Ichsaniar Bakti Putra : Membangun Mimpi Dengan Berjualan Handicraft Secara Online

YOUNGSTERS.id - Bisnis kerajinan tangan Indonesia bakal menjadi primadona. Ketersediaan bahan baku yang melimpah ruah dari kekayaan sumber daya alam di negeri ini dibarengi dengan banyaknya peminat baik di dalam maupun luar negeri. Peluang ini yang dilihat oleh Ichsaniar Bakti Putra.

Pemuda kelahiran Denpasar, 15 maret 1988 ini adalah pemilik Indo-art.com, situs pemasaran online produk-produk handicraft Indonesia. Situs ini menawarkan beraneka produk souvenir, seperti miniatur sepeda ontel kayu, karimba paint dari batok kelapa, miniatur candi Prambanan dan patung pengantin loro blonyo. Produk aksesori seperti gelang kalung, dompet dengan desain dan motif etnik. Juga aneka produk souvenir pernikahan, kain dan busana batik.

Di tangan Ichsan pemasaran produk-produk tersebut telah tersebar ke seluruh Indonesia. Bahkan ke mancanegara seperti Malaysia, Jepang, China, Taiwan, Korea Selatan hingga ke Amerika Serikat. “Ini hanyalah usaha online kecil di kos-kosan kecil,” ucap Ichsan merendah.

Ya, Indo-art dibangunnya dari rumah kontrakan di daerah Gowok, Banguntapan, Bantul Yogyakarta. Namun berkat usaha ini, ia kini bisa mendapatkan keuntungan hingga Rp 40 juta setiap bulan dengan laba bersih 70% dengan pertumbuhan 10% per bulan. Nilai yang cukup besar untuk mahasiswa semester akhir jurusan ekonomi islam UII Jogja yang masih lajang itu. “Modal usaha saya ini bisa dikatakan hanya dengan bismillah dan nekad,” ungkapnya.

Sejatinya, situs Indo-art ini awalnya dibuatkan oleh adik ipar Ichsan untuk menjadi etalase baju batik yang dijual Ichsan saat itu. Namun kemudian dia terpikir untuk menaruh produk souvenir khas Yogyakarta ke dalam toko online itu. “Waktu itu hanya bermodalkan pinjam gambar atau produk untuk difoto dan kemudian dipasarkan,” kenangnya.

Modal Ichsan hanyalah kepercayaan dari para pengrajin souvenir. Ternyata permintaan konsumen akan souvenir dan produk kerajinan malah bertambah. Dia pun memutuskan untuk menkonversi usaha sebagai distributor handicraft, aksesori, dan kerajinan khas Indonesia. Celah pasar ini yang membedakan Indo-art dengan situs penjulan souvenir online lainnya.

“Kami hanya fokus pada pemasaran dan marketing produk, kami bekerja sama dengan berbagai elemen stakeholder seperti pengrajin, paguyuban pengrajin, jasa ekspedisi pengiriman, cargo. Untuk produksi semua kami serahkan kepada pihak pengrajin dan tukang,” ungkap Ichsan.

 

Mimpi Jadi Bos

Kini dengan usaha ini Ichsan dapat membiayai sendiri pendidikannya, serta membantu mengangkat derajat ekonomi kedua orang tuanya. Ini merupakan buah dari mimpi yang dia bangun sejak lama.

“Buat apa membangun mimpi orang lain, mengapa kita tidak membangun mimpi-mimpi kita sendiri,” ucapnya.

Rupanya jiwa wirausaha Ichsan sudah dibangun sejak kecil. Rupanya putra tertua pasangan Tedjo Bakti dan Maya Haryanti  ini sejak kecil punya mimpi ingin jadi bos. “Saya ingat ketika kecil masih duduk di bangku TK dan SD dimana setiap ada orang yang menanyakan ‘apa cita-citamu kalau sudah besar?’ Selalu saya jawab ‘ingin jadi BOS’. Rupanya keinginan itu membekas di alam bawah sadar dan membentuk saya hingga sekarang,” ungkap Ichsan sambil tersenyum.

Tak sedakar mimpi, Ichsan memiliki talenta untuk kegiatan jual beli sejak kecil. Bahkan, ia ingat waktu masih TK, ia sudah jualan ikan peliharaan sang kakek saat ikut tinggal di rumah kakek di Purwodadi, Jawa Tengah. “Awalnya tidak ketahuan. Tapi setelah tahu saya dimarahi,” kenang sambil tertawa.

Ia tidak kapok jualan. Demi mendapatkan uang saku yang lebih besar ia berjualan peyek kacang oleh-oleh neneknya ke teman-teman SD. Dari sanalah dia tahu bahwa usaha berjualan itu menguntungkan. Usaha seperti ini pun diteruskan dengan menjual berbagai barang. Mulai dari sandal, baju dan celana, lalu menjadi distributor majalah, agen penjualan madu, hingga menyediakan barang-barang kebutuhan organisasi sekolah. Ichsan juga sempat belajar budidaya Jamur dan pemasarannya.

“Semua usaha yang pernah saya jalani itu kebanyakan hanyalah jenis usaha kagetan atau usaha yang tidak terkonsep dengan matang semuanya gagal di tahun pertama,” kenangnya.

