalnya konsep ini masih belum begitu dikenal masyarakat dan menjadi kendala.

“Di Indonesia food truck masih asing. Pesaing utama adalah restoran, tapi kami tidak terlalu khawatir karena kami mobile ke mana-mana. Jadi, kami justru lebih bebas bisa ada di mana saja. Peralatan kami juga tidak repot seperti restaurant pada umumnya,” ungkap gadis kelahiran Surabaya, 4 Mei. Saat ini dia sudah memiliki 4 orang karyawan.

Demi membidik anak muda sebagai target pasar, Irene juga mengusung teknik pemasaran modern melalui promosi #media sosial. Hasilnya, banyak sekali anak muda yang tertarik untuk mencicipi menu-menu Britatoes karena tampilan truknya yang unik dan eye catching serta rasa makanan yang istimewa.

“Kami mampu menjual setidaknya 200 porsi pada akhir pekan,” kata Irena. Meski di luar akhir pekan hanya bisa menjual separuhnya, pendapatan itu sudah lumayan karena harga sajiannya Rp 40-60 ribu per porsi alias setidaknya ada pemasukan Rp 4 juta per hari.

Dengan didukung kemampuan mobilitas maka Britatoes dapat hadir di berbagai acara dan event yang dihadiri khalayak ramai. “Kami mobile dengan truk, jadi kami bisa di mana saja,” ujar Irena. Menurut dia, setiap hari kerja usahanya ada seputaran wilayah perkantoran. Sedang di akhir pekan mereka berada di sejumlah lokasi wisata atau event seperti musik dan pameran. Sedang setiap minggu pagi Britatoes dipastikan hadir di gelar car free day sekitar Pintu Satu Senayan, Jakarta.

Besarnya minat pecinta kuliner di Jakarta membuat Irene berencana akan menambah 1 lagi armada food truck pada Maret 2016. Tentu dengan mengusung menu yang berbeda dengan tampilan yang unik dan kreatif. “Bagi saya bisnis ini berjalan seperti naik sepeda, terus stabil dan terus berputar,” ucap Irene optimis.

 

==============================================

Irene Adriana

  • Tempat Tanggal Lahir : Surabaya, 4 Mei
  • Pendidikan: S1 Universitas Atmajaya Jakarta
  • Nama Usaha : Rightklik
  • Nama Produk : Britatoes Foodtruck
  • Alamat Perusahaan : Jl. H. Muhi 4 no. 5 Pondok Pinang, Jakarta Selatan
  • Jumlah Karyawan : 4 orang
  • Modal Awal : Rp 1 M
  • Omzet per bulan : Rp 150 juta

==========================================

 

ANGGIE ADJIE SAPUTRA

Editor : STEVY WIDIA