Debora Gondokusumo: Populerkan Superfood Asli Indonesia

Debora Gondokusumo, Founder dan Presiden Direktur PT Aevumlab Herba Asia, produsen Herbilogy (Foto: Stevy Widia/Youngsters.id)

YOUNGSTERS.id - Belakangan ini muncul tren makanan yang disebut superfood. Makanan ini memiliki kemampuan mulai dari memperlambat penuaan, mendorong penurunan berat badan hingga ampuh menyembuhkan penyakit. Tahukan Anda, ternyata banyak superfood itu berasal dari Indonesia.

Superfood adalah kelompok makanan, kebanyakan nabati, yang dianggap memiliki kekayaan nutrisi begitu padat, sehingga baik untuk kesehatan. Manfaat makanan super ini diyakini dapat memperlambat proses penuaan, menghilangkan depresi, menggenjot kemampuan fisik hingga kecerdasan. Tak heran jika jenis makanan ini menjadi tren gaya hidup sehat.

Ternyata, sejumlah bahan makanan super ini ada di Indonesia. Antara lain: kunyit, alang-alang, daun katuk, jahe merah, kayu manis, daun kelor. Kekayaan alam ini menggugah Debora Gondokusumo memproduksi superfood dari bubuk ekstrak tanaman alami pertama di Indonesia.

“Saya sangat ingin menemukan solusi praktis, alami serta aman bagi mereka yang sadar akan pentingnya kesehatan tetapi kurang memiliki pengetahuan dan akses terhadap makanan sehat alami yang berkualitas dan dapat dipercaya,” ucap Debora Direktur PT Aevumlab Herba Asia kepada Youngsters.id.

Sejak tahun 2016, Debora meluncurkan superfood bubuk dengan nama Herbilogy. Berbeda dengan makanan super lain yang berbentuk kapsul, Herbilogy diproduksi dalam bentuk bubuk atau extract powder. Produk Herbilogy ini terdiri dari berbagai varian, mulai dari green tea, kulit delima, temulawak, alang-alang, jahe merah, rosella, kayu manis, habbatussauda hingga daun kelor. Total Herbilogy sudah meluncurkan 13 varian untuk kategori superfood powders.

Debora mengklaim, produk Herbilogy adalah superfood bubuk pertama di Indonesia. Produk ini larut sempurna jika dicampur dengan air hangat, dan dapat dicampurkan dengan makanan dan minuman apapun untuk dikonsumsi sehari-hari, tanpa merasa seperti minum obat atau jamu-jamuan tradisional. Semua bahan baku makanan super Herbilogy ini berasal dari Indonesia.  “Indonesia sangat kaya akan keanekaragaman hayati dan terkenal sebagai gudang tanaman yang bermanfaat untuk kesehatan. Oleh karena itu, produk kami seluruhnya diambil dari petani lokal,” terang Debora.

Ya, sejatinya orang Indonesia sudah lama mengenal tanaman yang bermanfaat untuk kesehatan. Namun orang lebih mengenalnya sebagai jamu, atau herbal yang diasumsikan sebagai minuman tradisional. “Lewat Herbilogy kami mengemas tanaman tersebut menjadi lebih modern, praktis dan menarik untuk dikonsumsi,” ucapnya.

 

Salah satu produk Herbilogy yang dikemas dalam bentuk ekstrak powder (Foto: Istimewa/Youngsters.id)

 

Pengalaman Pribadi

Diakui Debora, ketertarikannya menekuni bisnis superfood ini karena dilatari pengalaman pribadi. Pengalaman paling berkesan saat dia mengalami masalah ketika menyusui putra pertamanya. Ketika itu, ibunya menyarankan untuk mengonsumsi makanan tambahan dari daun katuk. Dari situlah terbersit ide untuk mengolah tanaman katuk itu ke dalam bentuk makanan yang lebih praktis dan modern.

“Umumnya ibu menyusui itu makan daun katuk untuk membantu kelancaran ASI. Cuma kadang sulit untuk menemukan pasokan daun katuk. Selain itu, ketika dikonsumsi juga agak bosan karena pengolahannya terbatas. Dari situ terpikir kenapa tidak diolah dalam bentuk ekstrak dan bisa dikonsumsi dengan beragam campuran makanan,” ungkapnya sambil tersenyum.

Menurut perempuan kelahiran Bandar Lampung, 13 Maret 1984 ini pengalaman hamil anak pertama membuatnya jadi lebih paham betapa asupan makanan sehat dan alami berperan penting dalam menentukan kualitas tumbuh kembang anak sejak di dalam kandungan. Betapa tanaman juga memiliki zat-zat aktif yang bermanfaat, tidak kalah efektif dari zat kimia.

Apalagi, banyak teman-temannya sesama ibu muda mengalami masalah yang sama. Dan rata-rata mereka enggan mengkonsumsi makanan alami karena dinilai kurang praktis dan rasanya kurang menyenangkan.

Di saat bersamaan tren superfood sedang merebak. Dari kandungan superfood itu Debora menyadari bahwa ternyata tanaman tersebut banyak di Indonesia. Hanya saja, lebih dikenal sebagai tanaman jamu atau tanaman herbal.

“Istilah superfood memang terdengar lebih seksi dan lebih modern. Padahal sesungguhnya tanaman yang digunakan sudah lama kita kenal sebagai tanaman untuk jamu atau tanaman herbal,” katanya.

