Aida Nuraida : Membangkitkan Kembali Usaha Kriya Melalui Pemasaran Digital

Aida Nuraida, co-Founder & Chief Marketing Officer Batavia Irmada (Foto: Fahrul Anwar)

YOUNGSTERS.id - Produk kriya adalah salah satu komoditas unggulan industri kreatif Indonesia. Untuk itu karya kreasi anak bangsa ini perlu diapresiasi dan dinilai tinggi.

Berdasarkan data Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), komoditas kriya menempati urutan ketiga pada industri kreatif dengan 15,7%. Tak heran jika sektor ini masih menjadi unggulan, selain fesyen dan kuliner untuk ekspor industri kreatif.

Produk kriya tak hanya membutuhkan kreativitas, tetapi juga inovasi agar dapat bertahan di tengah persaingan yang ketat. Hal itu yang terjadi pada Batavia Irmada, sebuah usaha kecil menengah (UKM) yang menghasilkan kriya berupa miniatur kapal phinisi.

Produk kriya ini menarik karena terbuat dari bahan tembaga yang kuat dengan ukuran panjang 33 sentimeter, tinggi 31 cm, lebar 8-11 cm, dan beratnya dua kilogram. Selain itu, kapal mini ini memiliki aneka motif Nusantara, seperti motif Aceh, Asmat, Dayak, Irian, dan Kalimantan. Sehingga produk ini terkesan eksotis, sekaligus mewah.

Menariknya, tak sekadar mengandalkan keunggulan produk, belakangan UKM ini telah menerapkan konsep pemasaran modern dengan masuk ke dunia digital (media sosial). Bahkan, kini masuk ke e-commerce.

Modernisasi dan perubahan konsep pemasaran di usaha rintisan ini tak lepas dari campur tangan Aida Nuraida, co-founder sekaligus CMO Batavia Irmada. Dia mengubah konsep pemasaran dari usaha yang dirintis bersama orang tuanya itu menjadi lebih kekinian.

“Awalnya kami menjual produk berdasarkan pesanan. Namun kemudian pasar lesu dan usaha ini vakum lama. Kini kami mulai lagi dengan konsep pemasaran baru. Bahkan, kami tak hanya memasarkannya lewat Twitter, Facebook, email atau Instagram, tetapi sekarang produk kami sudah bisa didapat melalui aplikasi blanja.com,” ungkap Aida kepada Youngsters.id.

Rupanya gadis berusia 21 tahun itu tak sekadar menghidupkan kembali produk Batavia Irmada, tetapi mengembangkanya untuk mencapai pasar yang lebih luas. “Filosofi saya dalam berusaha adalah don’t hope till the sky, if the effort just till you knee. Jika memang tidak ada usaha keras jangan berharap hasil banyak. Makanya saya berusaha keras mengembangkan usaha ini ke level yang lebih tinggi,” ungkap Aida.

Oleh karena itu, meski Batavia Irmada masih tergolong UKM, namun Aida berani membawa usaha itu memasuki konsep pemasaran digital. Aida mengakui perubahan itu terjadi sejak mereka bergabung dengan Rumah Kreatif BUMN (RKB) dari PT Telkom Indonesia.

“Perubahan itu terjadi setelah kami bekerjasama dengan Telkom Indonesia. Pokoknya banyak manfaat yang bisa didapat setelah kami bergabung di RKB binaan Telkom ini,” ungkapnya.

 

Miniatur kapal phinisi dari bahan tembaga sebagai salah satu produk unggulan Batavia Irmada (Foto: Fahrul Anwar/Youngsters.id)

 

Vakum

Putri kedua dari Endang Purnama (53) ini mengatakan, bahwa usaha Batavia Irmada ini dirintis ayahnya sejak 1996. Keterampilan sang ayah mengubah lempeng tembagalah yang menjadi awal usaha ini. Bahkan selain miniature kapal phinisi, juga ada produk lain seperti aksesoris, souvenir dan perkakas rumah tangga dari bahan emas, perak, dan mutiara.

“Miniatur kapal phinisi ini ayah yang buat sendiri. Sedang untuk aksesoris dikerjakan bersama karyawan. Waktu itu pembuatan desain mayoritas masih ayah sendiri yang tangani, karena klien lebih sering kontak ke ayah langsung,” ungkap Aida.

Namun usaha ini terhenti pada tahun 2000, dan vakum selama 15 tahun. “Vakum karena biaya tinggi,” ujar Aida. Padahal produk ini sudah sempat mendapat pesanan pelanggan dari Australia, Eropa dan Amerika Serikat. “Para pembeli dulu sudah hilang kontak. Mereka dulu masih menetap di Indonesia, sekarang mereka sudah balik kampung,” kenangnya.

Namun di tahun 2015 usaha ini dihidupkan kembali. Menurut Aida, kini usaha ayahnya menjadi usaha keluarga. Ia dan sang kakak Irvan Fauzi ikut berperan dalam sisi marketing, sementara di sisi produksi sang ayah masih aktif menggarap dibantu tiga karyawan.

“Kami melihat dunia kewirausahaan di Indonesia semakin tumbuh dan berkembang. Karena itu kami berharap dapat kembali memproduksi kerajinan yang bernuansa Indonesia. Apalagi produk yang ayah buat memiliki kualitas yang baik,” ucapnya.