Usai menyelesaikan D3 Akuntansi di Universitas Udayana Bali, pemuda berperawakan tinggi 173 cm ini merasa harus bertanggungjawab untuk hidup mandiri. Apalagi ia ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun harapan itu harus dia tunda karena perekonomian keluarganya sedang terguncang.

Ayahnya terkena PHK. Sedangkan usaha ibunya sebagai pengrajin souvenir di Bali juga surut akibat peristiwa bom Bali. Sehingga mereka menyatakan tidak sanggup membiayai Ichsan untuk kuliah ke jenjang yang lebih tinggi. Namun Ichsan tidak berputus asa. Dan ia memutuskan untuk pindah dan kuliah di Pulau Jawa.

“Saya minta izin kepada orang tua untuk kuliah lagi di Yogya, mereka mengizinkan namun dengan syarat semua biaya kuliah dan biaya hidup harus ditanggung sendiri. Saya pun nekad menyanggupi yang penting sudah dapat izin dan restu, saya berangkat ke Yogya,” kisahnya.

 

Ichsaniar Bakti Putra

 

Ingin Terus Berkembang

Wirausaha merupakan solusi terbaik bagi Ichsan. “Saya berwirausaha sebagai solusi hidup. Saya mulai memetakan konsep usaha yang kiranya bisa bertahan dan terus berkembang,” ungkapnya.

Di awal memulai Indo-art.com banyak kendala dan hambatan yang ditemui, namun ia selalu berpikir positif sehingga kendala tersebut dapat terselesaikan tanpa hambatan. “Dalam berbisnis masalah selalu ada, namun selalu ada jalan keluar. Kadangkala terjadi kendala yang tidak pernah diduga sebelumnya, misalnya mundurnya waktu jadi barang pesenan dikarenakan suatu hal, atau bisa juga mundurnya kedatangan barang dari agen pengiriman tetapi itu semua dapat kami selesaikan dengan membangun komunikasi yang baik dengan para customer,” papar Ichsan.

Usaha Indo-art memang masih tergolong UKM. Ichsan baru bisa memperkerjakan dua karyawan tetap sebagai tenanga translate bahasa Inggris dan marketing online. Omzet yang didapatnya pun baru berkisar Rp 50 juta setiap bulan dengan laba kotor 30%. Dia juga masih tetap terjun langsung ke lapangan untuk mengontrol produk yang akan diekspor.

Dia mengakui melayani customer dengan jangkauan yang luas tidaklah mudah. “Seiring dengan berjalannya waktu dan semakin bertambahnya customer dari berbagai daerah dengan adat budaya yang berbeda-beda, kita bisa mengenal karakteristik dari para customer sehingga kami tetap bisa berkomunikasi dengan baik jika terjadi kendala dalam proses produksi,” kata mantan Chief Executive Organization Kelompok Studi Ekonomi Islam Universitas Udayana (KSEI ICON Unud) itu.

Menurut dia, ekosistem UMKM tidak hanya sebagai layanan atau wadah untuk memberikan informasi produk-produk kepada pelanggan, tetapi juga pengorganisasian yang terorganisir dengan baik. “Para pelaku usaha (UMKM) dapat mengembangkan produk-produknya dengan maksimal tanpa harus memikirkan bagaimana melakukan promosi terhadap produk-produknya, bahkan sampai pada proses pengiriman dikelola oleh tim yang berbeda.  Sehingga usaha akan lebih efektif dan efisien. Sehingga tidak ada lagi pernyataan “UMKM tidak dapat menjual atau bahkan bersaing di pasar nasional bahkan internasional,” paparnya.

Kini meski sudah mulai memetik hasil, Ichsan tetap membangun mimpi besar. “Banyak yang ingin dicapai, banyak yang ingin diraih, banyak ide ide potensial yang ingin di kerjakan, namun semua itu berhenti hanya sebatas ide karena belum adanya cukup modal untuk merealisasikan, saya dituntut harus lebih bersabar dan perlahan konsisten untuk menggapai dan merealisasikan semua angan dan ide yang yang saya miliki,” katanya penuh harap.

 

========================================

Ichsaniar Bakti Putra

  • Alamat                                  : Jl. Pedak Baru 425 C Gowok, banguntapan –Bantul DIY
  • Tempat/Tgl Lahir                   : Denpasar, 15 Maret 1988
  • Status                                   : Belum Menikah

Pendidikan :

  • 2006-2009, Program Diploma III Akuntansi, Fakultas Ekonomi – Universitas Udayana, Denpasar
  • 2009-2010, Universitas Negeri Malang Fakultas Ekonomi Jurusan S1 Akuntansi (karena ada beberapa pertimbangan akhirnya tidak dilanjutkan dan transfer pindah ke UII Jogja)
  • 2010 – sekarang Universitas Islam Indonesia (UII) Fakultas Ilmu Agama Islam – Jurusan S1 Ekonomi Islam

Pendidikan non-formal :

  • 2006-2007, Balai Latihan Kerja Industri dan Pariwisata (BLK-IP) Bali Jurusan Teknik Mobil Mesin

========================================

 

STEVY WIDIA