Ide untuk mengolah bahan makanan itu menjadi menu sehat dan tidak rumit pun coba diwujudkan Debora. Perempuan yang ketika itu masih bekerja di sebuah perusahan multinasional mulai melakukan riset. Dia mengumpulkan sejumlah data dan tanaman yang dikenal sebagai tanaman kesehatan dan melakukan percobaan selama satu tahun lamanya. Dia mendapati sumber tanaman berkualitas di dataran tinggi di Bandung, sejumlah daerah pertanian di wilayah Jawa Tengah, hingga ke Nusa Tenggara Timur.

Tanaman petama yang dia ujicobakan adalah katuk. Kemudian berlanjut ke tanaman lain seperti kunyit, kurkuma, alang-alang, kulit delilma, kayu manis, hingga daun kelor. Sampai akhirnya Debora dan timnya menemukan formula yang tepat.

“Karena bentuknya bubuk asli tanpa ada tambahan powder, tidak akan ada yang mengendap di ginjal. Selain itu juga mudah dimasukkan dalam makanan dan minuman,” ujar Debora.

Dijelaskan lulusan teknik kimia University of Michigan, Ann Arbor, AS, pembuatan ekstraksi dari tanaman-tanaman yang digunakannya dengan cara pengeringan. Tujuannya, untuk mengurangi kandungan air dalam bahan pangan, yang dapat menumbuhkan bakteri dan mikro-organisme. “Kami sengaja menghindari penggunaan pewarna, perasa, pemanis tambahan, pengawet atau pun bahan kimia,” tegasnya.

Setelah mantap, Debora pun memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya yang mapan, dan mulai mengembangkan usaha makanan super ini di awal tahun 2016. Tanpa mau menyebut angka, Debora mengakui modal yang dibenamkan untuk membangun bisnis superfood terbilang cukup besar.

Menurut Debora, biaya terbesar terutama menyangkut persiapan produksi, seperti membangun laboratorium dan pusat produksi di Cikeas, Bogor. Selain itu, semua produk Herbilogy telah melalui proses Good Manufacturing Practices (GMP), persyaratan minimum dari industri makanan dalam kemasan. Juga, telah memperoleh sertifikasi halal MUI dan BPOM sebagai jaminan keamanan konsumsi bagi masyarakat Indonesia.

 

Melalui Herbalogy, Debora Gondokusumo memelopori dan memopulerkan superfood asli Indonesia (Foto: Stevy Widia/Youngsters.id)

 

Inovasi

Diakui Debora, di awal memulai usaha ini butuh kerja keras mengingat popularitas superfood lokal belum begitu diakui. Selain itu, orientasi masyarakat Indonesia dalam mewujudkan hidup sehat umumnya masih terbatas pada kegiatan olahraga dan diet yang kebanyakan tujuan utamanya hanyalah menurunkan berat badan. Di sisi lain, mereka kurang pengetahuan akan pentingnya gizi seimbang dalam diet sehat yang benar.

Oleh karena itu, untuk lebih memperkenalkan produk superfood ini Debora pun rajin bersosialisasi lewat media social. Bekerjasama dengan Chef Eddrian Tjia, seorang chef menu sehat, ia kerap memberikan aneka resep unik dan menarik yang bisa dipadukan dengan produk Herbilogy. Seperti kreasi Non Diabetic Cinamon (N)ice Cream, atau Rosella Detox Frutty Water, Cooling Chia Manggo Pudding for Kids.

“Inovasi kami ini adalah sekaligus menunjukkan bahwa mengolah bahan alami dan sehat itu tidak perlu urmit. Kita tinggal menambahkan bubuk superfood Herbilogy ini dan menyuguhkan dalam tampilan yang cantik sehingga menambah selera, sehingga tidak ada alasan untuk tidak membuat makanan sehat,” ucap Debora berpromosi.

Selain dalam bentuk bubuk, Herbilogy juga hadir dalam bentuk kapsul, kantong teh dan minyak. “Ini untuk menjawab permintaan pasar yang semakin tinggi, sekaligus menyesuaikan dengan kebutuhan mereka akan produk superfood,” kata Debora.

Produk superfood Herbilogy ini telah dipasarkan di seluruh Indonesia melalui sejumlah toko online dan jaringan kemitraan. Selain itu, juga hadir di sejumlah retail modern di Jakarta, Bandung, Surabaya, Bali, Lampung, Makassar, Medan dan Pekanbaru.

Perempuan yang tengah mengandung anak kedua itu berharap produk Herbilogy semakin diterima masyarakat. Dengan begitu, kesadaran masyarakat Indonesia untuk pola hidup sehat pun semakin meningkat. Selan itu, tentunya bisnis ini juga dapat mendukung keberlangsungan budi daya petani lokal.

Hal itu sesuai dengan nama Herbilogy yang dipilih karena mengandung arti tanaman herbal (obat) dan pengetahuan (logos).

“Saya memilih nama itu biar terkesan modern dan menarik. Selain itu, karena kami tak sekadar menawarkan produk berbahan tanaman tetapi juga ingin mengedukasi kepada masyarakat cara hidup secara sehat dan alami dengan nilai-nilai luhur tradisional-alami bio diversitas Indonesia melalui cara yang lebih berkelas dan modern,” pungkasnya.

 

===========================================

Debora Gondokusumo

  • Tempat Tanggal Lahir             : Bandar Lampung, 13 Maret 1984
  • Pendidikan Terakhir                : Sarjana Teknik Kimia, University of Michigan, Ann Arbor, AS
  • Nama Perusahaan                    : PT Aevumlab Herba Asia (Herbilogy)
  • Mulai Usaha                            : 2016
  • Jabatan                                    : Founder & Presiden Direktur
  • Produksi                                  : Tiga lini, 13 varian
  • Harga                                      : Rp 58 ribu – Rp 89 ribu/kemasan

=============================================

 

STEVY WIDIA