Dengan bermodalkan Rp 30 juta mereka mulai kembali meproduksi 10 miniatur kapal phinisi. Tidak banyak, karena proses produksi miniatur kapal phinisi ini memakan waktu 10-15 hari. Harga satu set miniatur kapal phinisi mulai dari Rp 4,5 juta hingga Rp 7,5 juta. Produk ini pun mulai diperkenalkan kembali ke masyarakat lewat media sosial seperti Facebook dan Instagram. “Kami juga memajang produk di beberapa galeri seperti di Sarinah, Citos dan Pasar Raya,” kata Aida.

Keterbatasan modal dan tenaga membuat omset produk kriya ini masih minim. “Omset kami tidak per bulan tetapi per satu kapal dan itu dengan keuntungan Rp 1-2 juta,” ujarnya. Namun dia tidak putus asa dan terus belajar dan mencari berbagai peluang bagi pengembangan usaha.  “Dengan tambahan modal maka kami dapat menyelesaikan produksi dengan lebih cepat dan untuk membeli bahan tembaga yang memang tidak murah harganya,” ungkapnya.

Aida juga melihat peluang untuk masuk ke pasar e-commerce. Namun dia belum tahu bagaimana caranya. Sampai akhirnya dia mengetahui mengenai program RKB Telkom. Dan memberanikan diri untuk ikut seleksi dan lolos.

 

Kehadiran Aida Nuraida dan kakaknya Irvan Fauzi mampu membangkitkan kembali bisnis kriya kapal phinis yang dirintis bapaknya (Foto: Fahrul Anwar/Youngsters.id)

 

Batu Loncatan

Program RKB Telkom itu menjadi batu loncatan baru bagi produk Batavia Irmada. Melalui program kewirausahaan tersebut Aida mendapat pelatihan dan pembinaan mulai dari pemasaran produk, hingga bagaimana masuk ke pasar yang lebih luas. Bahkan, Aida langsung difasilitasi untuk ikut pameran perdana Telkom Craft.

Menurut mahasiswa semester 8 jurusan Komunikasi Universitas UIN ini mereka baru bergabung pada RKB Tekom pada Februari 2017. Waktu itu Batavia Irmada berhasil lolos seleksi dari 1.600 UKM peserta di Jakarta. Namun manfaatnya sudah mulai dirasakan.

“Yang jelas, kami mendapat pengetahuan tentang kewirausahaan yang benar. Mulai dari bagaimana memahami kualitas produk, memiliki ciri khas serta bagaimana menciptakan sebuah produk yang unik hingga masalah pemasaran produk. Selama proses seleksi itu kami bisa belajar semua tentang kewirausahaan,” ungkapnya.

Alhasil setelah mengikuti program itu, Aida menjadi percaya diri untuk memperkenalkan produk mereka ke masyarakat luas. Jika selama ini mereka hanya memasarkan produk kriya dengan cara konvensional, dari mulut ke mulut dan pasar yang terbatas. Kini mereka tidak saja memanfaatkan media sosial tetapi juga lewat platform e-commerce. Bahkan, mereka berani mengikuti pameran produk kerajinan tingkat nasional di Telkom Craft.

“Otomatis pesanan yang datang dan omsetnya naik drastis setelah pameran itu. Saat ini pesanan sudah banyak berdatangan mulai dari korporat, dan dari beberapa perusahaan BUMN. Bahkan ada juga pesanan yang datang dari kedutaan Saudi Arabia,” klaim Aida.

Kini, selain miniatur kapal pinisi, Batavia Irmada juga memproduksi perkakas lainnya, seperti pisau surat dari bahan perak yang dijual dengan harga Rp750 ribu per buah, penjepit dasi berbahan perak Rp380 ribu, kalung choker berbahan perak Rp925 ribu. Bila dihitung, omzetnya ia katakan bisa sampai Rp70 juta.

“Kami juga mendapat pinjaman dari program smartbusiness untuk menambah modal usaha. Dan yang terpenting kami mendapat jalur ke perusahaan besar dan instansi pemerintah yang terkait dengan pembinaan kewirausahaan,” kata Aida lagi tanpa menyebut besaran pinjaman yang mereka peroleh.

Pastinya, dengan adanya perubahan tersebut, kini produksi Batavia Irmada mulai bergeliat lagi. Bahkan jika produksi terus meningkat, Aida mengaku akan segera merekrut tambahan karyawan untuk produksi. Selain itu, dia juga mulai mencari peluang masuk pasar internasional. “Sekarang produk kami jual masih tataran lokal. Harapan saya ke depan, Batavia Irmada bisa terus memproduksi barang-barang craft yang berkualitas tinggi dan khas Indonesia, serta dapat lebih dikenal hingga ke mancanegara,” pungkasnya.

 

=============================================

Aida Nuraida

  • Tempat Tanggal Lahir             : Jakarta, 9 Juli 1995
  • Pendidikan                              : Komunikasi, UIN Jakarta
  • Nama Usaha                            : Batavia Irmada
  • Jabatan                                    : co-founder, Chief Marketing Officer
  • Mulai  usaha                            : 2015
  • Modal Awal                            : Rp 30 juta
  • Omzet                                     : Rp 30 juta- Rp 70 juta /bulan

============================================

 

FAHRUL ANWAR

Editor : Stevy Widia